Masalah “Bailout” yang Tak Kunjung Tuntas | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments

Masalah “Bailout” yang Tak Kunjung Tuntas

Masalah “Bailout” yang Tak Kunjung Tuntas

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Bom Waktu Utang Bailout

Penulis : Aziar Zain

Terbit : Februari 2016

Tebal : 189 halaman

Penerbit : Mer-C Publishing

ISBN : 978-602-396-050-7

Buku ini materi utamanya bidang ekonomi, hukum, sosial politik, dan tata negara. Topik buku menyangkut utang pemerintah Indonesia yang luar biasa besar dan mencapai ribuan triliun. Utang yang dibebankan ke seluruh rakyat Indonesia melalui APBN terdiri dari pinjaman dan Surat Utang Negara (SUN). Per Juni 2014, utang tersebut berjumlah 2.507,5 triliun dan per Mei 2017 telah meningkat menjadi 3.672,33 triliun. Angka ini belum termasuk 1.473 triliun bunga surat utang yang telah dibayar secara tunai selama periode tahun 1999–2016.

Permasalahannya, gunung utang yang terus membengkak itu tidak pernah dijabarkan secara transparan ke publik, bahkan cenderung ditutup-tutupi. Itulah sebabnya, setiap Kementerian Keuangan mengumumkan posisi utang pemerintah, masyarakat bertanya-tanya tentang kegunaannya. Sayang, tak ada satu pihak pun yang mau dan mampu menjelaskan. Situasi ini jauh menyimpang dari kehidupan bernegara yang menerapkan transparansi anggaran.

Ajaibnya, puluhan fakultas ekonomi tidak ada yang memahami masalah ini. Padahal, sebagai akademisi bidang yang terkait seharusnya menjadi garda terdepan meluruskan penyimpangan. Mereka lebih suka menekuni ilmu yang dapat membuat kaya. Bahkan, sejumlah pakar justru menjadi bagian dari masalah.

Kasus bailout Bank Century pada tahun 2008 sebesar 8,1 triliun rupiah telah menggegerkan bangsa. Bahkan, DPR membentuk Pansus Bank Century. Perhatian besar terhadap kasus Bank Century tersebut patut dihargai sebagai kontrol sosial. Namun, itu ibarat “semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan”.

Selain itu, ada bailout yang dilakukan tahun 1998 hingga 2002 senilai 734 triliun rupiah. Ini terdiri dari bailout tahap I sebanyak 273 triliun (BLBI 164 triliun dan lainnya 109 triliun) serta bailout tahap II (rekapitalisasi) 461 triliun. Seluruh biaya bailout ditanggung publik melalui penerbitan Surat Utang Negara (SUN).

Masalahnya, nyaris seluruh masyarakat (termasuk media massa) tidak memahami SUN. Padahal, selama ini tidak ada satu pun pihak yang bertanggung jawab melunasi atau mengangsurnya. Seluruhnya dibebankan kepada APBN, baik pokok maupun bunganya. Di lain pihak, ruang APBN sangat terbatas. Akibatnya, pembayaran utang dilakukan dengan surat utang baru dan terciptalah situasi “gali lubang tutup lubang” bertahun-tahun.

Itulah sebabnya per juni 2014, outstanding SUN mencapai 1.811 triliun rupiah, sedangkan bunga yang telah dibayar tunai selama 15 tahun 928,8 triliun. Tahun 2030, diperkirakan SUN untuk bailout ini akan mencapai 11.846 triliun (dengan catatan setiap tahun pemerintah sanggup menjual surat utang baru yang semakin berlipat).

Dengan demikian, surat utang negara yang juga utang seluruh rakyat ini sejatinya telah dapat digolongkan sebagai “bom waktu.” Hal ini semakin mengkhawatirkan karena tidak ada yang peduli. Bank-bank penerima bailout ibarat berubah menjadi zombie. Jadi, semua terjadi karena bailout diberikan secara cuma-cuma sehingga menyimpang dari “prinsip” kehidupan universal there’s no such thing as a free lunch (tak ada makan siang gratis).

Buku ini dilengkapi landasan teori bailout serta pelaksanaan dan contoh-contoh di berbagai negara. Contoh-contoh menggambarkan bailout seharusnya dilakukan tanpa membebani publik. Ada juga uraian syarat-syarat kelayakan bailout dan untung-ruginya, terutama yang dilakukan dengan dana publik. Buku juga menyertaikan cara mengatasi “bom waktu” utang karena bailout ini. 

Diresensi Tri Wahyuni, peminat masalah anggaran negara

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment