Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments

Melahirkan Generasi Kreatif Bermental Tangguh

Melahirkan Generasi Kreatif Bermental Tangguh
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Generasi Emas
Penulis : Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 2019
Tebal : xvi + 359
ISBN : 978-602-04-9790-7

Generasi muda saat ini memiliki kreativitas tinggi dan ide-ide besar. Bila dibekali mental tangguh, mereka akan kuat memper­juangkan dan mewujudkan gagasan-gagasan besarnya. Itulah generasi emas yang kreatif dan bermental tang­guh. Generasi seperti ini akan melihat kesulitan sebagai batu loncatan dan masalah dianggapnya tantangan.

Buku menilai sebuah potensi besar ini harus diwujudkan. Buku ini me­rupakan upaya melahirkan generasi emas berkarakter, produktif, dan kontributif. Mereka memiliki ide segar dan energi untuk mengeksekusi gagas­an. Berbekal pendidikan nonformal di Pondok Pesantren Miftahul Qulub, penulis terlihat sungguh-sungguh berkeinginan mewujudkan potensi besar tersebut dengan membangun mentalitas generasi kreatif yang ber­mental tangguh.

Setiap orang memerlukan hard dan soft skill. Tetapi, berdasarkan riset Linkdln, 57 persen pemimpin per­usahaan, termasuk Sheryl Sandberg dari Facebook dan Eric Schmidt dari Google, percaya bahwa soft skill kini le­bih penting dari hard skill.

Mereka berpendapat, bisa jadi kar­yawan punya kemampuan hard skill biasa, tetapi sangat dipertimbangkan jika punya soft skill semacam mau belajar, bekerja keras, mudah bekerja sama, serta memiliki semangat tinggi dalam bekerja (hhal 4). Buku menilai, kunci sukses membangun mentalitas tangguh dengan memberi perhatian lebih besar untuk meningkatkan ke­mampuan soft skill dari hard skill.

Ini didukung fakta menarik yang diungkapkan Thomas J Neff dan James M Citrin bahwa kunci sukses sese­orang ditentukan 90 persen soft skill dan hanya 10 persen hard skill. Ke­mampuan berkomunikasi merupakan salah satu soft skill yang paling dicari para pemilik bisnis. Bahkan sesung­guhnya keterampilan berkomunikasi sangat dibutuhkan dalam bidang ap apun, tidak hanya bisnis.

Bahkan saking pentingnya kete­rampilan ini, Roger Alles, dalam bu­kunya You Are the Message mengung­kapkan, keterampilan berkomunikasi seharusnya dimasukkan dalam daftar syarat-syarat kehidupan yang layak. Berkomunikasi dengan orang lain sama pentingnya dengan kebutuhan makan, minum, pakaian, dan tempat berteduh (hal 19).

Menulis, mendengar, dan berbicara bagian dari komunikasi. Sesederhana apa pun pengalaman, wawasan, ilmu serta impian, bisa dijadikan bahan tulisan. Karya-karya yang memotivasi, menginspirasi, menyadarkan, dan mencerahkan, tidak akan kehabisan pembaca.

Apa pun profesi dan bidang yang ditekuni, usahakan untuk menulis buku, minimal satu seumur hidup. Komunikasi berarti juga membiasakan mendengar. Orang yang memiliki kualitas baik bukan hanya terampil dalam berbicara, tetapi juga mampu mendengarkan. Berbicara adalah faktor utama komunikasi.

Bagi sebagian orang ini tersulit, apalagi jika harus berbicara di depan banyak orang. Kuncinya, terus ber­latih dan langsung praktikkan. Jika ratusan kali tampil masih belum juga mampu meluweskan lidah, rasanya butuh ribuan kali untuk tampil lagi (hal 24).

Satu lagi soft skill yang perlu dimi­liki dari pertanyaan, “Kalau orang bisa, mengapa harus kita?” Kalimat ini mengajarkan bahwa generasi kreatif bermental tangguh perlu memiliki ke­mampuan bekerja sama dengan orang lain, berkolaborasi, belajar mendel­egasikan pekerjaan agar tidak harus semuanya dikerjakan sendiri. Setiap orang memiliki kemampuan terbatas dan tidak wajib melakukan semua. Pi­lih saja bidang yang dikuasai. Sisanya, serahkan kepada orang yang tepat un­tuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak kita kuasai.

Tema lain membahas menjadi pribadi lebih sabar, tidak malu bilang tidak tahu, mau berbagi ilmu, dan menghormati guru. Ada 100 cara menjadi generasi unggul, breprestasi, dan berkontribusi yang dibahas. Diresensi Lucky Permana, Wiraswastawan

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment