Mantan Deputi Bakamla Divonis 4 Tahun 3 Bulan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments
Kasus Suap

Mantan Deputi Bakamla Divonis 4 Tahun 3 Bulan

Mantan Deputi Bakamla Divonis 4 Tahun 3 Bulan

Foto : ANTARA/Wahyu Putro A
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Mantan Deputi Informasi, Hukum, dan Kerja Sama Badan Keamanan Laut (Bakamla), Eko Susilo Hadi, divonis empat tahun tiga bulan penjara, denda 200 juta rupiah subsider dua bulan kurungan. Vonis diputuskan karena Eko terbukti menerima suap 2,3 miliar rupiah.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Eko Susilo Hadi terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut sebagaimana dakwaan primer,” kata Ketua Majelis Hakim, Yohanes Priana, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (17/7).

Vonis itu lebih rendah dibanding tuntutan jaksa penuntut umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang meminta agar Eko divonis lima tahun penjara ditambah denda 250 juta rupiah subsider tiga bulan kurungan.

Majelis hakim yang terdiri atas Yohanes Priyana, Ibnu Basuki Widodo, Diah Sisi Basariah, Sofialid, dan Sigit Herman Binaji juga tidak mengabulkan permintaan Eko sebagai pelaku tindak pidana yang bekerja sama dengan penegak hukum (justice collaborator).

“Permintaan terdakwa sebagai justice collaborator ternyata sampai proses penuntutan tidak ada tindak lanjutnya maka dalam kaitan permintaan tersebut majelis hakim telah dipertimbangkan lebih lanjut sehingga permintaan itu tidak dapat diterima,” kata hakim anggota, Sofialdi.

Eko terbukti menerima 88.500 dollar Amerika Serikat/ AS (1,2 miliar rupiah), 10 ribu euro (141,3 juta rupiah) dan 100 ribu dollar Singapura (980 juta rupiah) dengan nilai total sekitar 2,3 miliar rupiah dari Direktur PT Merial Esa dan pemilik PT Melati Technofo Indonesia.

Penerimaan uang yang dilakukan Eko berawal dari arahan atasannya, yakni Arie Soedewo selaku Kepala Bakamla, yang menyampaikan adanya jatah 15 persen dari nilai kontrak pengadaan satelit monitoring yang dimenangkan PT Melati Technofo Indonesia.

Dari jatah 15 persen tersebut sebesar 7,5 persen akan diberikan kepada pihak Bakamla. Penyampaian Arie tersebut terjadi pada Oktober 2016 saat Eko dipanggil ke ruangan Arie.

Selanjutnya, Eko memanggil Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yaitu Bambang Udoyo untuk memanggil PT Melati Technofo Indonesia selaku pemenang pengadaan monitoring satelit untuk menghadap.

Pada 9 November 2016, bagian operasional PT Merial Esa sekaligus orang kepercayaan Ali Fahmi, yaitu M Adami Okta minta agar datang ke kantor Bakamla.

Saat itu Eko menanyakan fee sebesar 7,5 persen dari nilai kontrak karena PT Melati Technofo Indonesia telah dimenangkan dalam pengadan satellite monitoring, Adami lalu mengatakan akan memberikan 2 persen lebih dulu.

Uang lalu diberikan pada 14 Desember 2016 oleh Adami dan Hardy di kantor Eko. P

ada pertemuan itu, Eko menerima penyerahan uang dari Muhammad Adami Okta dan Hardy Stefanus sebesar 100 ribu dollar Singapura dan 78.500 dollar AS dalam amplop cokelat. Tidak lama, petugas KPK melakukan penangkapan. mza/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment