Koran Jakarta | February 24 2018
No Comments

Memahat Kebaikan Abadi lewat Kemuridan

Memahat Kebaikan Abadi lewat Kemuridan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Buku Panduan Pembuat Murid

Penulis : Bobby Harrington dan John Patrick

Penerbit : Katalis

Cetakan : September 2017

Tebal : xii + 218 halaman

ISBN : 978–602- 60297-4-4

 

Buku ini diawali dengan kritikan tajam disorientasi sebagian umat Kristiani tentang perbuatan paling berharga demi kebaikan kelak ketika mereka sudah tiada. Disorientasi tersebut disebabkan beragam mitos yang memperdaya pikiran mereka, misalnya mitos keberhasilan karier, kenyamanan, kedermawanan, kekayaan, dan kekuasaan. Mitos tersebut telah meluruhkan kesadaran bahwa semua itu hanya fatamorgana untuk dijadikan benih kebaikan abadi.

Buku ini mengingatkan, manusia tidak akan bisa mencapai kesempurnaan hidup dengan rancangan sendiri. Mereka harus mengikuti model absolut yang dalam bentangan sejarah telah terbukti kebenaran-Nya. Dialah Yesus. Hiduplah seperti yang pernah dilakukan Yesus. Salah satunya berupa kemuridan sebagai bagian program penyebaran ajaran ketuhanan dengan paket strategi luar biasa. ”Anda dapat berbuat lebih banyak dengan 12 murid daripada 1.200 pemeluk agama,“ kata Alan Hirsch (hlm 19).

Tugas murid membawa manusia ke dalam ajaran Yesus. Ini bisa dipahami dari perkataan Yesus dalam Injil Matius 4: 19, “Yesus berkata kepada mereka: ‘Mari ikuti Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Definisi murid adalah seorang yang mengikuti Yesus. Dia rela diubah oleh Yesus dan taat melakukan misi Yesus (hlm 44).

Buku tulisan Boby Harrington dan Jose Patrick ini mengisahkan usaha yang dilakukan perusahaan Coca-cola menghadapi eskalasi penjualan Pepsi. Pemimpin perusahaan Coca-cola menggambar kotak dan minta para pegawai menulis identitas Coca-cola dalam satu kata. Taste atau rasa merupakan kata yang disepakati mewakili indentitas Coca-cola. Lahirlah produk New Coke yang berakhir pada kerugian luar biasa.

Perusahaan segera mengevaluasi dan mengarahkan identitas pada awal berdirinya perusahaan besar tersebut. Akhirnya, disepakati kata tradisi sebagai identitas Coca-cola. Lahirlah Cola- cola Classic yang mengembalikan cita rasa Coca-cola seperti pertama kali dicipta. Penjualan produk tersebut jauh melampauai Pepsi (hlm 24).

Umat Kristiani juga harus bisa menentukan kata Yesus sebagai identitas. Yesus adalah pondasi awal kekristenan jauh sebelum Kristen menjadi nama resmi agama. Yesus juga menjadi sumber awal setiap kerohaniaan sebelum menjadi ritual formal di dalam Gereja. Yesus juga menjadi sosok yang diteladani sebelum korpus etika lahir. Cara hidup-Nya adalah segalanya. Dia hidup untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan siksa abadi. Dia mengangkat 12 murid sebagai juru warta keselamatan yang akan mengganti peran-Nya.

Proses kemuridan Yesus sangat intensif. Dia lebih banyak bersama murid-Nya. Ada 17 kali bersama umat, namun 46 kali bersama 12 murid. Bahkan Bill Hull berpendapat lebih tegas, Yesus menghabiskan 90 persen hidup-Nya bersama keduabelas murid-Nya (hlm 30). Kebersamaan yang dominan ini demi terbentuknya intensitas penyampaian dan penyerapan ajaran.

Selain memberi contoh urgensi kemuridan dan pelaksanan, Dia juga memberi perintah langsung kepada umat-Nya untuk melakuan hal tesebut seperti tertulis dalam Injil Matius 28:19, “Karena itu pergilah. Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Buku ini juga menjelaskan gaya hidup kemuridan berupa pelibatan Yesus sebagai esensi setiap aktivitas. Dia dijadikan fokus karena Juruselamat dan Tuhan.

Kemuridan adalah pelipatgandaan “juruselamat” yang akan memperluas cakupan ajaran Yesus itu sendiri. Dari seorang Yesus, lahirlah pengganti 12 “juruselamat” yang mewartakan ajaran-Nya. Dari 12 orang, tumbuh ratusan, bahkan hingga sekarang ribuan “juruselamat” yang intens mewartakan ajaran Yesus sekaligus melakukan kemuridan serupa (hlm 184). Layak pahami, kemuridan merupakan kebaikan abadi yang tidak lapuk di makan zaman. Sebab kebaikan tersebut akan terus disebarkan ke murid lain secara generatif hingga akhir zaman. 

Diresensi Muhammad Aminulloh, Lulusan STAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment