Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments

Membaca Tapak Kepemimpinan Jokowi

Membaca Tapak Kepemimpinan Jokowi
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Jokoway

Pengarang: Eko Sulistiyo

Penerbit: Moka Media

Terbit : 2019

Tebal : 223 hal + xxvii

Salah satu pertanyaan penting terkait fenomena politik Joko Widodo (Jokowi) mengapa dia berhasil menang dalam Pemilihan Presiden 2014 dan berpotensi mengulang sukses dalam Pilpres 2019 ini? Jawaban atas pertanyaan itu tentu tidak tunggal.

Dalam suasana kontestasi politik saat ini, jawaban atas pertanyaan itu tentu bisa memantik debat sendiri. Mereka yang tidak mendukung Jokowi pada Pilpres 2014 maupun 2019 akan memberi perspektif berbeda dengan kelompok yang mendukungnya.

Dalam konteks itulah menempatkan buku ini. Sebagai Deputi IV Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, buku ini dalam batas tertentu bisa dianggap sebagai perspektif “orang dalam” Istana terhadap kepemimpinan Jokowi.

Namun demikian, kalau dicermati lebih jauh, buku sebenarnya mengungkapkan beberapa “rahasia” kesuksesan kepemimpinan Jokowi yang belum banyak dibahas. Buku menyebut istilah Jokoway, sebagai jalan kepemimpinan Jokowi sejak menjadi wali kota Solo (2005-2012), Gubernur DKI Jakarta (2012-2014), hingga menjadi presiden (2014-sekarang).

Jokowi tidak hanya menemukan, tetapi juga mengembangkan pola, model, dan gaya kepemimpinan relatif berbeda dengan politisi nasional umumnya. Dalam memimpin pemerintahan, Jokowi tak hanya mengaksentuasikannya dengan cara blusukan, tetapi juga penampilannya yang bersahaja. Ia representasi corak pemimpin populis atau pasca-elite (meminjam istilah Fachry Ali dalam “pengantar”).

Dia bukan hanya karena tidak berasal dari jajaran elite nasional, tapi karena gaya kepemimpinan yang merakyat. Namun sebagai presiden, Jokowi sebenarnya beradaptasi dengan menerapkan (meminjam istilah William Liddle) tipe kepemimpinan transformasional dan transaksional sekaligus.

Ia melakukan perubahan budaya kepemimpinan sekaligus tak mengelak berkompromi dengan kekuatan-kekuatan politik yang dapat menyukseskan agenda-agenda strategis pemerintahannya.

Secara sosio historis, penampilan Jokowi di pentas politik nasional sebenarnya tak serta-merta. Keberhasilannnya di Solo sebagai wali kota modal politik besar untuk naik kelas sebagai tokoh nasional, bahkan internasional.

Ia termasuk salah satu wali kota terbaik Asia dengan segala prestasi. Tak heran, ketika takdir sejarah mendorongnya maju dan terpilih sebagai gubernur DKI dan bahkan presiden ke-7.

Jokowi dilihat publik sebagai alternatif untuk perubahan. Sebab mereka yang tampil sebagai penguasa politik Jakarta dan Indonesia pasca-Orde Baru pada umumnya muka-muka lama yang kurang meyakinkan. Namun, tampilnya Jokowi di panggung politik nasional memiliki tantangan berat.

Utamanya dari oligarki elite dengan posisi-posisi kekuasaan yang terjalin bersama kekayaan personal. Merekalah aktor-aktor yang sangat berkuasa dalam ekonomi politik sejak Orde Baru sampai reformasi.

Mereka tak hanya punya uang, tapi juga kerajaan media, jaringan, dan posisi-posisi strategis partai politik. Tantangan lain, Jokowi bukanlah pemimpin partai. Karena itu, dia harus melakukan kompromi-kompromi tertentu menghadapi realitas politik yang berkembang.

Ia pada awalnya bahkan lone fighter. Begitu memasuki istana, Jokowi seperti pendekar sakti yang berjalan sendirian menghadapi berbagai tekanan politik partai pendukungnya.

Tak heran ketika penyusunan dan perombakan kabinet, harus berkompromi dengan tekanan-tekanan partai pendukung. Namun yang tak terkupas dalam buku ini terkait “resep” kepemimpinan Jokowi, dia pemimpin yang bersih.

Mantan Ketua MK, Mahfud MD, mengatakan, kekuatan utama Jokowi di panggung politik nasional yang sangat keras adalah pemimpin yang relatif bersih dari korupsi atau perbuatan tercela lainnya.  Diresensi Israr Iskandar, Dosen Sejarah Politik Universitas Andalas Padang

 

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment