Koran Jakarta | April 19 2019
No Comments

Langkah yang Harus Dilakukan saat Banjir

Langkah yang Harus Dilakukan saat Banjir

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Panduan Tanggap Darurat Bencana Banjir

Penulis : Ahmad Fauzi

Penerbit : Esensi

Cetakan : 2018

Tebal : 152 Halaman

ISBN : 978-602-6847-799

Banjir bisa dikatakan sebagai bencana alam yang paling sering melanda dan merugikan. Ironisnya, tak sedikit masyarakat justru menganggap biasa bencana banjir. Ini secara tidak langsung tidak acuh pada proses penanggulangan dan meremehkan dampak jangka panjangnya.

Buku ini menceritakan teknik efektif evakuasi korban bencana banjir untuk meminimalisasi korban. Buku ini juga berisi materi-materi penyelamatan langsung dan tidak langsung yang mudah dipahami untuk bersiaga terhadap ancaman bencana banjir.

Seri Tanggap Darurat Bencana hadir sebagai bahan belajar mandiri pembaca yang ingin membangun keterampilan tindakan-tindakan pencegahan, penyelamatan, dan penanggulangan bencana alam. Ini mencakup tiga seri berdasarkan elemen bencana yang menyertainya. Mereka adalah teknik penyelamatan saat bencana terkait air, api, dan tanah. Buku diharapkan dapat membantu pembaca bertindak tepat dan cepat saat bencana terjadi. Buku juga mengajarkan membangun karakter komunitas warga yang peka dan tanggap terhadap ancaman bencana.

Buku dilengkapi dengan pemahaman hakikat bencana dan penyebabnya secara holistik. Tindakan pencegahan dan penyelamatan saat bencana tidak dapat dilakukan dengan baik jika tidak didukung dengan pemahaman mengenai hakikat bencana itu sendiri. Dengan pembahasan yang ringan, namun mendalam, buku menjabarkan mengenai ketergantungan hidup manusia pada air, penggunaannya, hingga dampak penyalahgunaannya terhadap ketidakseimbangan kondisi lingkungan dan konsekuensi bencana (hal 6).

Ada juga pemahaman saintifik mengenai unsur air terkait kebencanaan. Wawasan yang mendalam juga akan dibentuk buku ini melalui pembahasan mengenai keterkaitan unsur air terhadap penyelamatan bencana. Di dalamnya dibahas mengenai hukum Archimedes yang mempengaruhi daya apung, keterampilan akuatik dasar bagi relawan bencana, hingga teknik-teknik dayung dan renang. Hal ini sepenuhnya didasari dengan keterampilan memanipulasi sifat alami air itu sendiri (hal 36).

Kemudian diuraikan juga materi manajemen tanggap darurat bencana bagi komunitas. Ini sebagai bagian dari sosialisasi pembentukan masyarakat tanggap bencana (disaster resilient community). Ini diharapkan dilakukan pemerintah melalui program-program BNPB. Buku juga membahas mengenai metode-metode manajemen kebencanaan yang terbagi menjadi tiga bagian: prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana. Ketiga materi tersebut diharapkan membentuk warga menjadi lebih terbuka terhadap wawasan kesiapsiagaan untuk bekerja sama sebelum, saat, dan sesudah bencana (hal 22).

Buku pun memuat materi lengkap mengenai teknik-teknik penyelamatan korban banjir. Setiap bab membahas tujuan pencapaian pemahaman agar pembaca dapat mengukur materi yang masih perlu didalami secara mandiri. Antara lain, ini terkait materi pertolongan pertama, penyelamatan korban di air, teknik evakuasi, hingga pencarian korban hilang. Seluruh materi yang tersusun berasal dari modul teknis relawan profesional agar dapat diterapkan secara mudah dan efektif bagi masyarakat umum (hal 82).

Sebagai tambahan, buku juga disertai glosarium (istilah) untuk memperluas wawasan kebencanaan pembaca (hal 124). Secara sederhana, pembaca akan dibina untuk memahami proses manajemen tanggap darurat bencana secara menyeluruh. Ini termasuk keterlibatan relawan melalui instansi terkait maupun masyarakat binaan lembaga pemerintah. Tujuannya agar mampu untuk memvariasikan, mengembangkan, hingga mengimprovisasi berbagai metode yang paling tepat guna sesuai dengan kondisi alam tiap-tuiap wilayah.

Pemahaman ini diharapkan dapat menghindarkan para warga menjadi korban bencana. Jangan lagi ada masyarakat yang apatis yang apatis saat terjadi bencana. Masyarakat semoga saja tidak sekadar menjadi penonton saat muncul musibah balam utamanya banjir. 

Diresensi Arief Kurniawan, Peminat Masalah Kebencanaan

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment