Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments
Pengelolaan Dana l Likuiditas Perbankan Sempat Ketat di Pertengahan Triwulan II-2018

Likuiditas Perbankan Masih Longgar

Likuiditas Perbankan Masih Longgar

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Penurunan bunga transaksi di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) menandakan likuiditas tidak seret karena permintaan dana dapat dipenuhi oleh pasokan.

 

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menepis anggapan likuiditas perbankan sedang mengetat menyusul data pertumbuhan kredit yang kian agresif, sementara pertumbuhan penarikan simpanan hanya moderat.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, mengklaim likuiditas masih longgar, tecermin dari transaksi di Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Dia mengatakan bunga di PUAB untuk tenor satu bulan telah turun drastis dari 7,1 persen di awal Juli 2018 menjadi 6,5 persen di akhir Juli 2018.

“Penurunan bunga transaksi itu menandakan likuiditas tidak seret karena permintaan likuiditas dapat dipenuhi oleh pasokan. Sehabis Lebaran likuiditas kembali ke kas bank sehingga terjadi penurunan suku bunga antarbank,” ujar dia, di Jakarta, Jumat (27/7).

PUAB merupakan medium transmisi paling sensitif dari penyesuaian suku bunga kebijakan Bank Indonesia atau BI 7-Day Reverse Repo Rate. Jika suku bunga kebijakan dari bank sentral naik, suku bunga di PUAB merupakan medium pertama yang terpengaruhi.

“Ini menunjukkan walau BI naikin suku bunga, tapi likuiditas cukup. PUAB tenor satu bulan turun, tenor lain juga seperti itu,” ujar dia.

Mirza berkilah likuiditas perbankan memang sempat mengetat di pertengahan triwulan II-2018 karena nasabah banyak menarik dana tunai dari perbankan untuk kegiatan konsumsi saat Ramadan dan Lebaran. “Maka BI buka fasilitas untuk likuiditas yakni term repo dan forex (valas) swap,” ujarnya.

Term Repo dan FX (forex) Swap merupakan beberapa instrumen operasi moneter BI untuk mengendalikan likuiditas rupiah dan juga valuta asing (valas). Namun, data kinerja dari laporan harian bank umum (LHBU) perbankan hingga akhir Juli 2018 menunjukkan rasio kredit terhadap pendanaan bank (Loan to Funding Ratio/LFR) berpotensi naik. Pasalnya, pertumbuhan kredit hingga pekan ketiga Juli 2018 kian agresif sebesar 11,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Sementara pertumbuhan simpanan hanya 6,9 persen secara yoy.

Jika merujuk data terakhir BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit yang tinggi dan simpanan yang moderat sudah terjadi sejak Mei 2018. Pertumbuhan DPK tercatat sebesar 6,7 persen (yoy), sedangkan kredit sebesar 10,2 persen (yoy). Pada Juni 2018, menurut data OJK, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 10,75 persen (yoy)dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,99 persen (yoy).

 

Acuan PUAB

Terkait transaksi di pasar uang antarbank (PUAB), Indonesia akan segera memiliki dua acuan, yakni IndONIA untuk tenor sehari dan Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) untuk tenor yang lebih panjang yakni sepekan hingga 12 bulan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah, di Jakarta beberapa waktu lalu mengatakan IndONIA akan menjadi acuan baru yang benar-benar menggambarkan transaksi dan kondisi likuiditas di PUAB untuk tenor overnight saja. IndONIA akan diperkenalkan BI pada akhir Juli 2018.

“Arah ke depannya, yang untuk tenor satu malam hanya akan mengacu ke IndONIA,” kata Nanang.

Setelah diterapkan, IndONIA akan diumumkan setiap hari oleh Bank Indonesia (BI) pada pukul 19.00 WIB. Level bunga IndONIA diambil dari rata-rata transaksi di PUAB yang terjadi pada pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB di hari tersebut. 

 

Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment