Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments

Kunci Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang

Kunci Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Ikigai

Penulis : Hector Garcia & Francesc Miralles

Penerbit : Renebook

Cetakan : 1, Juli 2018

Tebal : 232 halaman

ISBN : 978-602-1201-41-1

Kata Ikigai berasal dari konsep Jepang yang bisa diterjemahkan kira-kira sebagai “berbahagia dengan tetap menyibukkan diri”. Ikigai menjadi salah satu cara menjelaskan rahasia umur panjang orang Jepang. Ini terutama di Pulau Okinawa yang memiliki 2.455 orang berusia di atas 100 tahun untuk setiap 100.000 penduduk. Ini jauh di atas rata-rata global. Ogimi, sebuah kota perdesaan di ujung utara Pulau Okinawa, dengan penduduk tiga ribu ini menawarkan angka harapan hidup tertinggi dunia. Ogimi sampai dijuluki Village of Longevity (Desa Panjang Umur).

Okinawa menjadi tempat sebagian shikuwasa atau citrus rutaceae, sejenis jeruk limau yang mengandung nobiletin 40 kali lebih banyak dari jeruk biasa. Mengonsumsi nobiletin terbukti ampuh menangkal arteriosklerosis, kanker, diabetes tipe 2, dan obesitas. Okinawa juga tempat 200 ribu nyawa terbunuh pada akhir Perang Dunia II.

Alih-alih menumbuhkan permusuhan terhadap orang luar, orang-orang Okinawa justru hidup dengan prinsip ichariba. Paham ini memperlakukan semua orang seperti saudara, juga andai belum pernah bertemu. Selain itu, rahasia kebahagiaan mereka adalah moai, merasa sebagai bagian dari sebuah komunitas.

Salah satu istilah umum adalah hara hachi bu, yang diulang sebelum-sesudah makan. Artinya, isi perut Anda sampai 80 persen. Maksudnya, orang harus berhenti makan saat mulai merasa kenyang. Cara penyajian makanan juga penting. Dengan menyajikan makanan di banyak piring kecil, orang Jepang cenderung makan lebih sedikit (halaman 10).

Di Jepang, orang-orang tetap aktif setelah pensiun. Mereka tidak pernah benar-benar pensiun. Mereka terus melakukan yang disukai selama kesehatan memungkinkan. Mempertahankan pikiran tetap aktif dan mudah beradaptasi juga faktor kunci bertahan hidup. Pikiran muda juga mendorong menuju gaya hidup sehat yang akan memperlambat proses penuaan. Neuron mulai menua saat orang berusia dua puluhan. Proses ini bisa diperlambat dengan aktivitas intelektual, keingintahuan, dan kemauan belajar.

Dewasa ini, orang hidup dengan kecepatan yang menimbulkan kepanikan dan persaingan hampir konstan. Stres merupakan respons alami terhadap informasi yang dibaca tubuh sebagai potensi adanya bahaya atau masalah. Keadaan darurat yang berkelanjutan akan memengaruhi neuron terkait ingatan.

Tidur nyenyak juga merupakan kunci antipenuaan. Saat tidur, kelenjar pineal menghasilkan melatonin dari serotonin neurotransmitter yang tergantung pada irama diurnal dan nocturnal. Hal ini berperan dalam siklus tidur-bangun tubuh. Produksi melatonin menurun setelah usia 30, tetapi orang bisa mengompensasikannya dengan gaya hidup sehat (halaman 29).

Pada dasarnya ikigai mirip logoterapi, tetapi mencapai ke arah lebih jauh. Logoterapi sendiri istilah dari Viktor E Frankl. Artinya, penggunaan teknik untuk menyembuhkan atau meringankan suatu penyakit. Frank menuliskan pengalamannya sebagai tahanan di Auschwitz (kamp konsentrasi Nazi) dalam bukunya Man’s Searching for Ultimate Meaning. Pada dekade yang sama saat logoterapi muncul, di Jepang, Shoma Morita menciptakan terapi yang berpusat pada tujuan yang efektif mengobati neurosis, gangguan obsesif-kompulsif, dan stres pascatrauma.

Satu stereotip tentang orang Jepang, pekerja keras dan berdedikasi. Mereka sering mengerjakan tugas paling sederhana dengan intensitas hampir seperti obsesi. Buku ini juga memaparkan sejumlah rahasia gaya hidup sehat para centenarian, baik dari Jepang maupun dunia. Selain itu, terdapat pula saran olahraga ringan disertai ilustrasi yang dapat diterapkan sebagai upaya menemukan makna hidup. 

Diresensi Arinhi Nursecha, Alumna SMAN 1 Cikarang, Bekasi

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment