Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Kuliah Magang | Mereka Berangkat Ke Taiwan Melalui Calo

Mahasiswa Kerja Paksa di Taiwan Korban Penipuan

Mahasiswa Kerja Paksa di Taiwan Korban Penipuan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Ratusan mahasiswa yang diduga menjadi korban kerja paksa di Taiwan tidak melalui jalur Kemristekdikti, atau illegal.

 

SEMARANG – Ratusan ma­hasiswa yang diduga menjadi korban kerja paksa di Taiwan adalah korban penipuan. Para mahasiswa itu berangkat sen­diri ke Taiwan melalui calo de­ngan iming-iming bisa diterima di perguruan tinggi di negara tersebut, namun ternyata tidak diterima.

“Mereka, mahasiswa yang tidak melalui jalur Kemen­ristekdikti,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mo­hamad Nasir, usai membuka Rapat Kerja Nasional Kemen­ristekdikti 2019 di Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, Kamis (3/1).

Nasir mengatakan, karena tidak melalui jalur resmi (Kem­ristekdikti) maka itu bukan ke­wenangan Kemenristekdikti. Namun, kasus ini jadi rujukan, ini urusan tenaga kerja.

Dia menjelaskan para ma­hasiswa tersebut tidak berang­kat secara resmi dari kampus di Indonesia, melainkan lulusan-lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berangkat dari agensi-agensi.

Kendati demikian, pihak Ke­menristekdikti terus berkoor­dinasi dengan Taipei Economic and Trade Office (TETO), yakni kamar dagang dan industri Tai­wan, baik yang ada di Taiwan maupun Jakarta.

Dari jajaran duta besar, kata dia, juga diminta untuk melaku­kan pendataan terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang sedang menempuh studi lanjut di luar negeri, termasuk Taiwan.

Selain itu, Nasir mengim­bau pelajar ataupun mahasiswa yang akan studi lanjut ke pergu­ruan tinggi di luar negeri untuk berkoordinasi dan berkomuni­kasi dengan Kemenristekdikti.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI segera menindaklanjuti laporan me­ngenai ratusan mahasiswa In­donesia yang dipaksa bekerja di sejumlah pabrik di Taiwan. Mereka melakukan kuliah/ magang sejak 2017.

Kejadian pemaksaaan ter­sebut diperoleh dari Kamar Dagang dan Ekonomi Indo­nesia (KDEI) Taipei, Taiwan. KDEI Taipei sendiri telah ber­koordinasi dengan otoritas se­tempat guna memperoleh kla­rifikasi.

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Ne­geri RI, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan, dari hasil pendal­aman awal yang dilakukan oleh KDEI Taipei diketahui situasi yang dihadapi para mahasiswa peserta skema kuliah/magang di Taiwan berbeda-beda di de­lapan perguruan tinggi yang menerima mereka. Karena itu, KDEI Taipei akan melakukan pendalaman lebih lanjut guna mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh.

Tetap Mengirim

Menristekdikti menegaskan, Kemristekdikti tetap akan men­jalankan program pengiriman mahasiswa ke Taiwan dan kem­bali memberangkatkan mere­ka dalam waktu dekat. “Kalau kami (Kemristekdikti) yang akan kirim ini diminta terus, segera berangkat,” katanya.

Nasir menyebutkan, saat ini ada 320 mahasiswa yang akan diberangkatkan pada Janu­ari-Februari 2019 ke Taiwan. “Nanti Maret-April mendatang, saya persiapkan 1.000 maha­siswa,” tambahnya.

Guru Besar Fakultas Ekono­mika dan Bisnis Undip itu, menjelaskan mahasiswa yang ikut program Kemenristek Dikti ke Taiwan sudah diatur tata cara perkuliahannya secara jelas.

“Sudah jelas itu, di delapan kampus. Aturannnya begini, mereka satu tahun di kampus, laboratorium dan kuliahnya, kemudian satu tahun berikut­nya di industri,” katanya.

Menristekdikti menjelas­kan melalui cara itu mahasiswa bisa menerapkan ilmu dan lu­lus mendapatkan ijazah, seka­ligus mendapatkan sertifikat kompetensi dengan biaya se­penuhnya ditanggung.

Kalaupun sudah lulus, Nasir, tak mempermasalahkan mere­ka akan kembali untuk bekerja di Indonesia atau tetap bekerja di Taiwan karena sekarang ini sudah era global.

“Kalau sudah lulus, mau pu­lang ke Indonesia atau tidak, urusan yang bersangkutan. Se­lain Taiwan, negara lain kami ada kerja sama, seperti Korea dan Jepang,” katanya. SM/Ant/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment