Koran Jakarta | April 19 2019
No Comments

Masjid Terapung, Ikon Baru Sarawak

Masjid Terapung, Ikon Baru Sarawak

Foto : istimewa
Masjid Bandar Kuching di Sarawak
A   A   A   Pengaturan Font

Dewasa ini wisata tak sekadar mencari kegembiraan fisikal, tetapi juga dan malah kadang-kadang terutama menyangkut kerohanian. Jiwa juga perlu kesegaran. Maka, paket wisata rohani semakin laku. Bagi umat muslim dapat mengunjungi masjid-masjid unik seperti yang dibangun secara “terapung”.

Yang dapat dijadikan destinasi antara lain masjid terapung di Kuch­ing, Sawarak, Malaysia. Kalau tidak ada aral melintang, pada tanggal 1 Maret 2019 Masjid Terapung Sarawak di Kuching akan diresmikan. Sarana sembahyang tersebut akan menjadi ikon baru Kota Kuching khususnya, dan nega­ra bagian Sarawak, pada umumnya. Masjid ini terletak di tepian Sungai Sarawak.

Masjid terapung yang mene­lan biaya pembangunan 10,6 juta ringgit atau sekitar 35 miliar rupiah tersebut dimulai tahun 2016 dan akan bisa menampung sekitar 1.600 jemaah. Keunikan tempat doa ini pada bagian bangunan masjid ber­ada di atas tanah. Bangunan lain­nya berada di atas sungai Sarawak. Maka namanya masjid “terapung”. Nama lainnya adalah Masjid Ban­dar Kuching.

Bangunan dengan warna serbaputih ini akan menjadi destinasi wisata rohani terbaru dan diperkirakan bakal menyedot turis muslim dari berbagai daerah. Para pejabat Sarawak yakin, setiap Jumat, masjid ini akan selalu penuh jemaah.

Kubah dan menaranya diba­ngun meniru gaya masjid Turki. Ini sebenarnya, bangunan baru sebagai renovasi masjid pertama di Sarawak bernama Masjid Tami (Masjid Bandar Kuching) yang di­bangun 1834. Ikon Kuching selama ini antara lain patung-patung bebe­rapa binatang kucing yang berada di tengah-tengah Kota Kuching, tak jauh dari Sungai Sarawak juga.

Jadi, diharapkan masjid tera­pung pertama di Sarawak ini akan menambah kekayaan yang menjadi daya tarik turistik. Masyarakat mus­lim dari Kalimantan dan Malaysia sendiri diharapkan mengunjungi peresmian pada 1 Maret ini.

Sebenarnya, di daerah lain sudah ada masjid terapung yang memang mampu menjadi daya tarik pelancong. Masjid terapung sudah ada di Terengganu dan Kota Kinabalu, Sabah. Di Kota Kinabalu, masjid terapungnya bernama Masjid Bandaraya dengan kubah biru dan emas. Letaknya di teluk Likas, seakan-akan air teluk itu mengelilingi masjid tersebut. Arsitekturnya meniru masjid di Madinah.

Indonesia

Lalu bagaimana di Indonesia sendiri, apakah sudah ada juga masjid yang dibangun “di atas” air? Yang tengah dibangun ada­lah masjid terapung Al Jabbar di Gedebage, Kota Bandung, Jabar. Bangunan ini diharapkan rampung tahun depan. Sepertinya, masjid ini akan mewah sekali karena di­perkirakan menghabiskan dana sampai 800 miliar rupiah. Di lokasi yang sama akan dibangun danau mengelilingi masjid dengan biaya 96 miliar rupiah. Mantan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, yakin ini akan menarik wisatawan dari ber­bagai daerah.

Asisten Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Pemprov Jabar, Eddy Iskandar Muda Nasution, me­nyatakan beberapa hari belakangan tengah dipasang bagian atap dan menara. “Kedua pekerjaan tersebut akan selesai akhir bulan,” katanya.

Lalu bagaimana daerah lain? Ternyata masyarakat dapat ber­wisata rohani ke masjid-masjid terapung yang sudah lama eksis, di antaranya terletak di Flores, Makassar, Ternate, Lampung, dan Palu. Masyarakat Flores yang mayo­ritas Katolik malah telah memiliki masjid terapung, An Nur. Posisinya berada di pedalaman kampung nelayan, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Masjid terapung itu dibangun di atas permukaan laut. Keunikannya, disangga 99 tiang dan di bagian dalam terdapat empat tiang. Ini menjadi destinasi wisata islami di daerah Katolik.

Wapres Jusuf Kalla telah meres­mikan masjid “terapung” Amirul Mukminin di Makassar. Namun itu terjadi pada 21 Desember 2012. Masjid ini tentu sudah tidak asing bagi mereka yang pernah meng­injakkan kaki di Pantai Losari, Makassar. Di pinggir pantai inilah masjid tersebut “terapung”. Masjid ini “terapung” terutama saat ter­jadi air pasang karena berada di bibir pantai dan seperti terapung “direndam” air pasang.

Hasil gambar untuk Masjid Al-Munawar Ternate

Masjid Al-Munawar Ternate

 

Di Ternate terdapat Masjid Al Munawar yang sangat besar ka­rena mampu menampung 15.000 jemaah. Masjid memiliki keluasan hampir 10.000 meter persegi. Ar­sitekturnya sangat megah dengan empat menara setinggi 44 meter yang berada di sudut-sudut.

Hasil gambar untuk Masjid Al Aminah di Lampung

Masjid Al Aminah

 

Lampung tak mau ketinggalan. Daerah ini juga memiliki Masjid Al Aminah yang terapung di Pantai Sari Ringgung, Kabupaten Pesawaran. Satu lagi masjid terapung berada di Palu, Sulteng, bernama Arkam Babu Rahman. Keunikannya, kubah dapat bercahaya dalam tujuh warna pada malam hari. Cahaya muncul dari sebuah peralatan yang diimpor dari Tiongkok. Warnanya berganti setiap detik terdiri dari merah, jingga, hijau, unggu, biru, merah jambu, dan putih. Nah, sekarang silakan memilih untuk kunjungan rohani kaum muslim. wid/G-1

Kuil Terapung Dewi Samudera

Tak hanya masjid yang dibangun terapung, tempat-tempat sembahyang agama atau keyakinan lain juga tak sedikit yang didirikan di tengah-tengah air. Lihat saja kuil Itsukushima di Jepang. Kuil yang dibangun Saeki Kuramoto menjelang tahun 600 tersebut merupakan tempat doa yang dikhususkan untuk menghormati Dewi Samudera bernama Ichikishima-hime, Tagitsu-Hime, dan Tagori-Hime. Kuil Shinto ini berada di Pulau Miyajima yang oleh penduduk setempat sering disebut Itsukushima. Pulau ini masuk Perfektur Hiroshima.

Dalam beberapa sejarah Jepang dapat diketahui bahwa tempat destinasi wisata yang sangat indah tersebut dibangun terapung terletak di tepi pantai. Seperti bangunan-bangunan di tepi pantai, setiap air pasang, kuil tersebut juga seolah terapung. Kuil ini mengalami beberapa kali renovasi, perbaikan, atau penyempurnaan karena rusak akibat dimakan usia atau unsur perang.

Hasil gambar untuk Kuil Itsukushima

Bahkan, kuil tersebut nyaris punah karena kebakaran hebat pada tahun 1200-an. Kuil lalu dibangun kembali oleh Mori Motonari pada tahun 1555. Ada beberapa bagian dari kuil suci tersebut seperti tempat sembahyang tentu saja. Kemudian, ada juga tempat menyambut tamu, beristirahat para jemaat, atau pendopo pertunjukan tari-tarian tradisional setempat.

Agak terpisah dan menjorok ke laut terdapat semacam gerbang bernama Torii. Sayang, kalau tengah pasang, wisatawan tak bisa mendekat. Namun saat air surut, gerbang ini banyak dijadikan arena mengabadikan kunjungan pelancong. Gerbang dengan tinggi 16 dan lebar 24 meter tersebut menambah asri tampilan kuil Itsukushima.

Untuk sampai ke kuil ini, para wisatawan Indonesia dapat terbang menggunakan Garuda Indonesia dari Bandara Soekarno-Hatta. Penerbangan akan transit di Tokyo (Haneda), dilanjut ke Hiroshima. Dari bandara dilanjut menuju pelabuhan untuk naik feri ke Pulau Miyajima.

Kuil ini telah masuk dalam situs warisan budaya dunai (UNESCO) sejak 1996. Pemilihan tempat ini sebagai lokasi pembangunan kuil tidak asal-asalan. Zaman dulu, kawasan Pulau Miyajima ini sangat terlarang, tidak sembarang orang boleh masuk karena dianggap keramat atau suci. Itulah sebabnya lokasi ini dipilih sebagai tempat didirikannya kuil Shinto tersebut.

Dulu memang tidak sembarang orang boleh masuk. Kini, setiap orang boleh berwisata di sini. Kuil Itsukushima menjadi salah satu destinasi terpopuler di Jepang. wid/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment