Koran Jakarta | August 23 2017
No Comments
Diaspora Jawa Berkumpul di Yogyakarta

Lahir Hari Kamis Membuatnya Sering Berkelahi

Lahir Hari Kamis Membuatnya Sering Berkelahi

Foto : Koran Jakarta / Eko Sugiarto Putro
Javanese Diaspora III - Jono Muslimin (kanan) diantar saudaranya, Alia Oktia, yang tinggal di Pekanbaru ke Yogyakarta mengikuti Javanese Diaspora III, di Benteng Vredeburg, Rabu (20/4).
A   A   A   Pengaturan Font

Meski lahir di Suriname 61 tahun lalu, ingatan pertama Jono Muslimin mengenai kampung halaman adalah Jawa, bukan Suriname atau Belanda tempat ia puluhan tahun terakhir menghabiskan umurnya. Hal itu terjadi karena ayah-ibunya tak henti-hentinya mendongeng mengenai Jawa, tanah subur yang dihuni oleh semua saudara dan kerabat. Jono ingat, ayah dan ibunya tak jarang juga tak kuasa mengumbar tangis di depannya karena kerinduannya pada tanah Jawa.

“Maka, sejak kecil cita-cita saya cuma satu, bisa membawa orang tua ke Jawa. Saya belajar keras agar dapat kerja bagus dan uang yang cukup untuk mencari keluarga di Jawa,” kata Jono dalam bahasa Jawa ngoko saat berlangsung acara Javanese Diaspora III, di Benteng Vredeburg, Rabu (20/4).

Tahun 1984, Jono berhasil membawa ayahnya ke Jawa Barat untuk menelusur kampung kelahiran dan sanak saudara. Dengan bekal nama dan ingatan akan kampung, misi itu sukses. Tapi sayang, saat mereka ke Jawa Tengah menelusuri kampung Ibu, Jono tidak sukses. Ibunya masih terlalu kecil saat dibawa pergi ke Suriname sehingga ingatannya barangkali dikaburkan oleh kesedihan mendalam kala itu.

Perjalanan ke Yogyakarta kali ini adalah perjalanan Jono yang kedua ke tanah Jawa. Sebelum ke Yogyakarta, Jono mampir di Malang, tempat salah satu kerabat jauhnya. Jono senang luar biasa, karena semua orang, sehari-hari menggunakan bahasa Jawa yang sama dengan dirinya. Kulit dan bau tubuh mereka sama.

“Itu perasaan saya luar biasa, senang sekali. Ini perasaan di rumah yang tak bisa saya rasakan ketika di Suriname maupun di Belanda. Inilah perasaan yang diimpikan orang tua saya sekian lama,” kata Jono.

Misman, yang datang ke acara ini bersama beberapa kerabatnya, mengaku perjalanan ke Jawa selalu menjadi jawaban dari berbagai pertanyaan yang begitu menggelisahkannya. Seperti misteri namanya yang tak terjawab oleh orang tuanya.

“Aku kerep arep gelut mergo jenengku diarteke mis iku salah, man iku lanang, alias wong lanang seng salah (Saya sering akan berkelahi karena namaku diartikan mis itu salah, man itu laki-laki, atau laki-laki yang salah,” kata Misman.

Setelah bertanya pada salah satu pengisi acara, ternyata namanya diambil dari hari kelahiranya, yaitu Kamis dan dari nama ayahnya yang orang Belanda yang bernama Frickerman yang kemudian disingkat Misman. Hal tersebut sangat wajar untuk pemberian nama-nama di Jawa di masa lalu.

Adat yang Terjaga

Lain lagi dengan Djintar Tambunan yang merupakan perwakilan dari Kaledonia Baru. Djintar mengikuti acara ini untuk membalas kunjungan Sri Sultan HB X pada September tahun lalu. Djintar, yang sudah sangat fasih berbahasa Indonesia dan Jawa, merasa sangat terharu dan bangga dikunjungi Sri Sultan HB X yang sampai saat ini masih sangat dihormati orang-orang Jawa dan keturunannya yang hidup di Kaledonia Baru.
“Raja Yogyakarta ini adalah junjungan diaspora Jawa, kami sangat hormat dan cinta kepada beliau. Pada beliaulah, identitas kami senantiasa tertaut bahwa kami adalah bagian dari Kerajaan Jawa yang masih terus eksis sampai sekarang,” kata Djintar.

Djintar merupakan ketua kehormatan perserikatan orang-orang Jawa dan keturunanya di Kaledonia Baru. Menurut dia, masyarakat yang hidup di sana masih menjalankan adat istiadat Jawa sampai saat ini. Dicontohkanya adalah upacara 7 bulanan atau mitoni bagi ibu hamil. Doa 7 hari, 40 hari, 1.000 hari bagi orang yang sudah meninggal, hingga pembuatan nasi berkat dan tumpeng saat hari-hari tertentu. Bahkan, orang keturunan Jawa yang mendapat pasangan dari negara lain pun tetap menjalankan adat istiadat tersebut.

“Yang paling lucu, anak laki-laki kawin dengan perempuan anak kulit putih, pengen mitoni juga meskipun sebenarnya belum menikah atau baru kumpul kebo. Hal tersebut sering dijumpainya mengingat berbagai orang dari berbagai latar belakang adat budaya yang berbeda ada di Kaledonia Baru dan menikah menurut peraturan di sana hanya di atas kertas,” terang Djintar.

Djintar hadir di Yogyakarta dengan membawa sebelas orang lain yang di antaranya merupakan anak-anak muda. Dia berharap dengan mengikuti acara ini, warga keturunan Jawa di Kaledonia Baru akan tetap menjalankan tradisi-tradisi Jawa dan tidak lupa asal usul mereka. Dua tahun mendatang akan berusaha membawa lebih banyak lagi anak muda keturunan Jawa yang ada di sana ke Yogyakarta.

Pada Kamis (20/4) siang kemarin, para peserta berkunjung ke Petilasan Selo Gilang untuk belajar sejarah Jawa secara umum. Petilasan tersebut memiliki hubungan sejarah dengan keberadaan dinasti Mataram Islam. Kunjungan ini sekaligus melengkapi kunjungan pada hari sebelumnya di makam-makam Raja Mataram Islam di Imogiri, Bantul.

Suriname, kisah penipuan Belanda berkedok perekrutan tenaga kerja yang ternyata menelantarkan ribuan orang Jawa di Afrika ini terus melahirkan kisahnya. Anak turun orang Jawa di Suriname terus memegang kejawaannya. Mereka adalah Jawa, bukan yang lain dan tak pernah menjadi yang lain. eko sugiarto putro/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment