Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments
Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, terkait Kasus Perundungan Siswa

Media Sosial Bisa Picu Kasus Perundungan Siswa

Media Sosial Bisa Picu Kasus Perundungan Siswa

Foto : ISTIMEWA
Retno Listyarti
A   A   A   Pengaturan Font
Kasus perundungan kembali terjadi di kalangan siswa. Teranyar, kasus menimpa siswi SMP 2 Pontianak berinisial AY. Kasus ini mendapat respons cepat dari masyarakat khususnya di media sosial. Bahkan sampai muncul petisi agar pelaku diganjar seberat-beratnya.

Namun, kasus ini juga memunculkan kabar simpang siur karena respons berlebih dari media. Untuk mengupas kasus tersebut, Koran Jakarta mewawancarai Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, di Jakarta, Minggu (14/4). Berikut petikan wawancaranya:

Tanggapan Anda terkait kasus perundungan di Pontianak?

KPAI menyampaikan keprihatin atas peristiwa kekerasan antarsesama anak yang terjadi di Pontianak, ini bukan satu-satunya kasus. Pada bulan yang sama, KPAI juga menerima pengaduan dari Malimping, Lebak, Banten, terkait kasus yang mirip dengan kasus Pontianak.

Diduga kuat, akar masalah dari peristiwa ini adalah percakapan di media sosial antara korban dan pelaku, kemudian berujung pada persekusi di dunia nyata. Kasus Malimping maupun kasus Pontianak menunjukkan fakta yang sama, yaitu korban mengalami penganiayaan dan pengeroyokan.

Selain jadi pemicu perundungan, media sosial juga menyebarkan kabar simpang siur terkait kasus ini?

Melihat dari kasus pengeroyokan anak di Pontianak Kalimantan Barat, maka masyarakat jangan membuat informasi yang simpang siur sehingga berpotensi akan merugikan anak dan rentan menjadi “secondary victim” baik anak korban maupun pelaku.

Bagaimana cara mencegah kasus-kasus perundungan yang dipicu medsos?

Perlu dilakukan literasi media sosial sehingga tranformasi kekerasan online menjadi kekerasan offline, seperti persekusi dapat dihindari. Perlu ada juga pengawasan dan edukasi serta komunikasi dari orang tua, pendidik atau guru dan masyarakat kepada anak.

Langkah konkret apa yang bisa dilakukan orang tua mencegah kasus seperti ini terulang?

Para orang tua mesti melakukan pengasuhan positif di rumah. Selain itu juga harus menjadi model anak-anaknya dalam menerapkan disiplin positif yang menjauhkan hukuman fisik dan bentuk kekerasan lainnya terhadap pola asuh di rumah. Para orang tua juga seharusnya mendampingi dan melakukan kontrol terhadap anak-anaknya yang menggunakan gadget dan memiliki media sosial.

Kalau masyarakat?

Para pengguna media sosial yang sudah dewasa seharusnya mencontohkan penggunaan media sosial secara bijak dan sehat, bukan memaki-maki, menghina, saling serang, menyebar ujaran kebencian, berita hoax, dan lain-lain. Pengguna media sosial yang menunjukkan perilaku buruk menjadi contoh bai anak-anak yang sudah memiliki media sosial.

Karena kasus terjadi pada siswa, apa yang harus dilakukan institusi pendidikan?

Para pendidik wajib diberikan sosialisasi dan pelatihan-pelatihan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pelatihan ini harus bisa sampai pada peningkatan kapasitas guru dalam pengelolaan kelas, meningkatkan pemahaman dampak buruk bully dan perundungan lainnya terhadap tumbuh kembang anak.

Ada program pendidikan karakter di sekolah. Apakah program ini belum terlaksana dengan baik?

Penanaman karakter anak yang pertama dan utama adalah orang tua dalam pendidikan keluarga. Sementara pendidikan di sekolah adalah untuk memperkuat Pendidikan Karakter. Selain itu masih ada satu ranah lagi, yaitu pendidikan masyarakat, etika penggunaan media sosial merupakan salah satu dari bagian ini. 

 

aden maruf/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment