Koran Jakarta | June 24 2019
No Comments

Melestarikan Jamu sebagai Warisan Adiluhung

Melestarikan Jamu sebagai Warisan Adiluhung
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Jamu, Pusaka Penjaga Kesehatan Bangsa

Penulis : Murdijati, dkk

Tebal : vi+ 198 halaman

Penerbit : Gadjah Mada University Press

Cetakan : Oktober 2018

ISBN : 978-602-386-330-3

Sebagai upaya menjaga kesehatan masyarakat banyak yang mengonsumsi jamu. Cara ini berlangsung sejak abad 8 sebelum Kristus. Ini dibuktikan dengan relief Karmawibhangga di Candi Borobodur yang menggambarkan cerita pemanfaatan jamu sebagai pengobatan tradisional (hlm 16).

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengetahuan asli tentang penyembuhan penyakit sudah berkembang lama dengan bahan di sekitar lingkungan. Berbagai tokoh masyarakat mulai dari pujangga, raja, atau orang-orang berpengaruh mencatat khasiat tanaman untuk obat. Misalnya, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III Surakarta menyusun manuskrip kuno Serat Centhini.

Di dalam serat yang ditulis tahun 1814 tersebut, terdapat penjelasan penggunaan jamu beserta resepnya. Misalnya, obat untuk muntah darah bisa berupa campuran bahan lempuyang, air jeruk linglang, garam, bawang putih satu bungkul. Kemudian, tiga potong batang pisang sabah, daun beringin, temulawak merah, dan asam lama. Campuran kemudian diminum.

Untuk penyembuhkan penyakit saraf dengan campuran bahan kulit telur yang dibakar, minyak kelapa, dlingo, bengle, dubang sebagai air pelarut, lalu dioleskan. Sedangkan untuk obat telinga tuli bahan-bahannya tujuh butir merica, akar kelor, empedu ayam hitam, dan minyak wijen, lalu diteteskan pada telinga yang tuli.

Daun gandarusa untuk obat sakit encok dengan cara menumbuk daun tersebut hingga halus lalu disebarkan pada bagian yang sakit. Daun iler digunakan sebagai obat sakit wasir. Caranya direbus 12 lembar daun tersebut dengan dua gelas air hingga menjadi satu gelas, lalu diminum. Serat Centhini merangkum 1.467 resep pengobatan tradisional berbagai macam penyakit seperti mag, sakit kulit, ginjal, hingga diabetes (hlm 31).

Koleksi serupa juga dimiliki orang Tionghoa, Tan Koen Swie, yang mewarisi catatan kuno leluhurnya yang merupakan orang Jawa. Dia kemudian menjadikannya sebagai buku pegangan untuk menolong dan menyembuhkan penyakit masyarakat.

Itulah berbagai manfaat jamu. Hanya sayang, penelitian para akademisi tentang jamu masih sangat terbatas. Padahal jamu memiliki prospek bagus dalam menjaga kesehatan. Jika diteliti secara medis, jamu memiliki anasir terapis luar biasa. Misalnya, kunyit asam mengandung unsur alkaloid, saponin, flavonoid, fenolik, dan asam askorbat yang berkhasiat meredakan nyeri haid. Pada dosis tertentu dapat menurunkan kadar glukosa darah (hlm 98).

Jamu yang tidak boleh ditelan biasanya ramuannya hanya ditempelkan pada bagian kening (pilis) ubun-ubun bayi hingga batita (pupuk), atau dilumurkan di perut (tapel). Kemudian, ramuan untuk mengolesi badan (boreh), dan dioleskan pada bagian yang sakit (parem). Selain itu, ada paduan untuk seluruh tubuh guna membersihkan kulit, menghilangkan bau badan (lulur), dan beberapa jenis ramuan lainnya (hlm 161).

Pemanfaatan tanaman untuk jamu tidak lepas dari kearifan nenek moyang yang memaksimalkan tanah walaupun hanya sejengkal untuk ditanami berbagai macam tumbuhan obat. Adanya sistem pertanian tumpang sari, apotek hidup atau tanaman obat keluarga merupakan contoh kreasi masyarakat untuk memanfaatkan tanah dengan sebaik-baiknya.

Jamu yang merupakan warisan nenek moyang sangat penting untuk dilestarikan dan dikembangkan seiring kecenderungan masyarakat pada pengobatan herbal. Di samping juga untuk mempertahankannya agar tak diklaim tetangga. 

Diresensi Suryanto, Guru Pesantren Ketapang, Kalimantan Barat

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment