Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments

Lupus Anak, Mencintai Penyakit “Seribu Wajah”

Lupus Anak, Mencintai Penyakit “Seribu Wajah”
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Bersahabat dengan Lupus

Penulis : dr Zahrah Hikmah dan dr Rendi Aji Prihaningtyas

Tebal : viii + 204 halaman

Penerbit : Elex Media Komputindo

Cetakan : 2018

ISBN : 978-602-04-6033-8

Hingga kini, lupus masih menjadi penyakit misterius. Lupus (lupus eritematosus sistemik atau great mimicker) sering menyerang anak usia prapubertas, pubertas, dan muda. Kejadiannya terus meningkat dan biangnya sulit dideteksi. Lupus merupakan penyakit autoimun yang multisistem, kronis dan memiliki perjalanan penyakit yang variatif. Dia berkarakteristik periode flare sebagai fase aktif atau munculnya gejala. Kemudian, remisi atau hilangnya secara lengkap atau bagian dari tanda-tanda dan gejala penyakit sebagai respons terhadap pengobatan (hlm 24).

Autoimun berkaitan dengan penyakit ketika sistem kekebalan tubuh seseorang terganggu, sehingga menyerang jaringan tubuh sendiri. Sedangkan multisistem melibatkan banyak sistem tubuh manusia seperti pencernaan, pernapasan, ekskresi (ginjal, paru-paru, kulit, hati), peredaran darah, saraf, rangka dan otot, serta reproduksi (hlm 23).

Sakit lupus ditandai pembentukan auto-antibodi dan keterlibatan berbagai macam organ. Contoh kulit, otak, pembuluh darah, sel darah, paru, jantung, ginjal, dan sendi. Auto-antibodi berarti antibodi (zat yang dibentuk dalam darah untuk memusnahkan bakteri, virus untuk melawan toksin yang dihasilkan bakteri) justru berbalik menyerang diri sendiri.

Produksi auto-antibodi ini merusak inti sel dan protein tubuh (hlm 29). Titik serang lupus menyebabkan peradangan kulit, sendi, darah, dan ginjal. Lupus itu kronis karena butuh perjalanan waktu panjang untuk menjadi penyakit autoimun, bulanan hingga tahunan.

Selain faktor genetik, lingkungan berperan vital memunculkan lupus, di antaranya infeksi, imunologis, diet tinggi lemak, stres berat, dan gaya hidup tidak sehat. Lupus anak mengidap tingkat keparahan, kesakitan, dan kematian yang lebih krusial dari lupus dewasa. Kondisi sosial ekonomi pun memengaruhi lupus anak.

Sebagai hasil riset ilmiah, buku ini menengarai penderita lupus berisiko seumur hidup, gangguan emosi, tumbuh kembang, dan memengaruhi kualitas hidup. Satu-satunya harapan terbaik, pencegahan komplikasi. Tujuannya, meningkatkan angka harapan hidup seperti kasus anak lupus di negara-negara yang sudah berkembang (hlm v). Buku ini sangat menganjurkan kaum awam, keluarga, khususnya tenaga medis agar senantiasa peka dan peduli kepada anak lupus. Gejala anak terkena lupus antara lain kulit wajah kemerahan, nyeri sendi berulang-ulang (arthritis), tidak tahan cahaya matahari (fotosensitivitas), dan sariawan berulang-ulang. Tanda lain, nyeri perut berkepanjangan, radang pankreas dan saluran cerna, demam tanpa sebab, kaki bengkak, serta rambut rontok.

Jika serangan lupus di ginjal, terjadilah kebocoran protein yang menyebabkan bengkak. Jika yang diserang kulit, timbullah kelainan seperti kemerahan hingga kerusakan jaringannya. Jika yang diserang darah, muncullah perdarahan (mimisan dan muntah darah). Bila otak terkena, akan mengakibatkan kejang, gangguan mental hingga tak sadar (hlm 44). Lupus menjadi penyakit sistemik yang melibatkan jaringan seluruh tubuh. Ibaratnya, penyakit “seribu wajah.”

Di Indonesia rata-rata kasus anak lupus 10,5 persen. Tahun 2016 terdapat 2.166 penderita yang dirawat di rumah sakit dan 550 di antaranya meninggal. Ada 15-20 persen kasus lupus menyerang anak. Lupus jarang menyerang masa anak-anak. Angka insidensinya, hanya 0,3–0,9 per 100.000 anak per tahun. Bisa jadi angka insidensi lupus pada anak sebesar 10–20 dari 100.000 anak.

Perempuan rentan terhadap lupus. Studi di Iran mencatat 81 persen penderita lupus adalah perempuan. Di Tiongkok dicatat 11,2 per 100.000 orang adalah perempuan, sedangkan lupus laki-laki hanya 1,8. Data ini divalidasi kasus perempuan lupus dari Mesir, Inggris, dan India. Hal ini terkait hormon estrogen di mana anak perempuan lebih dominan.

Diresensi Yustina Windarni, alumna Politeknik API Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment