Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
WAWANCARA

Mahendra Siregar : Kelapa Sawit Jadi Andalan Ekspor

Mahendra Siregar : Kelapa Sawit Jadi Andalan Ekspor

Foto : ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
A   A   A   Pengaturan Font
Perkembangan terakhir, komoditas kelapa sawit nasional dinobatkan sebagai komoditas andalan karena mampu memberikan kontribusi devisa hingga 270 triliun rupiah. Nilai kontribusi ini hanya sedikit di bawah penyumbang devisa terbesar Indonesia yakni sektor pariwisata.

Kehadiran kelapa sawit di masa mendatang sangat dibutuhkan. Sawit akan menjamin pengembangan minyak nabati dunia menuju ke produk berkelanjutan. Produktivitas yang tinggi akan membuka banyak lapangan kerja. Nilai tambah yang tinggi dari sawit serta aneka turunan produknya akan banyak memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

Selain kondisi tersebut, Indonesia harus menghadapi perkembangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Di bawah bayang-bayang akan terjadinya resesi dunia dan perkembangan teknologi yang pesat menuju era digital, membutuhkan strategi jitu dan cerdas dalam menghadapinya agar Indonesia dapat menangkap peluang yang ada.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan jajaran Kementerian Luar Negeri menghadapi percaturan politik dan ekonomi dunia ke depan serta memasarkan sawit Indonesia ke negara-negara sahabat, wartawan Koran Jakarta, Suharto berkesempatan mewawancarai Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar, ketika digelar kegiatan Indonesia Palm Oil Conference 2019 and 2020 Price Outlook, di Bali, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Bagaimana Anda menyikapi percaturan politik dan ekonomi dunia, yang berkembang pesat menuju era digital. Bagaimana semua ini bisa menginspirasi dalam pengelolaan perdagangan luar negeri?

Tadi saya berkesempatan memberikan pandangan bagaimana kondisi global saat conference. Sekarang kan ada masa disrubsi secara alami, ditandai dengan mempertanyakan kembali nilai-nilai. Bagaimana sekarang ini yang dianggap politik atau ekonomi benar dan mapan, dan secara filosofi benar, ternyata terdisrubsi besar.

Tentu kondisi ini membuat dunia industri yang merasa nyaman dengan kemapanannya harus mengikuti perkembangan tersebut?

Benar, dalam konteks ini, banyak orang yang merasa tidak lagi berada di comfort zone. Ada yang malah berpikir sebaiknya dunia kembali ke semula, keluar dari disrubsi berlangsung . Itu juga tak akan membawa kembali ke comfort zone.

Era disrubsi ini sebenarnya memberikan peluang yang tidak ada di era sebelumnya. Peluang di Indonesia, ekonomi mulai stabil, pasar besar, dan khususnya industri kelapa sawit dengan minyak nabati yang paling kompetitif di dunia.

Menurut Anda langkah strategis seperti apa yang akan dilakukan dari sisi kepentingan ekonomi Indonesia?

Berkaitan dengan industri sawit, di tingkat global, kami menyampaikan bahwa sawit justru akan menjamin pengembangan minyak nabati dunia menuju ke produk berkelanjutan. Hal itu terjadi karena produktivitas yang tinggi, berada di area yang memberikan lapangan kerja cukup banyak. Nilai tambah yang tinggi serta aneka produk turunannya memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

Bagaimana prospek perkembangan perdagangan dunia, khususnya yang berkaitan dengan kelapa sawit?

Perbandingan dengan minyak nabati lain, yang permintaannya naik, ya jawabannya sawit. Tentu bagaimana menghadapi perkembangan cepat, yang diutamakan adalah mendorong pemanfaatan dan mendorong nilai tambah produk sawit.

Menurut Anda, perkembangan perekonomian dunia akan mengarah ke wilayah mana?

Dalam konteks perkembangan ekonomi dunia, di masa mendatang justru bagaimana kita mendorong makin berperannya negara berkembang dan emerging market dalam wadah perekonomian dunia. Tentu berkaitan dengan ini maka permintaan minyak nabati bakal terus meningkat.

Bagaimana menurut Anda, positioning industri Indonesia di tengah pasar global?

Dipandang dari perdagangan internasional, tentu kelapa sawit jadi andalan. Kelapa sawit sebagai kunci perekonomian Indonesia sekaligus menjadi tolok ukur keberhasilan bagi hubungan kerja sama dan perjanjian internasional kita.

Ke depan, bentuk perjanjian lebih kepada bilateral dan akan meninggalkan kesepakatan regional ataupun global. Bila ada kerja sama perjanjian internasional, kita harus pastikan kerja sama tadi menempatkan posisi sawit kita menjadi kekuatan sentral kawasan dan menghadirkan kondisi yang saling menguntungkan.

Menurut Anda posisi Indonesia apa terancam atau justru menguntungkan di era disrubsi?

Dalam konteks itu, justru di tengah disrubtion, Indonesia yang bertumbuh stabil dan tinggi akan semakin penting di dalam ekonomi dan mengambil pimpinan di tingkat kawasan. Dalam konteks itu, kita melihat kepemimpinan para diaspora, dalam memperjuangkan kepentingan nasional dan sektor industri kelapa sawit.

Apa Presiden Joko Widodo memberikan target khusus kepada Anda tentang pengembangan kelapa sawit Indonesia?

Di bagian penutupan tadi saya sampaikan kepada peserta seminar soal itu. Presiden Joko Widodo menugasi kami untuk melakukan koordinasi, menentukan kebijakan serta langkah, bagaimana memperjuangkan kelapa sawit untuk kepentingan Indonesia. Kami tentu lebih siap. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sebagai stakeholder kami di sawit, sama-sama siapnya.

Selama ini konsentrasi perundingan apa di tengah era sunset Uni Eropa bagi kepentingan Indonesia?

Pertama, berkaitan dengan Uni Eropa dan perundingan Uni Eropa- Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA (perjanjian kemitraan ekonomi komperhensif Indonesia-Uni Eropa) yang tengah berlangsung. Langkah yang dilakukan sebenarnya sangat jelas yakni melihat draft teks dari CEPA yang dirundingkan harus dirumuskan posisi yang fair terhadap kelapa sawit. Untuk itu kami akan mereveiw. Kami akan laporkan kalau ada hasilnya nanti.

Apakah dalam perundingan dunia juga membahas persoalan krusial seperti isu lingkungan di kelapa sawit?

Berkaitan dengan argumentasi soal aspek lingkungan dan Sustainable Development Goals (SDGs), pemerintah sangat terbuka dan ingin mendorong. Sebenarnya langkah bersama internasional untuk benar-benar melakukan evaluasi kebijakan yang menyeluruh terhadap seluruh minyak nabati dilihat dari perspektif lingkungan hidup dan SDGs.

Jadi jangan dilihat dari satu sisi saja, apalagi sisi yang tidak dilakukan secara scientific seperti ILUC (indirect land-use change). Hasilnya beda, jadi jangan mengada-ada. Jangan hanya satu faktor saja. Harus mempertimbangkan semua faktor.

Bagaimana pendapat Anda tentang perlakuan masalah lingkungan oleh negara barat?

Misalnya pupuk maupun penggunaan produk kimia di dalam produk nabati di Eropa, berkaitan dengan ground water, sekarang pun banyak menuai protes dari pegiat lingkungan di sana. Dalam keseluruhan, environtmental dan climate change, banyak juga yang harus dipenuhi Eropa.

Bagaimana Anda menanggapi adanya kampanye negatif sawit di tengah peta kebutuhan dan pasokan minyak nabati dunia?

Kalau tidak ada sawit, harus dibuka setidaknya 6-10 kali luas lahan sawit yang ada selama ini atau menghabiskan hutan amazon, dan hutan dunia. Dengan sawit, terbantu landbank dunia, tidak harus dikonversikan minyak nabati, dan bagaimana memenuhi minyak nabati berkembang makin penting.

Bagaimana komitmen pemerintah terhadap pengembangan sawit nasional?

Ya, kalau disinggung environmental good, kami pasti melihat konsesi minyak sawit yang ada. Selama setahun kami lihat. Kalau komitmen tinggi, kami akan betemu di sini. Kalau tidak, kami kumpul di tempat lain.

Sebagai pejabat bidang perekonomian luar negeri, bagaimana pendapat Anda tentang perjuangan perundingan perdagagangan dunia?

Kalau upaya World Trade Organization/WTO (organisasi perdagangan dunia) itu sebagai keharusan. Kalau tidak untuk apa kami menjadi anggota, kalau tidak melakukan kewajiban sebagai anggota untuk menuntut yang tidak fair? Dalam perdagangan dunia, AS melakukan kebijakan ekspor biofuel, dan Eropa dengan Red-II, kita tidak pertimbangkan lamalama. Saya tegaskan, itu bukan opsi tetapi keharusan.

Sedangkan langkah-langkah lain, kami melakukan pendekatan sekaligus inisiatif, untuk mendorong betul terpenuhi suatu platform, sistem yang bisa membantu keberlanjutan secara fair untuk seluruh minyak nabati. Untuk itu, sawit yang siap menjadi pion-nya. Kami mendorong dan encourage yang lain juga. Kami menjamin produk seiring meningkatnya permintaan global dunia dalam lima sampai 10 tahun mendatang, serta direspons secara bertanggung jawab.

Dari sisi produksi Indonesia disebut sebagai pasar terbesar dunia, menurut Anda kalkulasinya seperti apa?

Pasar terbesar sawit dunia adalah Indonesia. Kami memiliki konsumsi 12 hingga 25 juta ton per tahun, tidak ada yang lebih besar. Kedua adalah India, sekitar 10 juta ton per tahun. Jadi kalau dilihat tadi harus diutamakan konsumsi dalam negeri, kemudian bagaimana memenuhi pasokan renewable energy dan palm oil dengan segala turunannya.

Untuk peluang pengembangan pasar industri sawit nasional rencananya seperti apa?

Kalua dilihat dari kaca mata global, pendekatan pasar Tiongkok, India, Pakistan, Bangladesh, dengan pendekatan melalui kerja sama yang saling menguntungkan, baik dari sisi perdagangan maupun investasi. Dengan era disrubsi, ke depan lebih bayak kesepakatan dilakukan bilateral, disamping multilateral. Jadi basisnya adalah bilateral yang saling menguntungkan.

N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment