Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments

Memacu Sektor Riil dan Pertanian

Memacu Sektor Riil dan Pertanian

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh Diana Dwi Susanti

Pembangunan harus diarahkan untuk menggerakkan sektor riil, memacu indus­tri, dan menciptakan investasi agar pertumbuhan ekonomi berkualitas. Apalagi sudah da­lam kurun lama hingga kini pertumbuhan masih tergan­tung pada konsumsi rumah tangga dengan kontribusi di atas 57 persen (PDB triwu­lan I-2019). Jika terjadi gejolak harga, daya beli menurun dan pertumbuhan melemah.

Maka, perlu juga menjaga inflasi rendah dan stabil, an­tara lain dengan harga pangan harus stabil dan cara produksi harus melimpah. Jika harga tidak terkendali, akan mem­perlambat konsumsi rumah tangga. Apalagi sepertiga pen­duduk bekerja di sektor per­tanian dan hampir 60 persen bekerja pada sektor informal. Mereka ini sangat sensitif ter­hadap perubahan harga.

Daya beli petani sangat ter­ganggu beberapa kondisi se­perti kenaikan harga barang-barang yang diatur pemerintah serta kebijakan impor. Me­mang inflasi akan melambat karena pasokan komoditas meningkat lewat impor. Say­angnya, langkah-langkah tersebut tidak mampu mem­perbaiki ekonomi petani. De­ngan porsi 30 persen dari te­naga kerja nasional, daya beli petani akan signifikan menen­tukan konsumsi rumah tangga.

Pertumbuhan sektor riil dan pertanian terus merosot jauh di bawah pertumbuhan nasi­onal. Pada triwulan I-2019 per­tumbuhan industri manufak­tur 3,86 persen, pertambangan dan penggalian 2,32 persen dan paling parah pertanian hanya 1,81 persen. Ini dise­babkan belum ada pengolahan modern sektor pertanian.

Produksi pertanian masih dilakukan secara tradisional, padahal harus bersaing de­ngan barang impor yang lebih murah. Inflasi memang stabil, tetapi memperparah tingkat kesejahteraan petani. Nilai tu­kar petani (NTP) sampai Ap­ril 2019 masih mengikuti arah gerak panen. Petani tidak per­nah diuntungkan. Saat tidak panen, mereka ikut membeli komo­ditas yang dihasilkan sendiri. Sebab petani memang tidak punya cadangan karena panen sudah ijon.

Apalagi 75 persen petani adalah gurem (SUTAS 2018) yang hanya memiliki lahan ku­rang dari 0,5 ha. Saat panen pun harga dikendalikan dengan dalih menjaga inflasi. Selama pertanian belum mendapat perhatian khusus, kemandirian pangan tetap tinggal impian.

Industri manufaktur pun tak beda jauh. Indikator umum untuk melihat pemulihan sek­tor ini, aktivitas produksi dan ekspor penyerap dan pencipta lapangan kerja baru. Ekspor kecil karena kapasitas produk­si pun tidak besar, sehingga sistem produksi dalam neg­eri terganggu. Malahan, biaya produksi industri manufaktur tergantung pada impor yang 75 persennya untuk membeli ba­han baku/penolong industri.

Pertumbuhan industri yang tergantung pada impor terus melemah empat tahun ini se­besar -7,78 persen. Maraknya impor barang konsumsi baik pangan maupun manufaktur membuat industri dalam negeri semakin lesu. Biaya produksi industri mahal karena bahan baku/penolong harus impor. Apalagi konsumen lebih me­milih membeli produk impor (konsumsi) yang banyak disaji­kan e-commerce.

Penurunan peranan indus­tri atas pertumbuhan sering dilihat sebagai proses transfor­masi yang diawali dari perlam­batan sektor pertanian, lalu industri, dan lonjakan sektor jasa. Idealnya, transformasi ekonomi harus sejalan dengan sektor ketenagakerjaan.

Struktur perekonomian nasional sudah bergerak ke sektor jasa yang 5 tahun ini tumbuh 6-10 persen. Sedang tenaga kerja masih tertumpuk pada sektor riil dan pertanian dengan besaran 43,55 persen (BPS-Februari 2019). Inilah yang me­nyebabkan masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, pen­gangguran, dan ketimpangan pendapatan, sulit ditekan.

Tenaga kerja mengkhawat­irkan di era ekono­mi industri 4.0 seperti dalam data Sakernas Februari 2019. Di mana 58,26 persen lulusan SMP ke bawah dan 57,27 persen di antaranya bekerja di sektor in­formal. Mereka terkonsentrasi di sektor riil dan pertanian. Pa­dahal kinerja sektor tersebut menurun. Malahan, 30 persen berada bekerja paruh waktu atau setengah pengangguran.

Yang tumbuh pesat adalah transportasi, informasi-komu­nikasi, jasa perusahaan, dan jasa lainnya di atas 7 persen. Umumnya, sektor jasa terkait kelompok menengah berpeng­hasilan dan daya beli relatif tinggi. Tetapi sektor ini sangat sedikit menyerap te­naga kerja. Ini berbeda dengan sektor riil dan pertanian yang tumbuh rendah, tetapi peno­pang sebagian besar ekonomi penduduk.

Per Kapita

Pertumbuhan ekonomi ti­dak lepas dari pendapatan per kapita yang secara nasional ta­hun 2018 adalah 56 juta rupiah atau rata-rata penduduk ide­alnya mendapat kue pemba­ngunan sebesar 4,7 juta rupiah tiap bulan. Kondisi ini, menu­rut Bank Dunia, masuk dalam kelompok pendapatan menen­gah atas.

Namun, upah buruh ber­dasarkan UMR 2019 berada di antara 1.570.922 dan 3.940.972 rupiah. Dari UMR tertinggi pun belum mencerminkan penda­patan per kapita yang seharus­nya diterima oleh setiap pen­duduk Indonesia. Lalu siapa yang menikmati pertumbuhan tinggi tersebut?

Dari gambaran tersebut, terungkap pendapatan per kapita tidak mewakili penda­patan masyarakat keseluru­han. Tetapi lebih mencermin­kan banyaknya orang kaya dan super kaya. Jadi, pendapatan per kapita jelas tidak mencer­minkan pendapatan buruh, apalagi pekerja informal yang jumlahnya sangat banyak.

Hal ini membuktikan masih ada persoalan serius kesen­jangan ekonomi. Bagi sebagian besar penduduk, kenaikan pendapatan per kapita tidak berarti apa-apa, karena dalam realita kehidupannya memang belum ikut menikmati “kue” pertumbuhan ekonomi nasi­onal secara merata.

Pemerintah hendaknya mulai menata perekonomian masa depan secara mandiri, sehingga tidak tergantung pada impor. Bila perekonomi­an lemah, ekspor tidak cukup lagi untuk menutup belanja impor. Disparitas kemiskinan melebar antara desa dan kota. Jumlah orang miskin di desa hampir uda kali kota. Pertani­an memberi andil kemiskinan desa. Ada 58 persen petani miskin di desa. Untuk itu, per­tanian harus menjadi fokus ke­daulatan pangan.

Pemerintah semestinya mendukung penuh pengem­bangan pertanian dan indus­tri sektor riil agar bisa bangkit dan maju agar menyerap lebih banyak tenaga kerja. Dengan begitu, pendapatan dan daya beli masyarakat meningkat dan terpaculah pengembangan sektor-sektor lain seperti kon­sumsi dan jasa.

Saat ini, pemerintah cende­rung memacu pertumbuhan sektor jasa dengan harapan bisa menggerakkan pertanian dan industri. Hal ini memicu deficit neraca karena sektor riil dan pertanian terabaikan se­hingga melemah dan memicu impor untuk mencukupi kebu­tuhan dalam negeri.

Dengan anggaran pendidi­kan 20 persen, pemerintah bisa merekrut bibit-bibit unggul anak muda agar mau meneku­ni pertanian dan industri. Mereka bisa bersinergi dengan petani untuk mengembangkan pertanian modern. Penulis Bekerja di BPS

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment