Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments

Libur Lebaran: Hiburan Menjanjikan

Libur Lebaran: Hiburan Menjanjikan

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Mudik Lebaran kali ini terkesan nyaman. Kengerian macet yang berkepanjangan—seakan sepanjang jalan itu pula, tak mendominasi kisah lebaran yang telah menjadi klasik.

Pemerintah,dan juga sebenarnya para pemudik, makin menyadari kebersamaanbagaimana menempuh perjalanan, bagaimana beristirahat, dan kapan melalui mana.

Baik mudik, maupun balik mudik—yang memuncak malam ini, atau besok malam.


Saya tidak mudik tahun ini—juga beberapa tahun lalu. Tak ada sesiapa untuk dimudiki. Kedua orang tua—juga mertua, sudah tak ada. Kakak, atau yang dituakan, sudah jadi urbanis di Jakarta.

Tapi kisah mudik yang bergegas sudah sudah hapal bahkan adegan saat-saat naik kereta api, bis malam, atau naik motor berboncengan. Hapal bagaimana antri dalam barisan keluarga untuk “sungkem sujud”, hanya untuk mendengar nasihat lucu :

cepat dapat jodoh, padahal dalam antrian bersama istri, dan anak. Dan sisa lembar terakhir duit rupiah di dompet yang makin lepek.


Masa-masa itu telah terlewati. Kini menikmati kota Jakarta yang ternyata leluasa, lega, ke mana tanpa macet (kalau ada di tempat tertentu, macet biasa bukannya “terkunci”).

Dan nyaris merasakan kegiatan yang menjanjikan. Misalnya ketika saya sekeluarga,istri,anak,menantu,cucu menjajal naik busway.

Selama ini hanya sempat melihat dengan iri, bagaimana busway meninggalkan kendaraan lain, kini kami berada di dalamnya.

Dan benar-benar nyaman, aman, berpendingin, dengan penumpang lain dan kondektur yang ramah, wajah bergembira. Mungkin karena suasana libur, mungkin karena kelegaan yang terbawa. Dan bisa melihat pemandangan yang selama ini tak bisa dilihat melalui kendaraan pribadi:

jalanan bawah tanah yang tengah dikerjakan, jalanan di atas tanah yang tengah dirampungkan, jalan lain yang akan bersambung ke mana dan dari mana.


Bukan hanya bus umum yang makin nyaman dan aman—dan relative murah, melainkan juga kereta api. Commuter line sekarang ini mentakjubkan.

Rapi, bersih dari pengamen dan pedagang dan pengemis, baris-baris tempat duduk teratur—ada yang khusus untuk ibu hamil, lansia, dan atau yang membutuhkan, ada rute yang tertulis, ada suara yang mengatakan berhenti di stasiun mana—dan pengingat pintu yang akan ditutup.

Semua baik dan benar adanya. Dan sekali lagi, bagi saya yang mengalami kereta rel listrik—yang paling modern di tahun 70an, merasakan fasilitas yang dan atau suasana yang tak terbayangkan waktu itu.

Bahkan di stasiun juga ada tempat penitipan tas yang otomatis. Dalam bayangan dan perbandingan, tak berbeda dengan kereta api di luar negeri.

Juga penggunaan tiket e-money, yang tranparan soal bayar membayar. Kisah lucu sindiran kondektur yang ketika naik kereta berat 60 kilogram dan ketika turun menjadi 65 k—karena kantongnya berisi uang receh hasil transaksi dengan penumpang tak berkarcis yang membayar, menjadi masa lalu.


Lebih dari itu, para penumpang Nampak siap dan bisa menikmati kondisi yang suasana nyaman ini.

Artinya tak berusaha mencoreti atau menambahi tulisan, atau berdiri atau duduk di tempat yang dilarang, atau—yang membanggakan adalah peri laku untuk memberi kesempatan penumpang turun lebih dulu, sebelum penumpang baru naik. Tak terjadi perebutan langkah, atau tempat duduk.

Peri laku ini membanggakan, membahagiakan, dan baik bagi semuanya. Kalau ada yang perlu dinyinyiri barang kali ada tanda larangan yang banyak, termasuk dilarang makan buah di dalam, dan dalam contoh digambar buah durian.

Sejak kapan kita harus memusuhi buah durian yang tumbuh, yang enak, yang khas di tanah kita sendiri?
Ah saya ingin meneruskan penikmat liburan, dan menemukan hiburan.

Oase yang menyehatkan, sebelum Senin besok, rutinitas dan kesibukan tak menyisakan jeda dan jenak. Bahagianya menikmati libur saat ini, tak kalah dengan yang mudik

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment