Memahami Keadilan dalam Kacamata Rawls | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 21 2020
No Comments

Memahami Keadilan dalam Kacamata Rawls

Memahami Keadilan dalam Kacamata Rawls

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Keadilan merupakan nilai penting masyarakat dalam menjalani kehidupan bersama. Sayang, yang terjadi di setiap lapisan masyarakat justru ketidakadilan. Ini diperburuk sikap apatis negara sehingga yang mengalami ketidakadilan harus berjuang sendiri.

Pantaslah bila keadilan menjadi topik yang tidak pernah habis. John Rawls satu dari sekian banyak pemikir yang tertarik isu keadilan. Penulis buku Theory of Justice ini hendak mengkritisi cara pandang masyarakat yang begitu dipengaruhi pendekatan para utilitarian dalam memahami keadilan.

Utilitarianisme berangkat dari pemahaman, adil itu membawa kepuasan, kemanfaatan, dan kesejahteraan semakin banyak orang (hlm 7). Artinya, sesuatu yang semakin tidak membawa kepuasan, kemanfaatan, dan kesejahteraan bagi banyak orang dapat dikatakan bentuk ketidakadilan.

Dalam suatu kasus, sekelompok masyarakat yang memiliki identitas X harus menerima kenyataan tidak mendapat izin untuk mendirikan tempat ibadah di lingkungannya. Hal itu diakibatkan atas kesepakatan yang disetujui oleh kelompok yang memiliki identitas Y sebagai mayoritas dalam lingkungan tersebut.

Dalam kacamata utilitarian tentu itu tidak menjadi masalah mengingat suatu keputusan semakin membawa kepuasan, kemanfaatan, dan kesejahteraan bagi banyak orang, maka itu disebut sebagai keadilan. Artinya, sesuatu adil jika itu mengikuti suara terbanyak dalam suatu pengambilan keputusan.

Konsekuensinya, Rawls hendak mengutarakan kritiknya bahwa keadilan pada dasarnya tidak hanya tertuju pada suara terbanyak. Tidak juga terbatas pada kebebasan semata, tetapi juga perlu memperhatikan nilai kesetaraan setiap pihak. Usahanya tidak berhenti pada batas kritiknya terhadap model keadilan utilitarianisme.

Ia juga membangun prinsip-prinsip keadilan yang pantas ditetapkan dalam suatu masyarakat. Rawls memulai dengan menelusuri dulu dimensi yang diterapkan masyarakat dalam membentuk prinsip-prinsip keadilan. Menurutnya, keadilan tidak terbatas pada rasionalitas individual yang hendak memutuskan prinsip keadilan. Pembentukan dan pemutusan prinsip keadilan harus memperhatikan lebih lanjut dimensi sosial dan moralnya (hlm 108).

Pada dimensi sosial, keadilan harus bersifat timbal balik yang mengindikasikan pertama-tama bukan bertumpu pada keuntungan diri sendiri, melainkan pada prinsip-prinsip kerja sama sosial. Sebaliknya, secara moral, keadilan harus mengedepankan sifat tidak memihak. Singkatnya, keadilan harus bertumpu pada gagasan timbal balik gagasan tidak memihak dan saling menguntungkan.

Setelah memahami konteks masyarakat dan menentukan kondisi-kondisi yang tepat, Rawls melanjutkan gagasannya dengan mengusungkan prinsip kebebasan dan persamaan sosial ekonomi. Ini dilengkapi prinsip perbedaan dan persamaan kesempatan (hlm 132).

Prinsip pertama dapat dipahami sebagai skema keadilan politis. Di mana setiap orang memiliki tuntutan sama terhadap hak-hak dan kebebasan dasar bidang politik. Lalu, skema lain menekankan kondisi yang perlu dipenuhi. Tidak ada posisi-posisi dan jabatan-jabatan yang tidak terbuka bagi semua di bawah kondisi-kondisi kesetaraan kesempatan yang adil. Kemudian adanya pemberian keuntungan terbesar pada masyarakat yang paling kurang beruntung (hlm 134).

Walaupun di akhir Rawls tampak menekankan gagasan keadilannya dalam lingkup politik. Hal itu tidak menunjukkan inkonsistensi pada teori keadilan yang telah dibentuknya.

Justru sebaliknya, Rawls semakin memperkuat teori keadilannya dan menegaskan, keadilan merupakan keutamaan pertama dalam struktur masyarakat. Tentunya ini diikuti kebebasan yang diletakkan dalam sistem yang menjaminnya.

Diresensi Firman Siregar, Alumnus Universitas Kristen Satya Wacana

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment