Mahasiswa Indonesia Terlibat Penelitian Vaksin Covid-19 di Oxford | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments

Mahasiswa Indonesia Terlibat Penelitian Vaksin Covid-19 di Oxford

Mahasiswa Indonesia Terlibat Penelitian Vaksin Covid-19 di Oxford
A   A   A   Pengaturan Font

Tidak disangka, dalam pengembangan vaksin oleh Universitas Oxford, Inggris, melibatkan mahasiswa Indonesia bernama Indra Rudiansyah. Kisah mahasiswa S3 jurusan Clinical Medicine dibagikan oleh akun Twitter @wpusparini. Kisahnya kemudian viral di media sosial.

Akun tersebut memberikan informasi bahwa Indra turut serta dalam pengembangan vaksin Covid-19 di Universitas Oxford yang memproduksi vaksin bersama perusahaan farmasi global AstraZeneca.

“Hanya ingin memberikan teriakan untuk sesama mahasiswa Oxford Indonesia saya @rudianindra yang ikut serta dalam usaha luar biasa ini,” cuit wulan pusparini pada 20 Juli 2020.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Juni lalu, vaksin buatan AstraZeneca adalah kandidat vaksin terdepan dan paling maju dalam hal pengembangan.

Dalam wawancara bersama CNNIndonesia TV, Indra bercerita mengenai keterlibatannya dalam pengembangan vaksin di Universitas Oxford. Ia mengatakan, sebelum menjadi pandemi, dirinya tak terlibat dalam pengembangan vaksin, meski Oxford telah mulai melakukan pengembangan.

“Di awal Januari lalu, kolega saya sudah memulai proyek ini tapi ini khusus untuk tim emerging patogen disesase, kalau saya di tim Malaria, bukan tim khusus di Covid,” kata Indra.

Ia menuturkan baru terlibat dalam Gugus Pengembangan Covid-19 di Univesitas Oxford setelah Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi. Pemimpin pengembangan membuka kesempatan bagi seluruh mahasiswa, staf, maupun mahasiswa pastdoctoral untuk bergabung ke tim pengembangan.

Ia lalu mendaftar dan membuat daftar keahlian yang dimiliki. Indra ditempatkan pada pengujian untuk melihat respons antibodi dari orang yang sudah diberi vaksin. Baginya, bagian ini penting karena dapat melihat efek samping maupun kemanjuran vaksin.

“Saya dapat bagian meneliti respons para sukarelawan. Jadi orang-orang yang sudah diimunisasi diambil sampelnya oleh tenaga medis, kemudian diproses. Serumnya saya gunakan  untuk melihat apakah mereka mererspons vaksin itu positif atau tidak,” ujar Indra.

Tim Oxford bisa melakukan perkerjaan dengan cepat karena didukung banyak orang. Jika biasanya untuk mendapat data uji klinis tahap I vaksin baru, dibutuhkan waktu 5 tahun, maka tim mampu mendapat data uji klinis tahap I hanya dalam waktu 6 bulan.

Indra mengatakan, tak khawatir terekspos virus Covid-19 di laboratorium karena sudah menerapkan protokol kesehatan hingga Alat Perlindungan Diri (APD). Ia menambahkan, laboratorium menerapkan jarak sosial atau physical distancing juga.  “Kita di lab aman karena ada peralatan medis. Yang menantang itu dari rumah ke kantor,” ujar Indra. hay/G-1*

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment