Koran Jakarta | August 18 2017
No Comments

Lawatan Wapres AS Mike Pence

Lawatan Wapres AS Mike Pence

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence memulai lawatannya ke Indonesia dan tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Rabu (19/4) malam. Pence didampingi istrinya Karen Pence dan dua putrinya, Audrey Pence dan Charlotte Pence. Pence disambut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Johan, Duta Besar RI untuk AS Bowo Leksono, serta Dubes AS untuk Indonesia Joseph Donovan.

Pence bertemu Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan meluangkan waktu mengunjungi Masjid Istiglal serta dialog antarumat beragama. Harai Jumat (21/4) ini, Pence bertemu kembali Wakil Presiden Jusuf Kalla sekaligus membuka forum bisnis AS-Indonesia.

Sebelum lawatan ke Indonesia, Pence telah mengunjungi Seoul, Korea Selatan , Minggu ( 16/4) dan Tokyo, Jepang, Selasa ( 18/4). Di Jepang, Pence bertemu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan menghadiri forum ekonomi AS-Jepang. Dari Jepang, Pence bertolak ke Indonesia. Dari Indonesia, Pence melanjutkan perjalanan ke Australia. Hari Sabtu ( 22/4), bertemu Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull dan Menteri Luar Negeri Julia Bishop.

Wakil Presiden AS akan mengakhiri kunjungan Asia Pasifik di Hawaii dengan bertemu pasukan AS dan mengunjungi situs peringatan serangan Jepang ke Pearl Harbor tahun 1941. Ini perjalanan Mike Pence pertama ke wilayah Asia Pasifik.

Apa sesungguhnya agenda utama Pence ke empat negara tersebut? Agenda globalnya tentu untuk menegaskan kembali aliansi AS di Asia-Pasifik dan memperkenalkan kebijakan ekonomi pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump. 

Lalu mengapa Indonesia menjadi salah satu negara yang dikunjungi Pence? Banyak yang menduga, agenda utama ke Indonesia untuk membahas kontrak dan investasi PT Freeport Indonesia. Dugaan semakin menguat ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Johan turut menyambutnya di Halim. 

Namun ternyata tidak bertujuan khusus untuk Freeport. Masih banyak yang dibahas untuk meningkatkan kemitraan kedua negara. Freeport hanya menjadi salah satunya. Apalagi kepentingan AS di Indonesia lebih besar dari sekadar Freeport. Ada urusan pangan, teknologi, obat-obatan dan energi yang nilainya mencapai 14 miliar dollar AS per tahun.

Bagi pihak yang telanjur skeptis dengan kedatangan Pence, ada baiknya menengok ke belakang ketika Presiden Joko Widodo mengunjungi Presiden Barack Obama, Oktober dua tahun lalu. Dalam kunjungan tersebut, dua presiden menyaksikan penandatanganan 12 kesepakatan bisnis di bidang energi, transportasi, dan perluasan pabrik. 

Itu belum termasuk enam kesepakatan bisnis antara lain di bidang energi, konservasi air, dan perbankan syariah. Total nilai kesepakatan bisnis yang dihasilkan dua tahun lalu mencapai 20,075 miliar dollar AS atau setara 273,4 triliun rupiah. 

Karena itu, sangat naif dan kurang strategis bila AS mau mengorbankan yang lebih besar dengan hanya memaksakan kehendak untuk kepentingan Freeport. Fokus kedatangan Pence untuk membicarakan pengaturan perdagangan dan investasi bilateral berdasarkan prinsip win win solution. Apalagi sebelumnya, Presiden Trump menuding Indonesia dan 15 negara lainnya melakukan kecurangan dalam hubungan dagang dengan AS. Indonesia dicap sebagai salah satu negara berkontribusi pada defisit neraca perdagangan AS. Tahun lalu, defisit perdagangan AS-RI mencapai 8,4 miliar dollar AS. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai 15,6 miliar dollar AS. Sedangkan impor hanya 7,2 miliar dollar AS. Artinya, neraca perdagangan Indonesia surplus 8,4 milliar dollar AS. Sementara, neraca dagang dengan mitra dagang besar lainnya yakni Tiongkok, Indonesia defisit 15,6 miliar dollar AS. Dengan Jepang, neraca perdagangan Indonesia hanya surplus 0,3 miliar dollar AS. 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment