Koran Jakarta | June 20 2019
No Comments

Melestarikan Fondasi Kuliner Dalam Negeri

Melestarikan Fondasi Kuliner Dalam Negeri
A   A   A   Pengaturan Font

Masakan Indonesia diakui bangsa lain sebagai salah satu makanan terenak di dunia. Di dalam negeri, masyarakatnya pun menggemari makanan kaya rempah ini. Untuk itu, Indonesian Chef Association (ICA) berkomitmen memajukan masakan Indonesia.

Maraknya masakan asing yang menyerbu sejumlah restoran di pusat berbelanjaan maupun kafe tidak serta merta mematikan masakan Indonesia. Pasalnya, makan terkait selera. Orang Indonesia terbiasa makan masakan kaya rempah.

“Makanan asing mix atau fusion saat pembukaan akan rame karena mencoba,” ujar Lucky Permana, Vice President Profesi dan Pendidikan ICA yang ditemui dalam acara The Legent, di salah satu pusat perbelanjaan dibilangan Jakarta Selatan, belum lama ini.

Selebihnya, masyarakat akan kembali ke makanan otentik dalam negeri. “Jadi makanan Indonesia paling enak sedunia karena rempah-rempahnya,” ujar Lucky.

Kekayaan bumbu tersebutlah yang membuat makanan Indonesia masih eksis. tidak khawatir bakal tergilas masakan asing. Bahkan Lucky yakin bahwa masakan Indonesia menjadi salah satu celah bisnis yang menjanjikan.

Berdasarkan survei jumlah pengunjung rstoran dan pemerhati kuliner yang dilakukan ICA, 60 persen orang Indonesia makan masakan Indonesia. “Makan masakan asing hanya sesekali saja,” ujar dia.

Makanan otentik atau asli Indonesia masih memiliki peluang luas untuk dikembangkan menjadi bisnis kuliner. Gado-gado menjadi salah satu contohnya, masakan lain yang bisa dikembangkan, seperti nasi goreng ataupun ketoprak. “Kan belum ada, rumah makan yang khusus nasi goreng,” ujar dia

Agar bisnis kuliner dapat bersaing dengan asing, Lucky mengatakan dibutuhkan dukungan pemerintah mulai dari pajak, kemudahan untuk mengimpor maupun penggunaan tenaga kerja lokal untuk masak Indonesia di berbagai negara.

Tanpa dukungan pemerintah, masakan Indonesia sulit untuk memiliki posisi sejajar dengan masakan asing. Seperti masakan Thailand dan Jepang yang telah memiliki bumbu baku sehingga kuliner negara tersebut mudah mengimplementasikan ke sejumlah tempat.

Di dalam negeri, sejumlah bumbu, seperti bubuk kayu manis masih dijual dengan harga yang tergolong mahal. Efeknya harga jual makanan akan menjadi mahal.

Dengan adanya pengurangan pajak, diharapkan bumbu bubuk dapat dibeli dengan harga yang lebih terjangkau. Sehingga, kuliner dalam negeri dapat dijual dengan harga sesuai kantong masyarakat pada umumnya.

ICA berkomitmen memperkenalkan masakan Indonesia di negerinya sendiri. Untuk itu, mereka bekerja sama dengan sekolahan untuk menciptakan profesional muda. Di sisi lain, mereka telah memberikan sertifikasi profesi yang dikeluarkan BNSP.

Lucky mendorong anggota ICA untuk membuka usaha sendiri. Namun sebelumnya, mereka didorong untuk bekerja di industri.

“Supaya tahu tantangan di dunia industri, setelah itu baru membuka usaha sendiri,” ujar dia. Hingga saat ini, ICA yang berusia 12 tahun beranggota 6000 an orang chef dari seluruh Nusantara. Sedangkan, anggota yang aktif sebanyak 4000 an orang. din/E-6

Bumbu Rempah Lokal, Kaya Rasa dan Berkhasiat

Rempah-rempah telah dikenal menghasilkan masakan dengan cita rasa lezat. Selain itu, rupanya rampah-rempah yang terdapat dalam masakan dalam negeri dapat menjadi obat.

Rempah-rempah menjadi obat dalam sebuah masakan tidak lain lantaran kandungan yang dimilikinya. “Bahwa menurutku makanan (masakan) Indonesia itu obat yang dibuat enak,” ujar Agus Iswandi, 48, chef di LBG Bintani Tangguh, sebuah proyek gas alam.

Sebagai contoh sere, jahe dan kunyit, rempah-rempah yang kerap digunakan dalam berbagai jenis masakan Tanah Air. Kunyit berkhasiat menyembuhkan sekitar lima jenis penyakit kanker.

Sedangkan, jahe dan sere dapat digunakan untuk menyembuhkan flu. “Jadi, kalau ahli kuliner memasak dengan bumbu yang benar, makanan Indonesia dapat menjadi obat,” ujar dia yang telah menjadi chef sekitar sekitar 28 tahun.

Laki-laki yang biasa disapa Agus menggaris bawah penggunaan bumbu untuk masakan yang berfungsi sebagai obat harus benar.

Maksudanya, bumbu yang digunakan merupakan rempah-rempah asli serta jenisnya tidak dikurangi. “Karena kadang, ah kurangi bumbu dikit lah, nah itu yang bahaya,” ujar dia.

Bahkan lantaran khasiat bumbunya, Agus berani bertaruh untuk tidak perlu khawatir makan daging, termasuk daging kambing yang sering dianggap sebagai biang kolesterol. ”Jadi jangan takut makan daging. Itu kolesterol, sepanjang bumbunya rempah-rempah Indonesia, zero. Alias non kolesterol,” ujar dia.

Bumbu masakan daging kambing menggunakan jeruk, ketumbar, kecap, bawang merah, bawang putih, ketimun berfungsi sebagai penetrasi. “Asalkan jangan dikurangi (bumbunya),” ujar dia. Selain itu, daging yang digunakan tidak mengandung lemak.

Gempuran makanan asing tidak akan menyurutkan masakan dalam negeri. Selain cita rasanya, pola hidup masyarakat yang mempertimbangkan kesehatan akan menyeleksi makanan yang dikonsuminya.

Agus yang dikenal dengan sebutan Chef Agoesto mengatakan masakan fried chicken yang tengah mewabah akan punah sekitar tujuh tahun mendatang. “Orang akan makan ubi dan jagung,” ujar dia tentang sebuah evolusi masakan.

Karena berdasarrkan feasibility study, orang lebih banyak memilih makan sayuran. Pada saat itu, masakan Indonesia yang kaya rempah dan bahan alami akan memiliki peluang untuk menaikkan pamor, khususnya di dalam negeri. din/E-6

Mengangkat Pamor Makanan Kaki Lima

Tahu Gejrot dan Mie Aceh diperkirakan akan menjadi naik kelas pada 2019. Sentuhan fusion food dalam terjemahan bebasnya artinya masakan tradisi yang disajikan gaya berbeda membuat food street alias makanan kaki lima memiliki peluang bisnis yang lebih lebar.

Hari Dwi Putro, 28, chef yang tiga tahun belakangan mengembangkan food street memperkirakan kedua makanan tersebut akan naik pamor.”Yang lagi mau in pada 2019, tahu gejrot dikembangkan dalam bisnis,” ujar dia. Selain itu, Mie Aceh menjadi makanan food street yang akan banyak berkembang di masyarakat.

Selama ini, kelezatan Tahu Gejrot hanya terletak pada kuahnya yang berasal dari bahan baku segar. Sementara, rasa tahu sebagai material utama lebih banyak dikesampingkan. “Harusnya fokus pada tahunya,” ujar laki-laki yang memiliki label profesi Twin Chefs Indonesia bersama saudaranya kembarnya ini.

Pasalnya, ada perbedaan rasa antara Tahu Gejrot yang dijual di Cirebon, tempat asalnya, dengan di Jakarta. Jenis air yang berbeda yang digunakan dalam pembuatan tahu membuat rasa tahu dari Cirebon lebih enak ketimbang. “Air di Cirebon lebih baik jadi tahunya lebih enak,”ujar dia.

Sementara, alasan Mie Aceh dapat dikembangkan sebagai bisnis food street lantaran rasa mie telah di terima oleh masyarakat di luar Aceh. Ditambah sentuhan fusion, makanan tersebut dapat tampil lebih moderen dengan cita rasa yang dapat bersaing dengan makan dari daerah lain.

Dalam bisnis food street dengan sentuhan fusion, Indonesia terhitung tertinggal dibandingkanThailand. Malah, banyak food street dalam negeri yang mengacu dari Thailand. Tidak adanya tempat khusus yang menyajikan food street dalam sentuhan fusion menjadi salah satu tolak ukur food street dalam negeri belum sepenuhnya berkembang.

Bisnis food street dalam sentuhan fusion tergolong singkat, hanya bertahan sekitar dua tahun. Jika para pelaku usaha ingin mempanjang bisnisnya, mereka perlu memadukan food street dengan makanan yang otentik.

Meskipun begitu, masyarakat dalam negeri boleh berbangga. Pasalnya, food street dalam negeri lebih unggul ketimbanga negara lain. Lantaran, bumbu yang dibunakan berasal dari bahan baku segar sedangkan negara lain menggunakan bumbu bubuk. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment