Koran Jakarta | September 23 2018
No Comments
Homework Rescue

Memahami Proses Belajar dengan Cara Menyenangkan

Memahami Proses Belajar dengan Cara Menyenangkan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Zaman sekarang banyak orang tua yang lebih fokus pada hasil belajar anak ketimbang proses belajarnya.

Menurut Ajeng Raviando, psikolog anak dalam acara HP Homework Rescue beberapa saat lalu, tidak sedikit orang tua yang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) anaknya guna mendapatkan nilai yang tinggi. “Padahal fungsi utama PR itu untuk mengukur kemampuan anak, kalau orang tua yang mengerjakan berarti yang diukur kemampuan orang tua,” kata Ajeng.

Ia menambahkan, karena saking fokusnya orang tua pada prestasi anak sehingga sejak usia dini dan mulai mendaftarkan anaknya ke bimbingan belajar. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang salah karena bagaimana pun anak memang perlu diasah. Tetapi, menurut Ajeng, ada baiknya orang tua cari tahu dahulu apakah memang anak membutuhkan kegiatan belajar tambahan atau les atau tidak.

“Karena ada anak yang ikut les seperti itu senang dan ada juga yang harus dipaksa. Kan sayang kalau anak harus melakukan hal yang tidak menyenangkan untuknya,” katanya.

Menurutnya, sesuatu yang dikerjakan dengan perasaan senang akan menghasilkan sesuatu yang positif. Sebaliknya, jika tidak maka akan merugikan si anak sendiri meskipun menurut orang tua hal tersebut baik untuknya. Namun karena fokus terhadap kemampuan akademisnya saja membuat orang tua menjadi lupa mengasah kemampuan dan potensi anak yang mengakibatkan anak kurang mengetahui ke mana arah bakat dan minatnya. Meskipun tolok ukurnya tidak bisa dilihat sejak usia muda.

“Jadi memang ada yang sudah kelihatan bakatnya sejak kecil semisalnya aktif renang, atau suka musik, sehingga bisa diidentifikasi sejak kecil, tetapi ada juga yang tidak,” ujar Ajeng.

Ia menambahkan ada baiknya jika orang tua yang memiliki anak dengan bakat dan minat tertentu dapat menyalurkan hal tersebut, karena tidak semua orang beruntung menemukan bakat dan minat dalam dirinya sejak usia muda.

Ajeng pun mengatakan bahwa tidak perlu ada pemikiran sayang sekali jika hingga usia dewasa anak masih belum mengetahui bakat dan minatnya. “Yang lain juga masih banyak kok yang menggali potensi yang dimilikinya, jadi tidak perlu ada pemikiran yang sayang sekali belum tahu bakatnya atau telat mengetahui bakatnya,” tutup Ajeng.

Zaman Telah Bergeser

Setiap anak memiliki kemampuan, bakat, dan minatnya masing-masing, termasuk juga cara belajarnya. Berbeda dengan beberapa tahun lalu yang masih mengartikan belajar sebagai kegiatan yang membosankan dengan membaca buku di atas meja dan duduk dengan tenang, kini zaman telah bergeser.

Kegiatan belajar bisa dengan mudah dilakukan di mana saja dan bersamaan dengan melakukan kegiatan lain. Hal itu tentunya kerap menimbulkan pertanyaan di benak orang tua, apakah anak tersebut benar sedang belajar atau tidak.

“Kalau orang tua zaman sekarang itu kelemahannya adalah mereka kurang bisa multi tasking, sedangkan anak-anak sekarang terbiasanya dengan multitasking,” tutur Ajeng.

Ia mengaku tidak sedikit orang tua yang mengeluh dan gemas dengan cara belajar anaknya yang disebut berbeda dengan cara belajar pada zamannya dulu. Anak-anak memiliki gaya belajar tertentu seperti belajar sambil mendengarkan musik, menggunakan gambar, atau ada juga yang sambil melakukan gerakan. Ada juga yang belajar di kafe, taman, dan tempat umum lainnya. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan persepsi zaman dahulu yang umumnya mendatangi kafe dan taman sebagai tempat bertemu, berkumpul, atau bersenang-senang.

Namun, kembali lagi ke pada anak tersebut. Jika ternyata ia tidak kesulitan atau terganggu saat belajar di tempat umum dan keramaian, berarti memang seperti itu cara belajarnya. “Jadi mindset orang tua yang harus diubah mengenai hal ini sehingga bisa mengakomodasi anak lebih baik karena gaya belajar zaman dulu dan generasi sekarang itu berbeda. Karena apa yang dilakukan dengan hati biasanya lebih mudah diserap,” jelasnya.

Terapkan Pola Asuh Positif

Menerapkan pola asuh positif menurut Ajeng dapat bantu menerapkan disiplin yang efektif pada anak tanpa kehilangan momen menyenangkan. Umumnya orang tua mengenal dua tipe pola asuh, authoritarian dan permissive.

Orang tua zaman dahulu umumnya menganut pola asuh authoritarian yang serba kaku, terlalu patuh pada aturan, tidak fleksibel dan strict. Akibatnya anak tidak memiliki ruang atau celah untuk perkembangan kreativitasnya karena selalu dibatasi.

Berbeda lagi dengan pola asuh permissive, di mana orang tua terlalu membiarkan anak dan memberikan kebebasan tanpa batas. Kebebasan tersebut bisa saja menjadi anak lebih kreatif dan mandiri, tetapi akibatnya anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

“Maka dari itu, pola asuh positif yang menggabungkan antara kasih sayang dan disiplin dapat diterapkan sejak dahulu,” ujar Ajeng.

Pola asuh positif adalah pola asuh yang menekankan pada sesuatu yang positif, bukan seperti dalam kondisi yang menyalahkan anak dan melihat dari sisi negatif anak. “Jadi fokus ke sisi positif anak dan anak punya kesempatan untuk bersuara,” tambahnya.

Semisal anak mendapat hasil ujian yang buruk, jangan langsung mengomeli atau berbicara hal yang negatif mengenai hal tersebut. Tapi coba melihat bahwa anak memiliki suatu keunggulan lainnya dan dorong anak dari sisi positif tersebut.

Melakukan disiplin fisik juga saat ini sudah bukan zamannya. Selain dapat menimbulkan trauma di masa depan pada anak, melakukan disiplin fisik juga dapat meningkatkan angka perceraian dan secara tidak langsung membuat mata rantai untuk generasi penerus melakukan hal yang sama sebagai bentuk pola asuh yang salah. 

 

gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment