Koran Jakarta | March 27 2019
No Comments
Pemilu 2019

Masa Kampanye Terlalu Lama Timbulkan Gejolak

Masa Kampanye Terlalu Lama Timbulkan Gejolak

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Durasi kampanye selama tujuh bulan yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) hanya membuat tensi kontestasi meninggi dan berpotensi menilbulkan gesekan. Hal itu justru dimanfaatkan para peserta pemilu untuk melancarkan propaganda-propaganda berbasis kebohongan.

Metode propaganda ini dikenal dengan sebutan firehouse of falsehood. Sebuah alat perang yang dikembangkan oleh Rusia sebagai senjata dalam era peperangan modern alias hybrid warfare. Yakni model perang dimana kekuatan militer disembunyikan dari lawan, sehingga menciptakan kebingungan bagi musuh untuk merespon secara tepat. Dalam kontestasi pemilihan dikenal juga dengan “Propaganda Russia”.

Salah satu cara kerja Propaganda Russia adalah memunculkan narasi kebohongan secara masif melalui saluran komunikasi seperti televisi, radio, media massa hingga media sosial. Informasi yang diproduksi pun diibaratkan semburan hoaks untuk mempengaruhi opini publik.

Analis politik President University, AS Hikam dalam diskusi bertajuk ‘Propaganda Rusia dan Masa Depan Demokrasi’, di Jakarta, Sabtu (9/2) menilai wajar kedua kubu menggunakan pola propaganda Rusia dalam berkampanye. Sebab propaganda, kata Hikam, bisa digunakan untuk hal positif seperti ajakan untuk memilih. Namun, ketika propaganda dijadikan senjata maka hasilnya berbeda.

Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional itu mencontohkan, ketika Presiden Joko Widodo yang juga merupakan petahana menyebut adanya tim sukses (timses) kubu lawan yang menggunakan gaya politik Propaganda Russia. Ini dianggap bahwa petahana kesulitan dalam menghadapi manuver kubu lawan.

Padahal gaya kampanye ovensif yang dilakukan Jokowi dalam berkampanye bisa mendatangkan keuntungan jika timnya mampu mengatur implikasi dari gaya menyerang tersebut. Hikam mengibaratkan strategi yang dipakai Jokowi seperti metode menyerang dalam sepak bola yang pernah dimainkan Belanda ‘Total Football’ yang selalu menyerang.

Namun model seperti itu salah satu resikonya adalah selalu meninggalkan lini pertahanan kosong. Dalam bahasa politiknya, kata dia, lubanglubang pertahanan di lini belakang Jokowi berpotensi terbuka celah sehingga bisa jadi target serangan lawan atau malah terjadi blunder.

“Blunder itu dalam bahasa komunikasi disebut gaffe. Apa itu gaffe? Adalah semacam kesalahan ngomong di publik lalu media massa dan media sosial latah memainkan Gaffe tersebut,” kata AS Hikam dalam diskusi bertajuk ‘Propaganda Rusia dan Masa Depan Demokrasi’, di Jakarta, Sabtu (9/2).

Jokowi menurut Hikam, memiliki tugas sebagai petahana yang semakin berat dengan beban elektabilitas. Oleh karena itu, penting bagi Tim Kampanye Nasional untuk mengambil early warning. rag/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment