Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments
Pendidikan Tinggi I Kewirausahaan Mampu Atasi Pengangguran Terstruktur

Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Mampu Ciptakan Lapangan Kerja

Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Mampu Ciptakan Lapangan Kerja

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Pendidikan tinggi diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi dengan mendorong lulusan mampu menciptakan lapangan kerja.

 

SEMARANG - Jumlah pen­duduk yang mencapai lebih dari 262 juta jiwa, Indonesia berpeluang menjadi nega­ra dengan kekuatan ekonomi ke-7 dunia pada 2030 dan ke-4 dunia pada tahun 2050. Karena itu, pendidikan tinggi diarah­kan demi tercapainya pertum­buhan ekonomi dengan men­dorong lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan (entre­preneurship) untuk mengatasi pengangguran terstruktur.

Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Men­ristekdikti), Mohamad Nasir, saat menjadi pembicara kunci pada seminar nasional berta­juk “Brand Yourself to be Young Success Technopreneur”, di Po­liteknik Negeri Semarang, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Nasir menyebutkan, ber­dasarkan data persentase te­naga kerja Indonesia saat ini, 42 persen adalah angkatan kerja dengan pendidikan rendah, na­mun persentasenya akan terus menurun. Artinya, pendidik­an lulusan mulai berubah dan menjadi lebih baik. Sementara bonus demografi, manakala ti­dak dimanfaatkan dengan baik akan menjadi malapetaka.

“Karena itu, peningkatan kompetensi SDM (sumber daya manusia) amat penting. Oleh karena itu, pendidikan harus cocok dengan industri, agar daya saing bangsa meningkat, selain tentunya juga tingkat kesiapan teknologi juga ha­rus ditingkatkan. Sebab, kalau tingkat kesiapan teknologi ren­dah, maka inovasi akan rendah pula,” ungkapnya.

Dia menambahkan, tan­tangan ke depan juga semakin sulit, apalagi menghadapi revo­lusi industri 4.0. Untuk meng­hadapi itu, cara yang dapat dilakukan dengan open mind, open heart, dan open willing agar tantangan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Selain itu, lanjutnya, da­lam memasuki zaman yang semakin kompetitif, ekonomi digital mengambil peranan penting. Contoh paling ter­lihat adalahkonsep sharing economy yang dilakukan salah satu perusahaan ojek online yang berhasil melakukan eks­pansi ke luar negeri, maupun marketplace yang dilakukan perusahaan-perusahaan start-up saat ini.

“Muncul teknologi baru mengakibatkan perubahan luar biasa di semua disiplin ilmu, ekonomi, dan industri. 75 persen pekerjaan melibatkan kemampuan sains, teknologi, teknik dan matematika, inter­net of things, oleh karenanya lulusan perguruan tinggi ha­rus siap untuk digital challenge dan memiliki digital talent. Lulusan politeknik utamanya nanti tidak hanya mendapat­kan ijazah, tetapi memiliki sertifikat profesi,” papar Men­ristekdikti.

Nasir juga menekankan bahwa di dunia industri kini harus selalu membawa pe­mikiran good things making good products, making people then making products. Konsep pembentukan SDM tersebut harus dijalankan untuk meng­hadapi persaingan di era revo­lusi industri 4.0, terutama un­tuk mencapai link and match dengan dunia industri.

“Yang tak kalah penting adalah memahami literasi baru. Literasi lama (membaca, menulis, dan berhitung) seba­gai modal sudah didapatkan. Sekarang harus belajar literasi baru, yaitu literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia (humanities, komunikasi, ber­pikir positif). Setelah itu laku­kan belajar sepanjang hayat,” papar Nasir.

Pola Meme

Dalam kesempatan tersebut, Nasir juga mengatakan untuk mendukung dan menghadapi revolusi industri 4.0, pola po­liteknik pun kini mulai mene­rapkan pola Multi Entry Multi Exit (Meme). Semua program adalah Diploma IV. Multi-entry berarti masuk program bisa awal tahun pertama, awal ta­hun kedua, awal tahun ketiga, atau awal tahun keempat.

Multi-exit berarti keluar pro­gram bisa akhir tahun kedua, akhir tahun ketiga, atau akhir tahun keempat. “Setiap ma­hasiswa menyelesaikan setiap tahapan Diploma II, Diploma III atau Diploma IV mendapat­kan ijazah yang sesuai. Kemu­dian, di samping mendapatkan ijazah, mahasiswa juga menda­patkan sertifikat kompetensi, apabila mereka lulus dalam tes atau ujian sertifikasi,” pungkas Menristekdikti. eko/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment