Larangan untuk Para Manajer | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Surat untuk bu Rossa

Larangan untuk Para Manajer

Larangan untuk Para Manajer

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pertanyaan:

Bu Rossa, saya baru pindah kantor dan menduduki jabatan baru sebagai manajer. Anak buah saya cukup banyak dengan potensi dan sifat yang sangat beragam. Mohon advisnya Bu, bagaimana menghadapi sekaligus merebut hati anak buah agar kami menjadi tim yang solid.

Jawaban: Walau tidak banyak yang mengakui, sebenarnya tidak sedikit karyawan yang ingin menjadi bos. Paling tidak mereka mengidamkan minimal bisa duduk di level manajer. Karena dengan posisi tersebut mereka sudah bisa dipanggil dengan kata ‘bos’. Tapi jangan dikira jadi bos itu selalu enak. Selain dituntut untuk memiliki keahlian di atas anak buah, Bapak/Ibu pun dituntut mampu mengatur anak buah tanpa terkesan menggurui dan menguasai.

Tentu saja ini tidak mudah. Karena Bapak/Ibu harus bisa menyamakan dan menyatukan persepsi mereka yang sudah pasti berbeda-beda. Kalau tidak tahu triknya bisa-bisa mereka tidak menyukai, bahkan bisa saja membenci Bapak/Ibu yang tentu tidak mau mengalami nasib demikian.

Nah, agar sukses sebagai manajer, ada baiknya menyimak sejumlah larangan di bawah ini: – Jangan menekankan semua anak buah untuk memiliki kemampuan sama. Ingat, mereka memiliki kemampuan berbeda-beda.

Bapak/Ibu juga tidak bisa memaksa mereka untuk sepintar dan semampu Bapak/Ibu. Karena mereka bukanlah perwujudan diri Bapak/Ibu. Sebaliknya Bapak/Ibu harus menghargai perbedaan tersebut dengan memberi tanggung jawab pada mereka, sesuai dengan kapasitas masing-masing. – Jangan memaksa mereka untuk mengerjakan tugas berdasarkan cara-cara Bapak/ Ibu.

Tidak boleh terpaku pada pola sendiri. Berikan mereka kebebasan untuk menyelesaikan tugas sesuai cara mereka. Yang penting hasil akhirnya sesuai dengan harapan dan tujuan bersama. – Jangan memberikan kritik secara pedas jika mereka melakukan kesalahan. Berikan kritik yang membangun dan objektif. Selain itu, berikan mereka semangat dan dukungan agar bisa berkarya lebih baik lagi.

Jika hasil kerja mereka cukup baik, jangan ragu untuk memberikan pujian. Ini menunjukkan bahwa atasan menghargai usaha mereka. – Jangan terlalu sering menyendiri dan menutup pintu di dalam ruangan kerja.

Sikap ini hanya akan membuat anak buah segan dan takut. Lagi pula sikap ini menunjukkan Bapak/Ibu tidak terbuka pada mereka. Meskipun Bapak/Ibu lebih suka berada di dalam ruangan, sering-seringlah melakukan sosialisasi dengan staf dan anak buah. Hal ini selain akan mengakrabkan, juga membuat mereka berani mengungkapkan pendapat.

– Meski memberi kebebasan bagi mereka untuk menyelesaikan tugas, jangan menunggu sampai mereka melaporkan hasilnya. Lakukan pengecekan pada setiap tahapan secara cermat.

Sehingga jika mereka mengalami kesulitan, bisa mendiskusikannya bersama. – Jangan lupa untuk mengingatkan mereka tentang target, prioritas dan tenggat, sehingga mereka lebih bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.

Untuk itu, jangan lupa jalin komunikasi dengan mereka. Ingat, komunikasi penting bagi suksesnya sebuah hubungan, terlebih hubungan kerja. – Jangan sekalipun menilai anak buah dari penampilan luar atau fisik.

Memang, sesuatu yang terlihat bagus secara fisik senantiasa menarik tetapi dalam hal ini Bapak/Ibu harus melihat kompetensi mereka. Dengan mengetahui larangan tersebut, Bapak/Ibu akan memiliki rambu-rambu dalam menghadapi anak buah tanpa kehilangan kewibawaan, sehingga mereka pun akan senantiasa mendukung. Semoga sukses!

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment