Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Hilirisasi Industri Mesti Diperkuat untuk Pacu Ekspor

Laju Impor Jadi Tantangan Daya Saing

Laju Impor Jadi Tantangan Daya Saing

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - koran jakarta / ones
A   A   A   Pengaturan Font
Diperlukan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha untuk tingkatkan kinerja investasi dan mendorong daya saing nasional.

 

JAKARTA - Indonesia menghadapi sejum­lah tantangan dalam rangka meningkatkan daya saing, antara lain tantangan jangka pen­dek yakni peningkatan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor. Sejumlah kalangan me­ngemukakan untuk meningkatkan daya saing itu, pemerintah mesti serius memangkas im­por dan memacu ekspor, khususnya nonkomo­ditas yang bernilai tambah tinggi.

Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati, menegaskan sebenarnya berbagai pihak sudah mengingatkan pemerintah soal tingginya laju pertumbuhan impor dibandingkan ekspor ter­sebut.

Menurut dia, Indef juga sudah sering meng­ungkapkan bahwa apabila impor bahan baku sebesar 75 persen dari total impor, tetapi eks­por lebih rendah maka perlu dipertanyakan lagi data impor tersebut.

“Berarti ada yang salah. Makanya harus dicek lagi klasifikasi bahan baku tersebut,” kata Enny, di Jakarta, Selasa (8/1).

Sebab, lanjut dia, impor bahan baku biasa­nya akan diolah menjadi barang ekspor mau­pun produk substitusi impor, sehingga seha­rusnya ada perbaikan neraca perdagangan.

“Misalnya, impor bahan baku untuk ekspor, mestinya ekspor lebih tinggi dari impor. Atau bahan baku tidak dieskpor, tapi digunakan un­tuk dalam negeri. Berarti ada substitusi impor, sehingga impor menurun. Kalau impor me­nurun secara agregat tetapi masih defisit, arti­nya pasti ada yang salah ini,” ungkap Enny.

Dia menegaskan kemungkinan terjadi in­konsistensi data klasifikasi barang impor ter­sebut harus disuarakan. Sebab, kalau benar-benar 75 persen impor adalah bahan baku, dan 15 persen lainnya barang modal, maka porsi impor barang konsumsi hanya 10 persen.

“Kalau hanya 10 persen, tren neraca per­dagangan kita mestinya nggak defisit. Itu logi­kanya tadi. Kita impor untuk substitusi impor, tapi anehnya impornya tetap meningkat, dan ekspornya nggak bergerak, ini kan aneh. Ada inkonsistensi data,” kata dia.

Enny menduga ada impor tekstil rasa Black­berry atau Android. Pasalnya, selama ini ka­lau permintaan akhir maka impor dianggap sebagai barang konsumsi. Sedangkan, impor yang dilakukan oleh korporasi dianggap bahan baku. Sementara itu, saat ini yang banyak me­lakukan impor adalah importir umum.

“Importir umum itu kalau dia klasifikasi­kan bahan baku atau barang modal, siapa yang menggaransi ada pengolahan? Beda kalau im­por bahan baku itu hanya boleh dilakukan oleh importir produsen. Artinya, kuota impor atau besarnya impor itu benar-benar sesuai dengan kebutuhan produksi,” jelas dia.

Menurut Enny, untuk meningkatkan daya saing ini, selain mengklasifikasikan lagi data impor, perlu juga dilakukan upaya lain untuk membendung impor. Pemerintah juga perlu menggunakan strategi twin, artinya strategi bertahan dan menyerang.

“Strategi menyerang, satu-satunya cara me­mang harus hilirisasi industri untuk pacu ekspor. Kalau kita hanya ekspor komoditas, pasarnya cuma Tiongkok dan Amerika. Tapi, kalau produk hilirisasi semua negara pasti butuh,” tukas dia.

Dorong Investasi

Sementara itu, Menko Bidang Perekono­mian, Darmin Nasution, di Jakarta, Selasa, memaparkan tantangan untuk meningkatkan daya saing terbagi menjadi dua yakni jangka pendek dan jangka menengah-panjang. Tan­tangan jangka pendek ialah meningkatnya im­por yang lebih cepat dibanding ekspor.

Kemudian, untuk jangka menengah ialah pemenuhan infrastruktur, peningkatan inves­tasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Darmin pun mengingatkan pentingnya sin­ergi antara pemerintah dan dunia usaha untuk meningkatkan kinerja investasi dan mendo­rong daya saing nasional. Tujuannya, agar ke­bijakan pemerintah lebih optimal dan sesuai kebutuhan dunia usaha.

Untuk mendorong potensi investasi, lanjut dia, dalam jangka pendek, pemerintah mulai fokus meningkatkan kualitas sumber daya ma­nusia, salah satunya dengan melakukan pem­benahan menyeluruh dalam sektor pendidikan dan pelatihan vokasi.

Hal ini dapat menciptakan peningkatan ekspor berbasis nonkomoditas bernilai tam­bah tinggi dan industrialisasi produk-produk prioritas berdaya saing global yang mampu meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja baru. ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment