Koran Jakarta | June 24 2019
No Comments
PERADA

Memahami Islam yang “Rahmatan lil ‘alamin”

Memahami Islam yang “Rahmatan lil ‘alamin”

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

 

 

Membaca buku ini agak sulit tanpa mengaitkan dengan isu agama. Bukan lantaran judulnya tertulis Islam, melainkan karena tulisan-tulisan di dalamnya sangat sesuai dengan keadaan bangsa.

Kontestasi pilpres telah menelorkan isu SARA berkembang biak dengan pesat. Agama menjadi isu yang mudah digoreng dalam kancah perpolitikan. Hingga lahirlah kelompok “Cebong” versus “Kampret” di media sosial. Alih-alih menyejukkan, justru komentar negatif bernada cacian dan hinaan berseliweran tak karuan, hingga mengorbankan pertemanan dan hubungan saudara.

Tak ayal, sikap saling membenarkan pendapat sendiri tak bisa dihindarkan. Bermula dari kegentingan itulah, buku ini hadir sebagai upaya menyejukkan situasi. Pembaca akan dibawa untuk merenungi kehidupan dan memperbaiki kehidupan rohani. Buku ini mengajak memahami agama, khususnya Islam, yang rahmatan lil ‘alamin.

Sehingga Tuhan benar-benar memiliki sifat rahman kepada semua makhluk. Pembaca diajak untuk cermat memilih dan memilah ceramah yang bermanfaat. Sebab dewasa ini, banyak sekali khotbah menyeramkan. Ironisnya, orang-orang yang demam agama menelan mentah-mentah yang disampaikan si dai.

“Cermatilah, kawan-kawan. Ceramah-ceramah dalam bentuk apa pun yang disampaikan siapa pun, termasuk via media digital, jika tidak menyuarakan mau’izhah hasanah, hikmah, dan rahmatan lil ‘alamin, pastilah itu bukan dilakukan oleh ulama pewaris para nabi. Matikan segera channel YouTube yang Anda putar. Jauhilah dia. Sesungguhnya Rasulullah, para sahabat, dan para ulama sesudahnya, tidak mengajarkan kebencian-kebencian dalam perbedaan pandangan dan paham apa pun,” (hal 145).

Jika dicermati, sesungguhnya kekacauan beragama ini bermula daripada nafsu dan akal yang menduduki posisi tertinggi dalam diri. Padahal di dalam kitab Ihya ‘Ulumuddien, Imam Ghazali mengumpamakan tubuh manusia seperti kerajaan, di mana hati sebagai raja dan akal sebagai penasihat.

Mengapa bukan akal yang menjadi raja? Sebab akal selalu menemukan cara untuk membenarkan perbuatan kita. Sedangkan nafsu, dia memiliki peran ganda. Suatu saat menjadi pengawal setia, tapi di sisi lain bisa menjadi pengawal yang berkhianat pada raja. Jika seseorang menggunakan akalnya sebagai raja, besar kemungkinan nafsu menjadi hulubalang yang buruk.

Namun, jika hati yang menjadi raja, maka nafsu serupa pengawal kerajaan yang setia. Dengan perumpamaan ini, kita bisa mengukur akal sekaligus hati. Ini semua semata-mata agar tak salah kaprah memandang Islam yang kini mudah disalahpahami. Jika tidak diperbaiki, bukan mustahil jika pada akhirnya kita terjerumus pada hiruk-pikuk cacian di media sosial. Mari bersama-sama merenungi diri. 

 

Diresensi Nurilla, lulusan TMI Putri Al-Amien Prenduan, Jember

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment