Koran Jakarta | February 22 2017
No Comments

Memahami Tuhan yang Asyik secara Holistik

Memahami Tuhan yang Asyik secara Holistik

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

 Judul : Tuhan Maha Asyik

Pengarang : Sujiwo Tejo dan Dr MN Kamba

Penerbit : Penerbit Imania

Cetakan : I, November 2016

Tebal : 245 halaman

ISBN : 978-602-7926-29-5

Berbicara mengenai Tuhan sering kali dikaitkan dengan agama. Banyak yang mengeklaim Tuhan dengan berbagai definisikan. Manusia yang sok pintar mengartikan Tuhan. Padahal tidaklah demikian. Tuhan tak terdefinisikan. Lewat pemikiran dan dialog anak kecil dalam buku ini, pembaca diingatkan tentang Tuhan. 

Melalui cerita wayang, marhaen, cacing, zat, gincu, Antareja, nyawa, ketombe, komat-kamit, tersesat, diri, dan lainnya buku berbagi cara memahami Tuhan yang penuh cinta, kekal dan abadi. Buku ini terdiri dari sejumlah cerita.

Contoh dalam cerita “Wayang”, manusia diibaratkan sebagai wayang dan Tuhan sebagai dalangnya. Wayang dimainkan dalang. Semua terjadi atas kehendak dalang. Namun, tidak demikian dengan wayang orang karena setiap pemain punya kehendak. Guyonan, celetukan, dan lain-lain, hasil improvisasi pemain sendiri di luar kehendak dalang (halaman 17). 

Namanya juga Tuhan, maka kekuasaan-Nya absolut. Tiada yang terjadi di luar kehendak-Nya. Manusia menjalani kehendak Tuhan, baik melalui kehendaknya sendiri maupun kehendak Tuhan secara langsung (halaman 19). 

Sering kali manusia menganggap kemauannya sebagai kehendak Tuhan. Ketidakmampuan manusia memahami kehendak Tuhan sering menimbulkan masalah. Tidak ada mekanisme yang dapat digunakan memastikan bahwa kehendak manusia bukan milik Tuhan dan sebaliknya. Namun setiap kebaikan adalah kehendak Tuhan. 

Kebiasaan yang dilakukan terus-menerus seolah sudah menjadi karakter. Hal ini bukan berarti tidak bisa berubah. Mindset atau cara pandang sangat ditentukan pengalaman dan pendidikan. Pemaknaan akan Tuhan ditentukan cara pandang yang dipengaruhi lingkungan, pengalaman, dan pendidikan. Namun, hal itu sering kali terpengaruhi oleh mainstream. Padahal, mainstream terbentuk karena indoktrinasi. Mainstream memengaruhi mindset, termasuk dalam perilaku keberagamaan. 

Tulisan “Diri” menceritakan orang gila yang berbicara sendiri. Bukan orang yang berbicara terus seperti Ny Christine yang selalu capcipcus mengomeli anaknya. Namun, dalam keheningan orang yang dianggap gila itu masih berbicara, walau tidak melalui mulut. 

Hal ini dianalogikan bahwa dalam hening manusia menyatu dengan jati diri sesungguhnya. Ini tada lain cermin cahaya Tuhan (halaman 111). Tuhan mewujudkan diri-Nya dalam jiwa manusia sebagai cermin. Tuhan yang Mahabaik. 

Ketika manusia memandang cermin, bukan kaca yang dilihat, namun dirinya. Ketika manusia berbuat baik pada orang lain, sejatinya dia berbuat baik untuk diri sendiri. Demikian juga ketika dia menyakiti sesama, justru menyakiti diri sendiri. Jadi, wajar saja jika orang menyakiti diri sendiri dianggap gila. Namun, lebih gila lagi jika agama dan atas nama Tuhan menjadi alasan untuk membenci dan menyakiti (halaman 114). 

“Mengingat” menjadi cerita penutup buku Tuhan Maha Asyik lewat perbincangan Christine, Dharma, Samin, dan Parwati. Manusia harus selalu mengingat Tuhan agar tidak terperangkap dalam cara pandang yang terbentuk dari nafsu diri. 

Mengingat Tuhan adalah kembali kepada kesejatian diri, di mana Tuhan terasa begitu dekat. Semakin dekat kepada Tuhan, manusia tambah termanifestasi pula sifat-sifat kebaikan dan kesempurnaan-Nya pada dirinya. 

Ini salah satu fungsi agama yang juga esensial. Agama membimbing umat manusia kembali pada kesejatian diri masing-masing (halaman 230). 

Diresensi Yudadi BM Tri Nugraheny, Alumna Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment