Lembaga Eijkman Pastikan Bisa Deteksi Virus Korona | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 7 2020
No Comments
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, Terkait Peran Lembaga Ini dalam Ikut Mendeteksi Virus Korona

Lembaga Eijkman Pastikan Bisa Deteksi Virus Korona

Lembaga Eijkman Pastikan Bisa Deteksi Virus Korona

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Belum adanya laporan kasus virus Korona di Indonesia membuat dunia internasional heran. Peneliti terkemuka di dunia memprediksi Indonesia seharusnya sudah melaporkan deteksi virus korona. Hal itu disebabkan tingginya intensitas penerbangan ke Tiongkok.

 

Dengan demikian, hal tersebut menimbulkan kekhawatiran sistem kes­ehatan Indonesia belum mampu mendeteksi virus korona. Untuk membahas soal ini, Koran Jakarta mewawancarai Kepala Lem­baga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, di Jakarta, Senin (17/2). Berikut petikannya.

Apakah lembaga Eijkman sudah pernah mendeteksi virus korona?

Sebenarnya, lembaga Eijkman bukan kali ini saja menangani virus korona. Kami sudah melakukan penelitian sejak tiga tahun yang lalu di beberapa daerah, yakni meneliti virus-virus di manusia dan hewan. Salah satunya virus korona. Indonesia sudah punya kemam­puan deteksi virus korona sejak lama. Virus korona kan ada banyak, yaitu 200. Hanya tujuh yang menyerang manusia.

Dengan pendekatan yang sama, jika virus korona ada di Indo­nesia pasti terdeteksi oleh kami. Metode yang digu­nakan untuk pendetek­sian adalah kombinasi Teknik PCR dan sequencing dengan menggunakan gen RNA-dependent RNA Polymerase (RdRP) virus seb­agai penanda identifikasi.

Bagaimana fasilitas laboratorium Eijkman?

Dalam penanga­nan virus korona, Eijkman mem­punyai fasilitas laboratorium tersertifi­kasi untuk menangani patogen risiko tinggi, labora­tori­um Biosafety Level (BSL) 2 dan 3. Untuk mengonfirmasi siklusnya virus, kita memakai bioinforma­tika. Untuk membandingkan virus yang kita kumpulkan dengan yang diperoleh dan dari referensi, itu kita pakai bioinformatika. Dalam mengembangkan vaksin, kita juga memakai bioinformatika, dan dalam bioinformatika itu bagian dari proses biomolekuler.

Apa peran lembaga Eijkman dalam penanganan virus korona?

Tentu kita perannya di dalam dulu. Kita memang dari dulu sudah siap. Kita tidak membawa alat yang baru. Semuanya sudah ada dan yang dipakai itu alat tercanggih di dunia. Untuk peran di luarnya, kita harus pu­nya akses ke sampel. Nah, sampai saat ini kebijakan itu berada di tangan Kementerian Kesehatan dan semua pemeriksaan dilakukan di Litbangkes.

Bagaimana upaya Kemenkes dalam menangani virus korona?

Saat ini upayanya sudah di­lakukan, yaitu Kemenkes sudah punya sistem. Misalnya, sudah ada 100 rumah sakit yang disiapkan di seluruh Indonesia. Kemudian, puskesmas sudah mendapat informasi. Jadi, bila ada kasus yang dicurigai maka akan dilaporkan secara ber­jenjang. Sistemnya sudah berkem­bang dengan baik. Jadi kalau gejalanya ada, pasti akan terdeteksi. Nah, sekarang belum ada yang memenuhi kriteria seperti itu.

Sejauh mana lembaga Eijk­man melakukan pengembangan vaksin korona?

Kami telah melakukan pem­bahasan dengan PT Bio Farma (persero) untuk membuat vaksin virus korona. Tapi, kita baru pem­bahasan awal, karena terkait vaksin kan gampang dibuat jika kita sudah memiliki virusnya. Tapi saat ini kita belum punya virusnya. Jika sudah diperoleh isolat virus korona, kajian antigenisitas dapat dilakukan se­cara langsung dari partikel virus.

Penanganannya?

Pertama, kita merencanakan active surveillance. Jadi, buat mereka yang ada gejala infeksi saluran napas karena virus korona itu kita periksa.

Apa yang dilakukan lembaga Eijkman dalam mencegah virus korona di Indonesia?

Kita baru menjajaki pengem­bangan vaksin. Itu akan memakan waktu yang cukup lama. Tapi, kita tidak berhenti dan akan terus beru­paya. Kalau itu bisa dikembangkan, ke depannya akan sangat baik. gadis saktika/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment