Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Mala Meme

Mala Meme

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Dunia media sosial makin bikin kesal pada sebagian orang, dan sebagian lagi membawa sial. Salah satu bentuk yang popular dalam media sosial adalah munculnya meme. Meme, atau biasa diucapkan mim, bisa berupa gambar atau foto atau ilustrasi atau campuran dengan teks.

Bisa lucu, tapi juga saru —berbau porno, atau tak menentu. Yang terakhir meme yang saya istilahkan sebagai “mala meme”—meme yang menjadi bencana, sengsara, yang terlibat di dalamnya.

Misalnya yang menyangkutnama besar Setya Novanto. Nama ini adalah ketua DPR-RI yang beberapa waktu terakhir ini namanya “menarikperhatian”.

Politisi yang terkait pertemuan dengan presiden Amerika Trump misalnya, atau munculnya istilah “papa minta saham”, atau soal beras Vietnam, atau hal lain, sampai yang terakhir mengenai pembuatan Kartu Tanda Penduduk, KTP elektronik yang kasus korupsinya masih disidangkan di pengadilan.

Dengan kata lain Setnov, demikian nama panggilannya, adalah nama yang selalu diberitakan. Termasuk ketika Setnov dirawat di rumah sakit. Saat itu juga berbagai macam meme viral di media sosial.

Ini yang dianggap oleh pihak Setnov, melalui pengacaranya, diduga sebagai penyebar meme bernada penghinaan. Kononada 14 tim kuasa hukum, melaporkan 31 akun di medsos —15 twitter, 9 instagram, 8 facebook— dan satu orang dinyatakan sebagai terdakwa.

Seorang perempuan, 29 tahun, yang kader anggota partai —sampai di sini persoalannya menjadi luas dan menjadi drama. Karena masuk wilayah hukum, masuk pasalpasal tentang distribusi dokumen elektronik, atau tentang penghinaan dan pencemaran nama baik dengan ancaman hukuman.

Masalahnya tetap belum bergeser: sejauhmana meme itu menghina atau tidak? Atau sampai di mana sebenarnya kebebasan dan atau rambu-rambunya. Karena kalau benar bisa dikenakan pada satu orang, bisa dikenakan kepada ratusan atau ribuan yang lain yang turut menyebarkan —langsung atau tidak.

Dan beberapa meme masih berlanjut, terkait dengan peristiwa yang hangat. Dianugrahi piala sebagai aktor terbaik, namanya menjadi hari kesaktian, atau terkait dengan judul film sampai dengan matahari minta maaf kalau membuat kesiangan.

Begitulah dinamika yang ada dalam media sosial, yang bergegas, menyebar, dalam hitungan sepersekian kejap. Dan kalau tak segera bisa dibakukan dengan contoh konkret mana yang menghina —dan melucu atau mengritik, kasus mala meme akan terulang, dan terus berkelanjutan.

Apalagi tahun depan ini sudah memasuki “tahun politik”. Dimana segala yang tak mungkin menjadi sangat meyakinkan. Dalam kondisi seperti ini, tak ada sikap lain selain ekstra hatihati —lebih dari sebelumnya.

Baik dalam menulis di media sosial— atau melike, atau meneruskan, atau mengomentari. Jurus yang sesuai dengan itu adalah menahan diri. Dengan begitu korban dari mala meme bisa berkurang.

Pada saat yang sama kedewasaan bermedia sosial di masyarakat makin termelekan, makin dipahami konsekuensinya. Mudah-mudahan belum terlalu terlambat.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment