Koran Jakarta | April 22 2018
No Comments

Literasi untuk Mendapatkan Remisi

Literasi untuk Mendapatkan Remisi

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Tampa banyak gembar-gembor, ada gerakan yang sangat bagus, yang membantu para narapidana—meraka yang menjalani masa hukumannya dalam penjara.

Yaitu mengajarkan literasi, perhatian kepada para napi agar belajar mengenai tulis-menulis, atau membaca, atau mengarang. Dengan mengetahui dunia penulisan, diharapkan para napi bisa bertambah pandai, bertambah luas pengetahuannya.

Dan lebih dari itu semua, mereka akan mendapatkan remisi. Remisi adalah pengurangan hukuman karena napi berbuat baik, sudah menjalani hukuman sedikitnya enam bulan. Dengan pemberian literasi, tujuan dan upaya agar para napi menjadi lebih baik lagi dimungkinkan.

Karena secara perundang-undangan, hal itu dimungkinkan. Biasanya remisi diberikan setiap tanggal 17 Agustus, atau hari raya keagamaan, dengan misalnya menjadi tanping, tenaga penamping, yang disuruh-suruh oleh sipir. Atau berbuat baik seperti menjadi pendonor darah, atau mengajar hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan.


Kini itu juga dimungkinkan jika ada literasi sastra. Atau tertulis. Ide ini berhasil dilakukan di Italia dan Bolivia. Akan dicobakan di Indonesia. Akhir bulan Februari lalu, diadakan kegiatan para napi.

Mereka berpentas, membawakan musik, juga diskusi, dan bahkan ada kamping bersama. Ini sungguh luar biasa. Dirjen Pemasyarakatan langsung terjun ke lapangan, dengan menanam pohon atau bersama para napi mengutarakan niat besar.

Beberapa organisasi kemasyarakatan yang berkaitan dengan kegiatan narapidana, terjun langsung. Saya pernah mengalami berada dalam penjara, namun keakraban tak terjadi.

Kami saling bercaya, tak takut napi lari, atau memainkan kenakalan. Apalagi dalam kegiatan ini ada Pustake Bergerak yang selama ini terus melakukan kegiatan yang mulia. Mengirimkan buku-buku bacaan berton-ton dengan gratis.

Nirman Ahmad benar-benar mendedikasikan diri, sehingga kegiatan bisa terjadi. Saya termasuk yang ditodong untuk bicara, dan saya selama dalam penjara menuliskan beberpa novel—dengan nama samaran sekalipun. Artinya, para napi tak perlu cemas jika punya nama. Saya tak pakai nama asli pun karangannya tetap laku. Dimuat di media, diterbitkan sebagai buku, dibuat sinetron, atau bahkan film.
Pengurangan hukuman bagi napi yang mendapat remisi melalui kegiatan literiasi adalah penuh makna, positif dan bagus pengaruhnya. Misalnya dengan dikurangi hukumannya, seorang napi akan memberi kemungkinan lebih luas.

Lapas bisa mengurangi jatah makan mereka—atau kegiatan lain, yang artinya memberi kesempatan untuk tidak berlama-lama. Terutama juga belajar memahami mengenai media. Dan bisa diukur. Apakah dalam pengertian mengarang, atau mampu membaca dibandingkan sebelumnya.


Kegitan itu berlangsung tiga hari, dan sampai larut malam dengan segala ekspresi yang ada, yang diinginkan. Ini akan menjadi gerak yang luar biasa mulia, pemberian kesempatan hidup yang lebih baik. Tawaran yang sungguh luar biasa, mulia.


Walau kadang terselip juga kecemasan, kegiatan seperti ini bagus. Ramai, namun kita tak yakin kapan akan ada lanjutan yang berkesinambungan Tagline Maros untuk Indonesia, dia merupakan niatan baik dan benar, dan terlalu sayang dilupakan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment