Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments

Melindungi Remaja dari Penyalahgunaan Narkoba

Melindungi Remaja dari Penyalahgunaan Narkoba
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Drugs Aren’t Cool, They Make You Act Like a Fool!

Penulis : CSP Wekadigunawan, Ph.D

Penerbit : Grasindo

Cetakan : 2019

Tebal : 128 Halaman

ISBN : 9786020516097

Saat ini, narkoba sudah jadi ma­salah global yang mendapat per­hatian serius World Health Or­ganization (WHO). Hingga 2017 WHO mencatat ada 31 juta orang kecanduan obat-obatan terlarang. Di Indonesia, pengguna narkotika, alkohol, psikoto­prika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) semakin meningkat. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan 27,32 persen pengguna narkoba/NAPZA dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

Perlu komitmen untuk mengatasi bahaya penyalahgunaan NAPZA. Buku ini membantu mengantisipasi problem narkoba tersebut. Buku menjelaskan bahaya narkoba, ciri-ciri penderita kecanduan narkoba, kondisi yang bisa menjebak dalam narkoba, dan kiat-kiat agar bisa kebal dari godaan narkoba.

Buku ini juga menjelaskan gejala-gejala narkoba. Pada awal penggunaan, pemakai NAPZA mengalami auforia, sakit hilang, dan halusinasi. Kemudian timbul mual dan muntah, lalu napas dangkal dan sesak. Dia mengalami sembelit, pupil mengecil, dan merasa mengantuk, tapi sulit tidur. Setelah itu, muncul ketergantungan pada obat, psikis, dan fisik (hal 42).

Bila sudah kecanduan narkoba orang akan terus mencari, tanpa pedu­li apa pun. Bahkan jika obat-obatan tersebut harganya begitu mahal. Ini dimanfaatkan para pengedar. Awalnya mereka memberi cuma-Cuma dan tidak mencurigakan. Misalnya per­men, cokelat, dan minuman. Setelah ketagihan, penderita akan bersedia membelinya dari pengedar, bahkan melakukan apa saja agar bisa men­dapatkannya (hal 7).

Banyak faktor bisa menjerumuskan orang dalam narkoba mulai dari faktor keluarga, kepribadian, teman sebaya, hingga akses terhadap NAPZA. Salah satu yang sering menjerumuskan re­maja dalam narkoba adalah stres yang cenderung lebih mudah digoda untuk mengonsumsi NAPZA. Maka, remaja mesti bisa mengatasi stres dengan rajin berolahraga, beribadah, bergaul dengan lingkungan yang positif (hal 64). Buku juga menuntun langkah atau penanganan yang telanjur terje­rumus.

Umumnya, proses penyembuhan dan terapi berbeda-beda. Ada bebe­rapa yang perlu diperhatikan sebe­lum menentukan jenis terapi bagi penderita. Seperti kondisi kejiwaan, penyimpangan perilaku, obat-obatan atau jenis NAPZA yang dikonsumsi. Kemudian, kesukaan atau minatnya, sampai status sosial ekonomi. Ada juga hubungan dalam keluarga, dan kesiapannya memulai rehabilitasi (hal 75).

Ketika sudah berhenti mengkon­sumsi narkoba, orang masih bisa terjerumus dalam ketergantungan kembali. Maka, harus menghindari pertemanan dengan pecandu NAPZA, fokus untuk kehidupan masa depan, terbuka dengan pemikiran orang lain, selalu berpikir positif. Jangan mudah terjebak dalam tekanan, berbagi cerita dengan orang lain yang dipercaya, berolahraga, dan mencari kesibukan positif.

Peran orang tua sangat menentu­kan dalam melindungi remaja dari narkoba. Orang tua harus menetap­kan standar perilaku dan mengajak anak mengikuti kegiatan keagamaan. Orangtua harus membuat anak nya­man berbagi dan bercerita tentang aktivitasnya. Diresensi Dessy Kurniawati, Lulusan Universitas Muria Kudus

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment