Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments

Memaknai Kembali Hakikat Pendidikan

Memaknai Kembali Hakikat Pendidikan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Belajar Mendidik

Penulis : Mardiatmadja

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2017

Tebal : 176 halaman

ISBN : 978-979-21-5407-8

 

Salah satu penyempitan makna pendidikan menganggap hanya dilakukan guru dan dilangsungkan di sekolah. Hingga beberapa puluh tahun, masyarakat Indonesia belajar menerima bahwa anaknya harus masuk sekolah jika ingin dikatakan terdidik. Tidak jarang, orang mengatakan bahwa guru adalah tokoh pendidikan paling penting.

Padahal harus dicermati bahwa tindakan mendidik itu dilakukan bisa oleh orang tua atau guru. Sesungguhnya setiap bangsa, lepas dari ada atau tidaknya guru yang kompeten atau tidak, senantiasa melakukan kegiatan mendidik (hal 13). Inilah yang ditekankan buku. Menjadi bapak dan ibu juga merangkum panggilan untuk mendidik generasi baru pada langkah perdana. Mengajari anak mengucapkan “terima kasih” setiap diberi makanan dan minuman juga merupakan pendidikan dalam arti luas.

Ki Hadjar Dewantara mengatakan setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Jadi, mendidik bukan hanya tugas guru. Pendidikan bukan hanya di sekolah. Semua pihak bertanggung jawab atas pendidikan, terutama orang tua. Justru, orang tua adalah pendidik utama. Tidak lantas orang tua bebas atas tanggung jawab ketika “menitipkan” anak di sekolah.

Pendidikan mempunyai beberapa sasaran agar seseorang bersemi secara fisik-biologis, tumbuh secara afektif dan terintegrasi secara sosial. Kemudian, mekar secara nalar, beraneka warna dari sudut aktivitasnya yang bertanggung jawab dan mendalam secara spiritual (hal 28).

Pendidikan yang baik mengembangkan nalar dengan banyak diskusi dan perdebatan agar dapat saling belajar. Dengan bernalar, orang belajar mensistematiskan hasrat ingin tahunya. Dia menumbuhkan sikap penelitian dan berkembang jiwa keilmuannya. Perkembangan nalar bukan hanya di sekolah. Sepanjang hari anak harus mengasuh nalarnya. Masyarakat dapat membantu dengan menyediakan ruang untuk berdiskusi, bekerja sama, dan memberikan pengakuan.

Namun, pendidikan bisa menghambat nalar. Salah satunya memperbanyak tugas menghafal. Nalar dirusak ketika orang dipaksa untuk menjadi robot atau menjadi bagian gerombolan manusia yang digerakkan oleh motor ideologis atau fanatisme sektarian (hal 35). Inilah yang masih terjadi dalam dunia pendidikan nasional. Siswa masih dijejali dengan hafalan-hafalan yang mematikan nalar. Siswa harus menjadi seperti keinginan guru. Pendikan adalah usaha untuk menjadikan siswa sebagai dirinya sendiri. Pendidikan bukan kotak mati.

Dalam mengajar, kita membutuhkan seorang guru yang mampu menghayati perannya secara etis. Seorang guru harus memerhatikan etikanya karena akan menjadi teladan bagi siswanya. Untuk memberikan keteladanan tentang etika, terlebih dulu seorang guru memiliki etika yang luhur.

Akhirnya, semua pihak sekadar membantu tugas pokok orang tua (hal 110). Setiap keluarga sebagai elemen terkecil penyusun negara, menyadari tugas ini. Di antara semua yang membantu orang tua, berdirilah sekolah. Dalam sekolah, gurulah yang bertugas mendidik.

Dalam menjalankan tugas, guru dan sekolah dibantu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jadi, arah seluruh pendidikan dilakukan agar memberikan fasilitas supaya proses pendidikan dapat sampai pada muaranya, bangsanya semakin baik.


Diresensi Supadilah, Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment