Langkah Paus Fransiskus Merajut Persaudaraan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Langkah Paus Fransiskus Merajut Persaudaraan

Langkah Paus Fransiskus Merajut Persaudaraan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Dokumen tentang Persaudaraan Manusia
Penerjemah : Martin Harun OFM
Penerbit : Obor
Cetakan : Oktober 2019
ISBN : 978–979-565-862-7

Kunjungan Paus Fransiskus ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 4 Februari 2019, merupakan tonggak sejarah dalam dialog antaragama. Bersama Imam Besar al-Azhar, dia telah menandatangani dokumen persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia dan hidup bersama. Dokumen ini merupakan peta jalan berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama.

Dokumen berbicara atas nama Allah yang telah menciptakan semua manusia setara dalam kewajiban, martabat, serta memanggil mereka untuk hidup bersama sebagai saudara. Semua harus menyebarkan nilai-nilai kebaikan cinta dan kedamaian. Manusia tak boleh dibunuh. Yang membunuh seseorang seperti membunuh seluruh umat manusia. Siapa pun yang menyelamatkan seseorang sama seperti menyelamatkan seluruh umat manusia (hlm 5).

Dokumen persaudaraan menyerukan kepada para pemimpin dunia serta para arsitek kebijakan internasional dan ekonomi dunia agar bekerja keras untuk menyebarkan budaya toleransi demi hidup bersama dalam damai. Mereka diharapkan mengadakan intervensi pada kesempatan paling awal untuk menghentikan pertumpahan darah orang yang tidak bersalah, mengakhiri perang, konflik, kerusakan lingkungan, serta kemerosotan moral, dan budaya yang dialami dunia saat ini.

Ia menyerukan kepada para intelektual filsuf, tokoh agama, seniman, pakar media, dan semua pria-wanita berbudaya di setiap bagian dunia untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, dan persaudaraan. Manusia harus hidup berdampingan untuk menegaskan pentingnya nilai-nilai ini sebagai jangkar keselamatan semua umat.

Dokumen tersebut dengan tegas menyatakan agama tidak boleh menghasut seseorang untuk perang, sikap kebencian, permusuhan, ekstremisme, kekerasan, dan pertumpahan darah. Kenyataan tragis terjadi karena orang menyimpang dari ajaran agama. Ia merupakan hasil dari manipulasi politis terhadap agama-agama dan dari interpretasi yang dibuat oleh kelompok-kelompok religius yang dalam perjalanan sejarah telah mengambil manfaat dari sentimen agama.

“Karena itu, kami menyerukan kepada semua pihak agar berhenti menggunakan agama untuk menghasut kepada kebencian, kekerasan, ekstremisme, semua fanatisme buta, dan menahan diri dari menggunakan nama Allah untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan terorisme, dan penindasan,” (hlm 15).

Terorisme menyedihkan dan mengancam keamanan manusia di seluruh dunia. Ia menyebarkan ketakutan, teror, dan pesimisme. Ia bukan disebabkan oleh agama, tapi lebih karena akumulasi interpretasi salah terhadap teks-teks agama dan kebijakan yang berhubungan dengan kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, dan kebanggaan. Terorisme harus dianggap sebagai kejahatan internasional yang mengancam keamanan dan perdamaian dunia. Ia harus dikutuk dalam segala bentuk dan ungkapannya.

Konsep kewarganegaraan penting diprioritaskan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena didasarkan pada kesetaraan hak serta kewajiban, sehingga semua menikmati keadilan. Karena itu, penting untuk menegakkan konsep kewarganegaraan penuh. Kita menolak menggunakan istilah minoritas secara diskriminatif yang menimbulkan perasaan keterasingan dan inferioritas. Penyalahgunaan konsep tersebut membuka jalan bagi permusuhan dan perselisihan.

Dokumen deklarasi menjadi tanda kedekatan antara Timur dan Barat, Utara, dan Selatan, serta semua orang yang percaya bahwa Allah menciptakan manusia untuk saling mengerti, bekerja sama, dan hidup sebagai saudara yang saling mencintai. Buku ini penting menjadi bahan penelitian dan refleksi semua sekolah, universitas, dan institut pendidikan agar membantu mendidik generasi baru membawa kebaikan serta kedamaian bagi orang lain, juga mengantarkan anak muda menjadi pembela hak-hak kaum tertindas. Diresensi Lailatul Qadariyah, Alumni Universitas Trunojoyo Madura

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment