Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments
Dana Bergulir

LPDB Perluas Pasar melalui Indonesia Syariah Fair

LPDB Perluas Pasar melalui Indonesia Syariah Fair

Foto : ISTIMEWA
Direktur Utama LPDB-KUM­KM, Braman Setyo.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Lembaga Pe­ngelola Dana Bergulir Kope­rasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) berupaya memperluas dan meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah melalui ajang Indonesia Syariah Fair (Insyaf).

Direktur Utama LPDB-KUM­KM, Braman Setyo, di Jakarta, Senin (10/9), mengatakan In­syaf akan digelar pada27–29 November 2018 di Jakarta dan diharapkan dapat mendorong peningkatan pangsa pasar ke­uangan syariah di Indonesia yang saat ini masih rendah yakni sebesar 5,3 persen.

“LPDB mendorong agar da­pat berkontribusi meningkatkan market share keuangan syariah dari 5,3 persen itu,” katanya.

Pangsa pasar keuangan sya­riah di Indonesia dinilainya masih amat kecil jika diban­dingkan dengan Malaysia yang jumlahnya mencapai 24,7 persen.

Menurut Braman, ada beberapa faktor yang memengaruhi minim­nya pangsa pasar, salah satunya belum meluasnya penggunaan keuangan sya­riah, rendahnya penetrasi ke sektor riil yang produktif di masyarakat, termasuk di sektor ink­lusi mikro dan usaha kecil.

“Karena itu, berbagai upaya strategis dilakukan LPDB-KUMKM dalam mengakselera­si keterlibatan berbagai lembaga pembia­yaan syariah dan pemberdayaan KUMKM di In­donesia khusus­nya pembiayaan pola syariah, sa­lah satunya mela­lui Insyaf ini,” ujar Braman.

Direk­tur Pem­biayaan Syariah LPDB-KUMKM, Jaenal Aripin, menambahkan, salah satu penyebab masih mi­nimnya pangsa pasar keuang­an syariah karena selama ini ada asumsi lembaga keuangan syariah khususnya perbank­an lebih banyak mengarah pada pembiayaan sektor usaha menengah ke atas, bahkan hampir mengabaikan sektor usaha mikro dan kecil.

“Arah ini kemudian menafi­kan para pelaku usaha mikro dan kecil bersentuhan dengan lembaga perbankan, sehing­ga terkesan lembaga keuang­an bank sangat eksklusif atau hanya bisa diakses para peng­usaha pada level tertentu, dan tidak terbuka untuk peng­usaha dari berbagai level,” ucap Jaenal.

Oleh karena itu, lanjut Jae­nal dengan adanya Insyaf ini diharapkan lembaga keuang­an khususnya bank, mengubah arahnya dari lama ke arah baru dengan lebih inklusif, atau ter­buka bagi para pengusaha dari berbagai level termasuk juga sektor usaha mikro. Dengan de­mikian, para pengusaha mikro yang selama ini belum banyak menikmati bantuan pinjaman dari lembaga keuangan bisa terfasilitasi.

“Harapan ini wajar, meng­ingat secara kuantitas, peng­usaha mikro menempati jum­lah terbesar dari skala usaha yang ada di Indonesia,” pung­kasnya. mza/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment