Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments

Memahami Spiritualitas Jalan Penderitaan

Memahami Spiritualitas Jalan Penderitaan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Ketika Salib Terasa Berat
Penulis : Dr Josep Susanto, PR
Penerbit : Obor
Cetakan : Maret 2018
Tebal : 177 halaman
ISBN : 978–979- 565-808-5

Semua orang pernah menderita dan mungkin juga akan meng­alami lagi. Apa pun bentuknya, penderitaan merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup manusia. Za­man dulu malahan ada orang yang sengaja menyakiti diri untuk mende­katkan diri pada Tuhan. Bahkan, ada cukup banyak zaman dulu orang yang kecukupan hidupnya, sengaja mening­galkan segala kekayaan dan harta untuk hidup miskin.

Di dalam Gereja yang terkenal untuk langkah meninggalkan kekayaan antara lain Santo Fransiskus Asisi. Dia sengaja meninggalkan harta untuk hidup mis­kin. Langkah ini pula dijalani untuk mempraktikkan ajaran Yesus. Itu dapat dikatakan sebagai bentuk memanggul salib. Injil Markus 8:34 dengan jelas me­nyebutkan, siapa pun yang mau meng­ikuti Yesus harus siap memanggul salib.

Ini lalu dikutip dalam halaman x bahwa penggunaan kata “salib” untuk memaknai penderitaan telah menjadi identitas Kristiani karena selaras dengan pengorbanan, per­juangan, dan penderitaan Kristus di kayu salib dalam menebus dosa ma­nusia.

Fransiskus mungkin mendapat inspirasi dari tokoh-tokoh dalam Alkitab yang begitu kuat menanggung derita demi mengikuti ajaran Tuhan. Sebut saja Bunda Maria yang begitu tabah menjadi Ibu Yesus dan mendam­pingi saat Sang Putra harus wafat di kayu salib. Bayangkan betapa hancur hatinya, sebagai seorang Ibu, melihat Putranya disiksa dan dibunuh dengan begitu kejam dan Bunda Maria tabah menjalaninya. Maria tegar karena di balik tetes darah tubuh-Nya adalah pelebur dosa umat manusia. Dia bisa menahan penderitaan sebagai seorang Ibu dengan satu keyakinan, kematian Yesus tidak sia-sia.

Buku ini memaparkan 60 kisah tokoh di dalam Alkitab yang tangguh, teguh, dan setia. Mereka melihat dan merasakan penderitaan dalam kaca­mata iman. Dengan tabah berhadapan dengan penderitaan tersebut, mereka bisa merasa penderitaan sebagai jalan mengikuti Tuhan. Umat harus belajar bahwa penderitaannya tidak seberapa dibanding mereka, sehingga tidak ada alasan untuk putus asa, lalau menye­rah. Kemampuan melewati penderitaan menjadi pencerahan spiritual.

Menurut Yesus, penderitaan tak terpisahkan dari perutusan-Nya. Di sisi lain, Dia juga berpesan agar umat-Nya berjuang keluar dari penderitaan. “Berjuanglah untuk melalui pintu yang sesak itu. Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha masuk, tetapi tidak dapat,” kata Yesus dalam Lukas 13:24 (hlm 38).

Setiap ada penderitaan tak bisa di­tafsirkan bahwa Tuhan meninggalkan umat sendirian. Dalam pederitaan, Dia datang menyertai dan membantu untuk melepaskan diri. Penderitaan harus dilihat sebagai jalan mende­katkan diri dengan Tuhan. Lihat saja para nabi yang juga mengalami ber­bagai penderitaan dalam mewarta­kan wahyu ilahi. Demikian juga para rasul seperti Paulus dan Petrus yang begitu besar penderitaan mereka. Jangan takut menderita untuk Tuhan (halaman 40).

Penderitaan tak selalu negatif ka­rena melaluinya manusia dikuatkan. Kadang penderitaan juga menyadarkan agar manusia menyadari keterbatasan­nya. Kuncinya adalah iman. Siapa pun dan apa pun keadaan manusia, asal memiliki iman yang kuat, dia akan mampu melewati penderitaannya. Ba­nyak kisah bahwa iman seseorang telah menyelamatkan.

Yang percaya Yesus akan disembuh­kan. Lihat saja kisah 10 penderita kusta yang disembuhkan Yesus dalam Lukas 17:11–19, “Lalu Yesus memandang me­reka dan berkata: pergilah. Perlihatkan dirimu kepada imam-imam. Semen­tara mereka di tengah jalan menjadi tahir.” Karena percaya, semua sembuh. Sayang, hanya satu yang kembali kepada-Nya untuk mengucap syukur. Nah, sudahkah kita bersyukur atas ba­nyak anugerah Tuhan?

Diresensi Erni Damayanti, Tinggal di Jakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment