Mahasiswa Hong Kong Tolak Menyerah | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Konflik Politik

Mahasiswa Hong Kong Tolak Menyerah

Mahasiswa Hong Kong Tolak Menyerah

Foto : AFP/ ANTHONY WALLACE
BERI PERTOLONGAN I Seorang pengunjuk rasa diberikan pertolongan oleh tim kesehatan sambil menunggu datangnya ambulan di kampus Hong Kong Polytechnic University, Selasa (19/11). Mahasiswa ini mengalami sesak napas setelah aparat melepaskan tembakan gas air mata ke kampus itu.
A   A   A   Pengaturan Font

HONG KONG – Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, meminta para mahasiswa dan demonstran pro demokrasi yang masih bertahan dalam kampus Hong Kong Polytechnic University (PolyU) menyerah dan membubarkan diri. Tetapi, para pengunjuk rasa menolak menyerah meski telah dikepung polisi. Lam menu­turkan masih ada sekitar 100 orang yang bertahan di Polytechnic University sejak krisis terjadi pada tiga hari lalu.

Polisi telah mengepung universitas di pusat semenanjung Kowloon ini dan menangkap siapa pun yang meninggal­kan gedung itu. Lam mengatakan setida­knya 600 pemrotes telah meninggalkan gedung kampus, termasuk 200 orang yang berusia di bawah 18 tahun. Mereka yang berusia di bawah 18 tahun tidak segera di­tangkap, namun akan tetap menghadapi dakwaan.

Sementara 400 orang telah ditangkap. Dia memperingatkan pengunjuk rasa di kampus harus menyerah jika ingin ada resolusi damai.

“Kami akan menggunakan cara apa pun untuk terus membujuk dan mengatur supaya para pengunjuk rasa meninggalkan kampus secepat mungkin hingga seluruh operasi ini dapat berakhir secara damai,” kata Lam setelah pertemuan dengan para penasihatnya, Selasa (19/11).

“Mereka harus menghentikan ke­kerasan, menyerahkan senjata, keluar dengan damai dan mengikuti instruksi polisi,” tambah Lam.

Fase baru protes ini telah menyebab­kan kekacauan di pulau yang menjadi pusat keuangan Asia ini. Sekolah-sekolah ditutup, jalur kereta terganggu dan jalan-jalan utama diblokir.

Kerabat dari sejumlah demonstran muda yang telah tiga hari dikepung di dalam kampus ini pun dengan cemas berkumpul dan berjaga di depan kam­pus, pada Selasa. Seorang ibu yang mengaku bermarga Cheung, mengatakan dia menghabiskan semalam di sebuah taman di dekat barisan polisi sambil menunggu berita tentang putranya yang katanya termasuk orang pertama yang datang ke kampus.

“Saya sangat, sangat khawatir. Khawatir hidupnya bisa dalam bahaya. Dia ta­kut. Dia takut ditangkap oleh polisi,” ka­tanya.

Cheung berkata, dia hanya ingin pu­tranya keluar dengan selamat. “Saya per­caya mereka (polisi) tidak akan menuntut anak saya, karena dia hanya membantu orang-orang .... Dia bukan salah satu dari orang-orang berpakaian hitam, dia tidak memiliki topeng di rumah atau alat lain seperti itu, dia baru saja keluar dengan memakai jeans, kaos, dan jaket.”

Seorang ibu lain, yang mengaku ber­marga Chung, mengatakan kepada surat kabar South China Morning Post bahwa putrinya yang berusia 16 tahun masih berada di dalam universitas meskipun ada jaminan bahwa anak di bawah umur tidak akan menghadapi tindakan hukum segera jika menyerah.

“Tidak ada yang bisa membujuknya keluar sekarang. Dia ingin keluar dengan bebas, tetapi sama sekali tidak percaya kepada polisi,” kata Chung kepada surat kabar itu. “Dia berkomunikasi dengan saya, tetapi tidak mendengarkan (saran) saya.”  ang/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment