Koran Jakarta | January 17 2017
No Comments

Mannequin Challenge: Tantangan Menahan Diri

Mannequin Challenge: Tantangan Menahan Diri

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Kalau di suatu tempat, tibatiba melihat beberapa orang mematung—bersikap diam seperti patung, jangan heran. Itu hal yang biasa. Beberapa orang diam, seolah membeku dalam satu adegan tertentu. Tempatnya juga bisa di mall, bisa juga di kantor, dan paling sering justru di.. ruang kelas. Mereka ini, beberapa orang yang berdiam bagai manekin, sedang memperagakan mannequin challenge, tantangan manekin. Manekin adalah patung mirip manusia untuk memamerkan pakaian.

Kalau di suatu tempat, tibatiba melihat beberapa orang mematung—bersikap diam seperti patung, jangan heran. Itu hal yang biasa. Beberapa orang diam, seolah membeku dalam satu adegan tertentu. Tempatnya juga bisa di mall, bisa juga di kantor, dan paling sering justru di.. ruang kelas. Mereka ini, beberapa orang yang berdiam bagai manekin, sedang memperagakan mannequin challenge, tantangan manekin. Manekin adalah patung mirip manusia untuk memamerkan pakaian.

Gerakan mendadak diam ini melanda dunia melalui media sosial secara sangat cepat, menyeluruh, atau viral. Belum sebulan sejak dipopularkan, sudah menyeret namanama politikus, atlet, seniman, atau nama-nama besar seperti Hillary Clinton, ibu Negara AS Michelle, sampai dengan ‘dewi talk show’ Ellen DeGenerades, atau juga musisi gaek Paul MacCartney anggota The Beatles. Para pesohor ini melakukan “tantangan manekin”, yang sederhana dilakukan. Mereka ini mendadak membeku selama 30 detik atau paling lama 1 menit. Secara mendadak, misalnya yang dilakukan Hillary, di pesawat terbang bersama dengan para pendukung kampanyenya melakukan ini. Mereka seolah sedang berbicara—tanpa suara, ada yang lagi nulis teks naskah pidato, atau gerak apa saja yang sesuai dengan tema yang disampaikan. Gerak diam itulah yang divideokan, lalu diunggah dan menyebar. Sampai sekarang ini lebih dari satu juta postingan adegan “tantangan manekin” yang bisa dinikmati.

Gerakan ini dimulai dari anakanak sekolah menegah di Florida, yang kemudian menyebar ke seantero dunia. Termasuk ke Indonesia. Unggahan dari Aceh, atau daerah lain bermunculan. Baik oleh polisi, atau pengusaha atau profesi apa saja. Sesungguhnya “mode” yang melanda dunia sudah lama. Gerakan Gangnam Style, PPAP— pine-pineapple-aple-pie, Dab Dance, atau Harlem Shake sebelumnya, sudah lama menggoyang dunia. Gerakan yang mudah diikuti dan ditiru—sesuatu yang cepat menyebar, dibanding misalnya gerakan salsa, atau twitz atau caca atau langendriyan, misalnya—oleh siapapun. Tanpa merasa bersalah kalau tak bisa melakukan dengan baik.

Jenis massal model Mannequin Challenge memang tak mengharuskan kemampuan khusus tertentu. Bisa ditiru oleh siapa saja, usia berapa saja, di mana saja lokasi dimainkan, juga waktu pagi atau tengah malam sekalipun. Itu sebabnya, kalau benar baru menyebar 26 Oktober kemaren, hanya butuh sebulan untuk mendunia. Dan memberikan kegembiraan, keceriaan, kebersamaan. Di ruang kelas, di saat istirahat para siswa bisa melakukan ini. Kadang juga menyertakan guru untuk ikutan. Atau di kantor, para pegawai memperagakan dalam diam, suasana rapat. Dan lain sebagainya.

Inilah tari dunia yang luar biasa. Yang menyebar secepat kilat. Saya masih ingat ketika tari breakdance pertama kali dimainkan di negeri ini di 80an, muncul penolakan. “Tari Kejang” ini dianggap berbahaya, dan terutama kurang sopan, setidaknya tidak cocok. Memerlukan waktu panjang sebelum akhirnya diterima, dan konon “membebaskan” para pecandu narkoba. Sekurangnya inilah awal tari yang berasal dari daerah kumuh di New York. Penolakan yang sama ketika dansa rock and roll, atau jenis lain melanda negeri ini.

Tidak kali ini. Dunia komunikasi yang bergegas dan bersamaan waktu berlangsungnya, membuat informasi menyerbu ke semuanya. Tanpa batas hierarki, tanpa penghalang petinggi, karena tak ada yang bisa memonopoli kuasa.

Inilah kegembiraan yang ditawarkan cuma-cuma, dan kita bebas untuk mengikutinya. Sebagai selingan kejenuhan atau hal rutin. Juga sekaligus—barang kali, mengingatkan bahwa berdiam sejenak, bahwa mematung, lebih sehat dari berteriak atau menebarkan kebencian. Barang kali.

 
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment