Maaf Itu Meminta Sekaligus Memberi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments

Maaf Itu Meminta Sekaligus Memberi

Maaf Itu Meminta Sekaligus Memberi

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Kata, ada kalanya menunjukkan makna yang tersirat. Dalam kata maaf, tersirat sebagai permintaan maaf, namun juga sekaligus pemberian maaf.

Pada bahasa Jawa menjadi jelas dalam , seolah satu kata : “apura-ingapura”, yang artinya maaf-memaafkan. Kata dasarnya pangapura, atau maaf. Namun daLam bahasa percakapan, jika dua orang berjabatan tangan yang diucapkan adalah “apura-ingapura”.

Ada pengertian saling, antarsesama, dan karenanya mendudukan posisi pembicara sejajar atau sama kedudukannya . Bahwa peminta maaf juga memberi maaaf, begitu juga pemberi maaf berarti peminta maaf.


Pada kata “apura-ingapura” ini menemukan makna mana kala diucapkan , misalnya, antara istri dan suami. Posisi keduanya sama, siapa pun yang mulai . Ketika seorang istri—atau suami, meminta maaf , pada saat yang sama yang dimintai juga memberi dan sekaligus meminta maaf.

Dalam pengertian ini apa yang sering dkatakan sebagai ego, sebagai gengsi, surut. Padahal gengsi memulai minta maaf adalah hambatan besar, dan sulit. Sulit bagi seseorang untuk meminta maaf pada orang lain yang secara sadar telah menyakitinya.

Atau sebaliknya: meminta maaf, padahal merasa “tidak bersalah”. Merasa bahwa “dia “ yang seharusnya melakukan duluan.

Pada suami-istri—atau saya biasa menuliskan istri-suami, juga berlaku pada hubungan kakak dengan adik. Yang kadang selain gengsi dan ego, juga dihalangi oleh rasa kikuk.


Lebih lagi jika terjadi antarmereka yang pernah berbaikan, bersama-sama, lalu berpisahan atau bermusuhan. Hubungan sesama kekasih, atau bahkan hubungan dalam ikatan keluarga, terasa sangat berat.

Padahal siapa pun yang memulai itu sama sekali tidak menunjukkan kelemahan. Tak ada hubungannya memulai meminta maaf adalah menunjuk diri sebagai pihak yang lemah. Atau kalah. Atau salah. Apalagi dalam konsep “apura-ingapura” ini.


Dalam budaya Jawa ungkapan “maaf bersama” ini muncul dalam tembang, dalam pitutur atau nasehat, yang dilagukan leluasa, sebagaimana dalam malantunkan pantun.

Bahkan salah satu ciri “wongh linuwih”, atau manusia super , manusia yang dianggap memiliki keteladanan adalah adalah “sugih pangapura”, atau kaya akan pemberian maaf.


Lebih dari semua itu, cakupan yang dimintakan maaf pada sesama—atau juga diberikan, adalah menyangkut “ yang disengaja atau tidak disengaja.’ Dan dengan bahasa penuh kesalehan menampung : lahir maupun batin. Yang terlihat atau tidak terlihat. Yang dirasakan satu piohak dan tidak disadari pihak lain.


Sungguh membahagiakan bagi diri saya, saya dibahagiakan hidup dalam masyarakat yang melalukan maaf-memaafkan, yang memiliki hari-hari khusus yang dijadikan hari istimewa. Yang dirayakan dengan jabat tangan, dengan ucapan, atau sekarang melalui SMS, atau WAG, atau apapun.

Terlebih juga diucapkan secara sadar dalam hati. Melalui tulisan di rubrik ini saya mohon maaf atas tulisan yang mengganggu, yang tidak menyenangkan .


Semoga sesudahnya, semua menjadi lebih baik, lebih membahagiakan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment