Koran Jakarta | November 21 2017
No Comments

Melepas Beban Berat Pretty Asmara

Melepas Beban Berat Pretty Asmara

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Pretty Asmara dikenal sebagai pemain—sinetron, film, pembawa acara, pelawak, juga penyanyi. Bawaannya dalam bergaul menyenangkan:

banyak tawa, banyak keringat, mengundang tawa, walau matanya sering memicing. Takut sendirian dalam lift, cepat akrab. Omongan spontan, banyak tentang diri sendiri.

“Mas yakin paha mas lebih besar dari lengan saya?” Atau “Kalau soal berat, yang saya sebutkan angka di atas sekuintal.” Atau: “Saya tahu Mas membayangkan bagaimana saya pacaran to?”


Pretty, 39 tahun, putra seorang seniman yang dulu ikut dalam grup lawak tenar, Kwartet S, mengaku sejak kecil suka mentas, sejak masih di kota kelahirannya Lamongan, Jawa Timur.

Sebelum kemudian pergi ke Yogya, lolos dalam berbagai lomba, melalui berbagai ajang pencari bakat. Saya sempat mengenal dekat ketika membintangi serial televisi yang mengangkat namanya, Saras 008, tahun 1999.

Perkenalan yang kurang nyaman. Saya menulis cerita dalam seri itu kurang mendidik. Tokoh utama yang dimainkan Pretty memakai kesaktian kentut untuk melumpuhkan lawan.

Saya menghitung dalam tayangan kurang dari 30 menit, Saras belasan kali menghempaskan lawan dengan suara kentut, juga baunya.


Pretty Asmara cukup mampu berakting—dengan lucu, bukan mengandalkan cara yang jorok. Sejak itu, kami agak dekat, kadang curhat. Soal kekasih, soal pakaian yang susah mendapatkan karena ukurannya.

Saya pernah mengajaknya membaca puisi saat memperkenalkan keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK, dalam acara yang dihadiri Presiden Yudhoyono saat itu. Dan Pretty mengundang tawa dengan lirik: “Hukuman koruptor ditambah memangku saya”.


Sabtu lalu, (15/07/17), Pretty ditangkap bersama 7 orang lain—ada penyanyi dangdut, penyanyi pop, model, pemain film, sinetron, dalam sebuah hotel karena pesta sabu.

Apakah benar ini jebakan—karena yang memberi order tak muncul, atau begitulah selalu ajakan mereka yang tertangkap, biarlah bahasa hukum yang berlanjut. Meskipun memang kalau tidak “tangkap tangan”, sering terjadi bias akan kejadian yang sebenarnya.


Yang jelas, inilah konsekuensi sebagai artis, sebagai selebritas. Pretty Asmara—sebagaimana yang lain, berada dalam pusaran itu.

Kiri-kanan dan pergaulan yang dilakoni sangat dekat dengan dunia narkotika—tawaran, godaan, atau yang disaksikan. Satu-satunya sikap yang bisa menjauhkan adalah: jangan bersentuhan sama sekali.

Dengan menolak sama sekali, ia bisa menjadi bersih. Kalau antara “yes” dan “no” atau “kadang iya–kadang tidak”, memang mudah terjebak, dan susah mengelak.


Saya senang mendengar kabar bahwa saat tes urine, Pretty dinyatakan “bersih”, atau “tidak menggunakan.” Juga kecil kemungkinan dia menjadi penggedar. Atau tuduhan sembrono, mengatur “prostitusi” dunia artis.


Tapi, tak perlu kelewat cemas atau gentar. Itu semua peristiwa biasa yang akan menyambar, membakar, menyeret-nyeret dunia selebritas, dunia artis.

Akan selalu dikaitkan dengan kasus-kasus seperti itu yang menjadi hafalan. Seperti juga akan dikaitkan dengan nama lain—syukur nama tenar, sebagai selingkuhan atau suami atau pacar gelap siapa. Itulah dunia yang terlalu mudah dicurigai, dan diurai sisi gelapnya.


Satu hal: saya mempercayai Pretty Asmara mampu mengatasi, mampu melalui beban berat dalam hidupnya—bukan hanya berat badan, juga tuduhan dan godaan dan perjalanan hidup ini.

Saya ingat ketika ia untuk kesekian kali gagal dalam percintaan, atau gagal menetapkan kapan menikah, dia mengatakan, kurang lebih: “Saya tak mau sedih lama.

Saya akan konsentrasi sebagai artis saja.”Benar, dan itu masih berlaku saat ini. Kamu mampu melalui ini Pret, sungguh.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment