Koran Jakarta | February 22 2019
No Comments
Penelitian Benda Seni

Lukisan Jadi Aset Keuangan Masa Depan

Lukisan Jadi Aset Keuangan Masa Depan

Foto : ISTIMEWA
PERTAHANKAN DISERTASI - Pelukis, kritikus seni, dan kurator lukisan Istana, Mikke Susanto (kanan) dan Ketua Umum organisasi penulis Satupena, Nasir Tamara seusai mempertahankan disertasi doktor di UGM, Yogyakarta, Jumat (11/1).
A   A   A   Pengaturan Font

YOGYAKARTA – Sebuah lukisan dalam konteks eko­nomi, dianggap sebagai aset keuangan di masa depan. Nilai ekonomis sebuah lukisan para­lel dengan nilai pasar. Dalam pasar sebuah lukisan, semua­nya tergantung pada kesediaan konsumen membayar harga yang ditentukan oleh penjual.

“Sejumlah metode pene­tapan harga dalam ilmu ekono­mi telah banyak dikaji. Adapun metode penetapan harga benda seni memiliki cara tersendiri,” kata pelukis, kritikus seni, dan kurator lukisan Istana, Mikke Susanto saat mempertahankan disertasi dalam ujian terbuka promosi doktor pada Program Studi Pengkajian Seni Pertun­jukan dan Seni Rupa, Universi­tas Gadjah Mada (UGM), Yog­yakarta, Jumat (11/1).

Disertasi Mikke yang ber­judul Pengembangan Indi­kator-indikator Penatapan Lukisan pada Panduan Peni­laian Koleksi Karya Seni Istana Kepresidenan Republik Indo­nesia dan Implikasinya terha­dap Wacana Seni ini berhasil dipertahankan dan diberikan nilai sangat memuaskan. Dis­ertasi ini dipertahankan di hadapan lima anggota dewan penguji yaitu Prof Dr Basu Sw­astha MBA, Prof Drs Soeprapto Soedjono MFA, Ph.D, Prof Dr M Agus Burhan M.Hum, Dr Daud ArisTanudirjo MA, dan Dr Djuli Djatiprambudi M.Sn.

Metodologi penelitian sum­ber primer yang dipakai dalam penelitian ini adalah naskah Panduan Penilaian Koleksi Karya Seni Istana Kepresidenan Republik Indonesia (2011). Di luar itu ada pula sumber-sumber pendukung berupa lukisan. Da­lam penelian ini, Mikke meneliti 5-20 karya lukisan sebagai sam­pel penelian yakni Raden Saleh, S Sudjojono, Rudolf Bonnet, Ba­soeki Abdullah, dan Dullah.

Agenda Kebudayaan

Kajian mengenai bisnis dan distribusi seni, nilai seni, harga lukisan, dan indikator penentu harga merupakan hal penting yang mendasari riset ini. Menu­rut Mikke, penilaian aset benda seni yang dilakukan Kementeri­an Sekretariat Negara ini perlu dimengerti sebagai bagian dari agenda kebudayaan, bukan se­mata agenda ekonomi.

“Benda seni yang dinilai pun sejatinya sebagai hasil wari­san kebudayaan, tidak dijual­belikan. Karena alasan itulah, penilaian aset atau penetapan harga yang dilakukan harus di­dasari pengetahuan budaya yang mengikutinya,” kata Mikke.

Mikke mengutip Tekindor (2012), bahwa lukisan memiliki nilai konsumsi, nilai estetika, dan prestise bagi seniman dan kolektornya. Begitu banyak yang menganggap lukisan se­bagai investasi menyebabkan seni telah menjadi fokus penel­ian ekonomi yang hangat de­wasa ini. sur/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment