Koran Jakarta | July 17 2018
1 Comment

Mari Berdamai demi Persatuan Bangsa

Mari Berdamai demi Persatuan Bangsa

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Penunggang Kuda
dalam Kegelapan
Penulis : Mohammad Sobary
Halaman : viii + 268
Terbit : Februari 2018
ISBN : 978-602-424-738-6
Penerbit : Gramedia

Buku membahas persoalan umat mulai dengan kegaduhan po­litik, pemimpin lalim, kemu­nafikan, pendidikan, kebudayaan, kemiskinan hingga ritual ibadah yang sebatas formalitas belaka. Problema­tika tersebut jelas memiliki tekstur dan gejala berbeda-beda. Akan tetapi, semua dikontrol melalui intrepretasi surah al-Maun.

Seperti gejala kredensialisme agama yang bertitik tolak pada terpaterinya pikiran masyarakat ter­hadap simbol-simbol agama dan tafsir tekstual. Ini terutama fenomena di layar kaca yang memahami agama secara tekstualis, asal nompo. Mereka meniadakan upaya menelaah secara artifisial, prakondisi, dan kontekstual­isasi. Padahal terjemahan surah dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia itu penting sekali.

Namun, terjemahan dalam bentuk konkret berupa tindakan memandi­kan anak-anak telantar, miskin, yatim piatu, serta pendidikan layak—yang merupakan tafsir makna dari surah al-Maun—jelas lebih penting (hlm 143). Selain penting untuk memaknai ajaran agama terhadap konteks sosialnya, perlu juga agama bisa bergerak di ruang dimensi ritual individual dan massa. Dengan harapan, agama apa pun sanggup berkolaborasi dalam satu tujuan hidup bernegara, berbangsa dan beragama, dengan kasih sayang untuk persatuan.

Seni memahami agama seperti itu, kelak akan melahirkan pemahaman agama yang holistik. Pemahaman tanpa menepikan unsur-unsur pendiri bangsa: yakni keragaman, Bhinneka Tunggal Ika. Namun, kebanyakan kita diajak berdamai saja sudah repot. Apa­lagi untuk perubahan demi kebaikan bersama. Sementara itu, mereka yang sadar masih belum mampu angkat bicara.

Kritik buku terhadap simbolisme tidak berhenti pada unsur keagamaan belaka. Ia juga menandai peringatan hari kemerdekaan dengan prosesi upacara pengibaran bendera pada pagi hari dan penurunan bendera pada sore hari sebagai kebahagiaan simbolis. Bahkan sekadar ritual politik kenegaraan (hlm 263)

Alangkah lebih mengena lagi, apa­bila simbolisme seperti mengerek ben­dera pusaka itu mengingatkan bangsa semua bahwa bendera pusaka sebagai simbol suci yang kita hormati. Ini un­tuk menekankan makna sumpah pala­pa yang relevan dengan kebutuhan nasional saat ini. Di antaranya, untuk lebih merekatkan persatuan sebagai bangsa yang satu, utuh, dan berdaulat. Dari sana, dapat digarisbawahi segala yang berkutat pada hal-ihwal simbolis, seyogianya tidak berhenti pada watak simbolis, tapi sampai pada yang lebih nyata(hlm 266).

Demikianlah sosok Muhammad Sobary. Di setiap torehan karyanya ter­curah kejernihan pemikiran mengenai manusia, alam, dan Tuhan. Korelasi ketiga unsur sentral tersebut, melahir­kan sebuah cita rasa kebudayaan unik. Barangkali karena sifatnya yang begitu bebas dari kungkungan struktur resmi, baku, dan konvensional, maka dia hidup dalam living university, sebuah universitas kehidupan pada suatu za­man (hlm 161). n

Diresensi Afrizal Qosim Soleh, seorang mahasiswa

View Comments

Fauzan
Rabu 20/6/2018 | 18:10
Merajut kebhinekaan melewati lembah semu perdamaian.

Submit a Comment