Maskapai Butuh Bantuan Keuangan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 7 2020
No Comments
Antisipasi Kebangkrutan I Semua Maskapai Kurangi Rute dan Frekuensi Penerbangan

Maskapai Butuh Bantuan Keuangan

Maskapai Butuh Bantuan Keuangan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Sejumlah maskapai di Tanah Air di ambang kebangkrutan jika pandemi Covid-19 belum juga mereda dan tidak adanya bantuan keuangan dan insentif dari pemerintah.

 

JAKARTA – Industri pe­nerbangan di Tanah Air te­ngah berada di masa sangat sulit menyusul penghentian sejumlah rute, baik nasional maupun lintas negara, seiring penyebaran virus korona tipe terbaru, Covid-19, terutama di Indonesia. Bahkan, jika pan­demi Covid-19 terus berlanjut, bukan tidak mungkin maska­pai akan mengalami kebang­kutan.

Ketua Umum Asosiasi Per­usahaan Perusahaan Pener­bangan Nasional Indonesia (Inaca), Denon Prawiratmadja, mengungkapkan jumlah pe­numpang turun drastis sejak awal Maret ini sebagai dampak dari penyebaran Covid-19 di Indonesia. Karena itu, semua perusahaan penerbangan me­ngurangi rute dan frekuensi pe­nerbangan hingga 50 persen.

“Diramalkan apabila pe­nuntasan pandemi Covid-19 semakin tidak pasti hal ini akan membuat industri pe­nerbangan semakin terpuruk. Bahkan, sebagiannya akan ti­dak beroperasi karena bang­krut,” kata Denon dalam si­aran persnya di Jakarta, Kamis (26/3).

Dia menambahkan, untuk menekan kerugian, beberapa maskapai melakukan langkah antisipasi, meliputi penutupan sejumlah operasional dan me­lakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawannya, baik bagi pilot, awak kabin, tek­nisi dan karyawan pendukung lainnya.

Diakuinya, untuk menyela­matkan industri penerbangan agar tetap eksis, Inaca meminta sejumlah keringanan maupun insentif kepada pemerintah, termasuk penundaan pemba­yaran PPh (pajak penghasilan) dan penangguhan biaya ban­dara dan navigasi yang dike­lola BUMN.

Sementara itu, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, menga­takan maskapainya layanan operasional domestik yang menghubungkan dari dan ke Papua menghentikan semen­tara (suspend) mulai Kamis, 26 Maret 2020, pukul 00.00 waktu setempat (Waktu Indonesia Ti­mur, GMT+ 09) sampai Kamis, 9 April 2020, pukul 23.59 WIT.

Menurutnya, operasional layanan penerbangan penum­pang domestik di Provinsi Pa­pua, Lion Air Group yang ter­diri dari Lion Air, Wings Air, Batik Air memiliki rata-rata 35 frekuensi penerbangan per hari pergi pulang (PP), men­cakup Kota Jayapura, Merau­ke, Mimika, Nabire, Yahukimo, dan Jayawijaya.

Permintaan Turun

Sementara itu, pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengatakan saat ini industri penerbangan mengalami penu­runan permintaan. Bahkan se­cara global, dunia penerbangan bakal kehilangan 50 juta peker­jaan. Untuk itu, dia menilai saat ini maskapai sangat membu­tuhkan bantuan keuangan atau yang biasa disebut financial relief dalam menghadapi krisis terkait virus korona.

“Sejauh ini, pemotongan gaji telah dilakukan oleh se­jumlah manajemen maskapai. Sementara sejumlah maskapai asing juga telah menerapkan kebijakan merumahkan hingga cuti paksa di luar tanggungan. Jika ini tidak mendapat per­hatian akan membahayakan kondisi perusahaan maskapai di Indonesia,” katanya.

Gerry mengungkapkan jumlah pemesanan tiket pesa­wat untuk penerbangan dari Indonesia ke luar negeri turun hingga 70 persen, sedangkan pemesanan tiket penerbangan domestik anjlok sekitar 30 per­sen sebagai dampak Covid-19.

Sebelumnya, Asosiasi indus­tri penerbangan dunia atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memper­kirakan pendapatan industri penerangan global berpotensi turun hingga 113 miliar dollar AS akibat dampak pandemi Covid-19. n mza/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment