Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments

Melawan Hoaks dengan Unjuk Kreatif

Melawan Hoaks dengan Unjuk Kreatif

Foto : foto-foto: dok Komunitas Pemuda Indonesia Sehat
A   A   A   Pengaturan Font

Komunitas Pemuda Indonesia Sehat kerap menjadi tenaga relawan untuk menyumbang kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki ke berbagai wadah sosial.

Maraknya hoaks maupun perilaku masyarakat yang mengesampingkan nilai moral mengundang keprihatikan masyarakat. Perilaku tak sehat ini juga dirasakan banyak kalangan pemuda yang berpikir progesif demi kebaikan masyarakat. Karena itu, beberapa anak muda membentuk komunitas Pemuda Indonesia Sehat (PIS) untuk melawan perilaku negatif di masyarakat.

Melalui keterampilan yang dimiliki, komunitas berupaya membagikan keterampilan dan pengetahuan pada masyarakat. PIS berharap pengembangan kreatifitas akan membuat pikiran dan tindakan tidak hanyut dalam arus tebaran hoaks maupun perilaku yang tidak bermoral. Kegiatan positif pun dimasyarakatkan atau dikembangkan di untuk publik. Sebut saja MC, Muay Thai, Boxing, modeling maupun acting merupakan sederet ketrampilan yang dibagikan PIS. Mereka membagikan keterampilan pada anak-anak jalanan, pecandu narkoba, anak-anak yang baru keluar dari jeruji besi maupun anak yatim piatu.

“Dengan edutainment (education dan entertainment), seperti action maupun presenting, agar mereka (anakanak) memiliki attitude yang bagus dan menjauhkan dari kriminal, narkoba maupun kekerasan,” ujar Saydan Alif, Ketua Umum Pemuda Indonesia Sehat yang ditemui di Jakarta, Minggu (6/1). Kegiatan yang dilakukan PIS termasuk untuk menangkal hoaks, kekerasan dan menurunnya nilai moral masyarakat. PIS mengembangkan sikap diri yang positif menjadi pribadi yang tidak mudah terjerumus pada kegiatan negatif Selain memberikan pengajaran, komunitas membantu mengembangkan kemampuan anak-anak.

Diantaranya, mereka mengikutsertakan anakanak diberbagai kejuaraan olah raga. Selain itu, ada juga yang mengembangkan diri menjadi MC atau pembawa acara. Jika sudah memiliki networking, anak-anak dibiarkan berkembang secara mandiri.

Walaupuan begitu, Saydan mengatakan bahwa komunitasnya bukan bertindak sebagai agen.”Kami bukan agen,” ungkap dia. Selain bermakna ibadah, upaya yang dilakukan tidak lain untuk membantu orang-orang yang terjerumus ke dalam perbuatan negatif memiliki kegiatan positif. Ke depan, mereka diharapkan memiliki kegiatan yang lebih positif dan peluang kerja yang lebih layak.

Upaya yang dilakukan tidak lain untuk membantu pemerintah mengurangi tindak kriminalitas maupun mengurangi anak-anak yang mabuk di jalanan. Selain itu, ia dan teman-temannya secara tidak langsung menemukan bibitbibit unggul di bidang olah raga maupun bidang kreatif lainnya.

Komunitas PIS kerap menjadi tenaga relawan untuk menyumbang kemampuan danketrampilan yang dimiliki ke berbagai wadah sosial. Selain itu, mereka bekerja sama dengan asosiasi sosial untuk membantu para pecandu narkoba maupun anak-anak jalanan. Sampai saat ini, PIS beranggota dari lintas profesi kreatif seperti MC (se Jabodetabek), penggiat Muay Thai maupun Boxing. Komunitas tidak memiliki persyaratan khusus untuk anggota yang ingin bergabung.

“Syaratnya hanya memiliki kemauan dan niat membatu (orang lain),” ujar dia tentang komunitas yang berdiri pada 27 Desember 2015. Setiap bulan sekali, komunitas melalui kopi darat sebagai ajang silaturahmi. Kopi darat sekaligus untuk menambah pengetahuan para anggota, misalnya mendatangkan bintang tamu. Tujuannya tidak lain untuk berbagi ilmu dengan para anggota PIS. Beberapa bintang tamu yang pernah diundang, yaitu Indra Bekti dan Ruben Onsu.

Mereka berbagi pengalaman dan ilmu menjadi MC. Tak jarang dalam ajang kopi darat, mereka saling bertukar informasi pekerjaan. Seperti pada perayaan Tahun Baru belum lama ini, anggota PIS banyak mendapatkan job nge MC di sejumlah acara penyambutan tahun. Tukar informasi menjadi cara untuk mendapatkan pekerjaan setiap waktu. Dengan pandangan hidup, manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, PIS selalu bersinergi satu sama lain.

Termasuk saat terjadi bencana di Banten, mereka melakukan donasi untuk korban bencan yang rencananya akan disalurkan pada pekan ini. Karena kepedulian terhadap orang lain akan mendidik pribadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar. din/E-6

Belajar MC untuk Membentuk Perilaku Positif

Master of Ceremony (MC/pemandu acara) merupakan keterampilan yang diperkenalkan komunitas Pemuda Indonesia Sehat. Selain karena anggota kebanyakan berprofesi sebagai MC, bidang kerja akan membekali peserta dengan sejumlah pengetahuan. Menjadi seorang MC tidak cukup berbekal senang berbicara di depan umum.

Mereka perlu membekali diri dengan pengetahuan supaya dapat mengatur jalannya sebuah acara. “MC ibarat pilot, sukses tidaknya acara karena MC,” ujar Saydan Alif, Ketua Umum Pemuda Indonesia Sehat. Public speaking, pengetahuan umum, acting, sikap diri yang baik bahkan jiwa sosial menjadl ilmu yang diperlukan seorang MC.

Hal tersebut lantaran, seorang MC akan berhadapan dengan massa, mengatur jalannya acara dan menyampaikan pesan yang diminta pemangku hajat. Di sisi lain, keterampilan MC akan mengatur pola hidup manusia lebih teratur. Pasalnya, semua tingkah laku maupun ucapan akan mempertimbangkan pesan moral untuk masyarakat. Keterampilan ini sekaligus menjadi terapi untuk peserta yang biasa hidup di jalanan. Mereka akan hidup lebih teratur mengikuti kaidah-kaidah di masyarakat. Selain itu, mereka akan terbiasa bertutur kata dan bersikap positif.

Dengan latihan dan jam terbang, MC merupakan keterampilan yang dapat digunakan sebagai sandaran hidup. Namun saat ini, anak jalanan yang telah memiliki bekal keterampilan MC masih menggunakan kemampuan tersebut di lingkungan internal. Mereka belum melebarkan sayap ke ranah komersil. Tidak menutup kemungkinan di masa depan, mereka akan menjadi MC yang diperhitungkan mengingat banyaknya event yang membutuhkan MC. din/E-6

Melatih Keterampilan Perlu Upaya Persuasif

Membekali keterampilan pada anak jalanan, anak punk, pecandu narkoba maupun individu yang baru keluar dari penjara berbeda dari masyarakat kebanyakan. Hal ini lantaran mereka terbiasa hidup bebas tanpa aturan sosial yang terlalu ketat. Kehidupan jalanan yang bebas menjadikan individu terbiasa hidup dalam aturan yang longgar bahkan terkesan semau gue. Persoalan baru muncul, ketika mereka masuk dalam kehidupan masyarakat sosial. Mereka butuh menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakat.

Sebagai Ketum PIS, Saydan melakukan pendekatan khusus pada individu-individu yang biasa hidup di jalanan sebelum memberikan pelatihan kreatif. “Kita ajak makan bakso dulu, makan mie ayam dulu baru dia diajarkan menjadi MC,” ujar Saydan. Upaya yang bersifat persuasif tersebut tidak lain supaya individu yang terbiasa hidup di jalanan tidak terkesan kagok. Dari sekian individu yang terbiasa hidup di jalan, anak punk merupakan kelompok yang membutuhkan pendekatan lebih khusus.

“Karena, mereka hidup dengan gerakkannya sendiri,” ujar dia tentang kelompok yang sering nongkrong di traffic lighttersebut. Golongan masyarakat ini juga terbiasa tidak mandi bahkan terkesan kumal. Dalam proses pelatihan kreatif, anak-anak punk membutuhkan waktu lebih lama ketimbang anak jalanan maupun kelompok marginal lainnya dalam. Hal tersebut tidak lain, karena kebiasaan hidupnya. Sedangkan kelompok marginal lainnya membutuhkan waktu dua minggu untuk menyerap materi platihan awal.

Upaya persuasif menjadi langkah awal untuk mengajak masyarakat marginal melakukan kegiatan positif. Pasalnya, keterampilan MC, Muay Tai, Boxing,acting serta modeling merupakan bidang baru. “Mereka perlu ditunjukkan pada hal yang dipandang menarik dulu,” ujar dia. Baru setelah itu, mereka baru mau memahami informasi lainnya. Banyaknya ragam keterampilkan bukan berarti membekali masyarakat marginal dengan semua keterampilan tersebut.

Mereka bisa memilih sesuai dengan minat dan kemampuannya. Di sisi lain, keterampilan kreatif tidak membekali teknik saja melainkan ketrampilan tersebut akan membentuk sikap diri pada setiap individu. Sikap tersebutlah yang akan menjadi bekal untuk kembali ke lingkungan sosial masyarakat pada umumnya. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment