Memaksa Kehendak Gambut | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments

Memaksa Kehendak Gambut

Memaksa Kehendak Gambut

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Rencana pemerintah membuka lahan persawahan baru demi mengantisipasi ancaman krisis pangan akibat pandemi Covid-19 sebenarnya patut didukung. Alasannya, kebutuhan pangan merupakan faktor penting di saat wabah merebak, terutama untuk menjaga kesehatan tubuh, menjaga daya beli, dan menjaga gejolak harga. Namun, pemilihan lahan untuk persawahan baru tampaknya kurang tepat. Sebab, pemerintah menentukan lahan gambut seluas 900 ribu hektare di Kalimantan sebagai lokasi pengembangan sawah baru.

Padahal, sejarah telah mencatat, kita selalu gagal dalam pengembangan lahan gambut. Malah, proyek-proyek gambut sebelumnya memunculkan masalah lingkungan dan membuat kerugian hingga triliunan rupiah. Sebagai pelajaran, pada sekitar tahun 1995 dibuka Proyek Lahan Gambut (PLG) satu juta hektare di Kalimantan Tengah. Proyek ini membangun sistem tata air dengan mengalirkan air dari Sungai Barito dan Kahayan di hulu, memasukkan ke tengah kubah gambut karena elevasinya lebih tinggi.

Kubah gambut kemudian dibelah dengan pembuatan kanal besar dengan perhitungan air dapat masuk ke kanal, mengalir ke hilir dan kiri kanan kedua sungai secara grafitasi, sebagai sarana irigasi karena elevasinya lebih rendah. Namun apa hasilnya, pembuatan kanal justru menyebabkan gambut ambles. Air sungai tidak masuk ke saluran tersebut, kubah mengering di musim kemarau dan di musim hujan terjadi banjir di daerah hilir.

Ironinya, saat ini, sebagian besar lahan gambut eks PLG telah terdegradasi dan banyak dikuasai untuk budi daya tanaman keras monokultur, di samping banyak yang ditelantarkan karena tidak menguntungkan. Dengan kata lain, pemerintah perlu belajar dari berbagai proses alih fungsi lahan gambut seperti alih fungsi menjadi areal Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit yang telah menyebabkan pengeringan terhadap jutaan hektare lahan gambut.

Pengeringan ini telah menimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi setiap tahun, menimbulkan kerugian besar secara ekonomi, kesehatan, dan sosial. Kerugian dari kejadian karhutla pada tahun 2015 mencapai 221 triliun rupiah, sementara kerugian karhutla tahun 2019 mencapai 73 triliun rupiah. Kerugian ini di luar penghitungan kerugian sektor kesehatan, pendidikan, kehilangan plasma nutfah, emisi karbon, dan lainnya.

Belajar dari dampak program pembangunan satu juta hektare lahan gambut, dan sejumlah uji coba penanaman padi di lahan gambut yang belum menunjukkan keberhasilan, rencana pemerintah untuk mencetak sawah di lahan gambut akan berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan hidup dan sosial budaya. Seharusnya kita mempunyai pemahaman sama tentang gambut.

Kita juga mesti menyadari bahwa fungsi utama lahan gambut adalah pengatur tata air yang akan mencegah terjadinya kekeringan di musim kemarau dan mencegah banjir pada musim penghujan. Lahan gambut yang subur dan terlindungi juga dapat menjadi sumber makanan, air bersih, dan manfaat lainnya bagi masyarakat sekitar. Lahan gambut juga merupakan sangat penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, karena menyimpan 30 persen karbon di tanah, dan merupakan habitat bagi berbagai jenis  ora dan fauna penting bagi keanekaragaman hayati.

Selain itu, perlu dipertimbangkan juga terkait dengan perencanaan. Sebab, saat ini menjadi lebih rumit karena berbagai pihak secara legal maupun ilegal sudah memiliki status penguasaan. Belum lagi terkait dengan tumpang tindih di wilayah yang sama ada. Secara biofisik lahan terdegradasi memerlukan pembenahan yang cukup mahal. Masih banyak cara meningkatkan produksi pangan selain di lahan gambut.

Jadi, jangan proyek terus dipelihara di kepala. Seperti, pemerintah bisa mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan terlantar dan kritis (degraded land). Mengidenti- fikasi lahan-lahan Hak Guna Usaha yang terlantar atau tidak dimanfaatkan dan memanfaatkannya sebagai lahan pertanian. Pilihan lain, pemerintah memperbaiki sarana irigasi bagi sawah yang masih ada, sehingga IP (Indeks Panen) dapat ditingkatkan menjadi 200 atau bahkan 300, bahkan potensi IP 400 bila disertai pengembangan varietas unggul umur pendek dan produksi tinggi dan air terjamin ketersediaannya.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment