Memahami Perilaku Konsumen Akibat Dampak Covid-19 | Koran Jakarta
Koran Jakarta | October 31 2020
No Comments
Social Distancing

Memahami Perilaku Konsumen Akibat Dampak Covid-19

Memahami Perilaku Konsumen Akibat Dampak Covid-19

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Pandemi Covid-19 terus merangsek semua lini kehidupan, tanpa kecuali. Berbagai upaya pencegahan pun telah dilakukan pemerintah, termasuk upaya penyelamatan ekonomi. Salah satunya dengan social distancing.

 

Imbauan untuk melakukan social distancing, yang diumumkan Presiden pada pertengahan Maret lalu, membuat aktivitas warga Jakarta berkurang. Dibandingkan dengan akhir Februari 2020, jumlah orang yang beraktivitas di area Central Business District Jakarta berkurang sebanyak 53 persen hingga pekan ke 3 Maret.

Tidak hanya aktivitas di area bisnis saja yang berkurang. Jumlah individu yang melakukan perjalanan ke luar kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Bali pun berkurang hingga pekan ke-3 Maret. Kunjungan ke Bali misalnya, berkurang sebanyak 33 persen jika dibandingkan dengan Februari. Sementara kunjungan ke Bandung dan Yogyakarta berkurang 35 persen.

Kunjungan ke pusat perbelanjaan (mall) juga berkurang. ADA mencatat adanya penurunan kunjungan ke mall besar di Jakarta sejak 15 Maret. Rata-rata penurunan kunjungan di beberapa mall tersebut berkisar lebih dari 50 persen dibandingkan dengan awal 2020.

“Covid-19 telah mengubah kehidupan kita. Dalam situasi seperti ini, kita lebih memilih untuk berdiam di rumah dibandingkan bepergian. Social distancing juga membuat kita banyak menghabiskan waktu di ruang digital. Baik untuk bekerja, berkomunikasi, berbelanja, atau bahkan sekadar mencari hiburan,” ujar Kirill Mankovski, Managing Director ADA Indonesia.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang data dan artificial intelligence (AI), ADA melakukan analisis data terhadap perubahan konsumen di beberapa negara termasuk Indonesia. Situasi pandemi rupanya memunculkan perilaku konsumen baru, yang berbeda-beda di setiap negara Asia Tenggara.

Di Indonesia, situasi pandemi dan social distancing memunculkan beberapa perilaku baru, misalnya, The Adaptive Shopper dan Working-from-home Professional. Perubahan ini dilihat dari penggunaan aplikasi belanja dan produktivitas sepanjang Maret. Data ADA menunjukan, kedua jenis aplikasi ini paling banyak digunakan masyarakat Indonesia, terutama di kalangan menengah dan atas.(hay/R-1)

Munculnya Gaya Hidup Baru

The Adaptive Shopper. Sejak social distancing diumumkan, penggunaan aplikasi belanja mengalami kenaikan hingga 300 persen. Aplikasi yang banyak digunakan adalah aplikasi belanja yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, juga aplikasi khusus jual-beli barang bekas. Penggunaan aplikasi jenis ini mengalami puncaknya pada 21-22 Maret, hingga lebih dari 400 persen.

“Masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah dan atas, telah beradaptasi dengan dunia baru ini. Mereka beralih ke cara-cara baru untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya,” ujar Kirill.

Working-from-home Professional. Bagi sebagian besar pekerja di Indonesia, working-from-home sama seperti bekerja pada situasi normal. Mereka tetap melakukan pekerjaan, kolaborasi, komunikasi, dan meeting seperti biasa. Hanya saja, semua pekerjaan dilakukan di rumah dengan bantuan aplikasi produktivitas.

Data ADA mencatat adanya peningkatan penggunaan aplikasi produktivitas selama Maret, terutama setelah imbauan social distancing diumumkan. Penggunaan aplikasi produktivitas naik hingga lebih dari 400 persen pada pertengahan Maret lalu. Aplikasi yang paling banyak digunakan adalah aplikasi screen recorder dan anti-virus.

“Setiap orang bereaksi dengan cara yang berbeda-beda terhadap situasi krisis, seperti pandemi. Ini yang menyebabkan perbedaan crisis persona di Indonesia dengan negara Asia Tenggara lainnya. Kami melihat, masyarakat Indonesia cepat beradaptasi untuk memenuhi kebutuhannya, dan berusaha untuk tetap produktif,” tukas Kirill.(hay/R-1)

Melakukan Aktivitas Pemasaran

Covid-19 juga menyebabkan kepanikan di pasar keuangan. Banyak industri yang merasakan dampak dari situasi ini, misalnya travelhospitalityFnB, otomotif, dan hiburan.

Dalam situasi seperti ini, banyak perusahaan dan brand menahan aktivitas pemasarannya untuk sementara waktu. Beberapa bahkan menahan aktivitas tersebut hingga situasi mulai normal dan terkendali. Hal ini menyebabkan berkurangnya aktivitas pemasaran secara umum.

“Sebetulnya, brand dapat memanfaatkan situasi ini untuk membentuk kebiasaan baru, serta mengubah channel komunikasi dan penjualannya ke ruang digital. Kebiasan baru yang terbentuk ini akan tetap bertahan meskipun situasi kembali normal,” ujar Kirill.

Merujuk pada crisis persona, minat berbelanja masyarakat Indonesia tidak hilang. Terutama untuk belanja online, minat tersebut justru tumbuh pesat selama situasi krisis ini berlangsung. Dengan ditutupnya mayoritas pusat perbelanjaan, belanja online menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan, mulai dari harian hingga hobi.  

Melihat minat belanja yang tidak reda, hal ini membuka peluang bagi bisnis perbankan, finansial, dan servis keuangan lainnya. Apalagi, beberapa platform jual-beli online menganjurkan pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi secara cashless dengan memanfaat servis pembayaran seperti kartu kredit, transfer, atau e-wallet.

Bagi Kirill, ini merupakan saat yang tepat bagi bisnis perbankan, finansial, dan servis keuangan untuk melakukan pemasaran. Para pemain di industri ini dapat memanfaatkan ruang digital untuk melakukan promosi kepada pengguna loyal, atau bahkan menjangkau pengguna baru. Di saat seperti ini, mayoritas masyarakat cenderung memilih transaksi cashless demi menjaga kesehatan.

Di sisi lain, komunikasi pemasaran harus tetap dilakukan untuk menjaga posisi sebuah brand di benak konsumen. Dengan tetap menjaga posisi tersebut, akan lebih mudah bagi brand atau perusahaan untuk melakukan pemulihan bisnis pada saat situasi kembali normal.

“Sebagai sebuah perusahaan yang didesain untuk menghasilkan solusi pemasaran digital, kami membantu brand mengenali perilaku konsumennya. Kami memberikan insights, analisis dan solusi yang dapat dikembangkan menjadi rencana pemasaran digital. Melalui laporan perilaku konsumen ini, kami berharap brand tetap dapat melakukan komunikasi pemasaran di tengah situasi krisis,” tutup Kirill.(hay/R-1)

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment