Kualitas Hidup Masyarakat Membaik | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
1 Comment
Inklusivitas Sosial - Indeks Pembangunan Manusia pada 2018 Meningkat 0,58 Poin Jadi 71,39

Kualitas Hidup Masyarakat Membaik

Kualitas Hidup Masyarakat Membaik

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Pemerintah harus memastikan seluruh warga mendapatkan layanan kesehatan memadai dan pendidikan tinggi guna meningkatkan kualitas SDM sehingga tercipta pertumbuhan ekonomi berkualitas.

 

JAKARTA – Inklusivitas so­sial dinilai sangat penting un­tuk menciptakan pertumbu­han ekonomi nasional yang berkualitas ke depan sehingga dibutuhkan peningkatan layan­an kesehatan dan mutu pendi­dikan. Sebab, saat ini, sejumlah negara tetangga terus mem­perkuat daya saing sumber daya manusianya (SDM) melalui peningkatan kualitas mereka.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, menyatakan upaya memastikan seluruh war­ga mendapatkan layanan kese­hatan memadai dan pendidikan tinggi penting untuk mendapat­kan pertumbuhan ekonomi na­sional berkualitas.

“Pertumbuhan ekonomi berkualitas, salah satu kuncin­ya adalah memikirkan inklusi­vitas sosial,” kata Suhariyanto, di Jakarta, Senin (15/4).

Menurut dia, inklusivitas sosial adalah dengan mem­berikan kesempatan seluas-luasnya kepada berbagai ka­langan masyarakat terutama rakyat kecil di pedesaan dan daerah-daerah termarjinal­kan untuk mengecap pendi­dikan setinggi-tingginya dan mendapatkan layanan kes­ehatan yang memadai.

Secara terpisah, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (IN­DEF), Berly Martawardaya, menilai untuk menjaga kes­tabilan ekonomi dibutuhkan sektor berkelanjutan, seperti manufaktur yang menjadi motor pertumbuhan di Asia Timur. Sayangnya, Indonesia masih terkendala pada kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk bisa meningkatkan in­dustri manufaktur. Sementara Vietnam dan Filipina mulai menyusul ekonomi Indonesia dengan mengembangkan in­dustri manufaktur yang berori­entasi pada keahlian SDM.

“Kita sudah tidak bisa adu murah. Negara lain rela mem­bayar lebih mahal kalau kuali­tasnya lebih baik,” katanya.

Karena itu, Berly menekan­kan perlunya mendorong daya saing sektor manufaktur Indo­nesia yang dinilainya masih akan menjadi pendukung utama ekonomi Indonesia ke depan.

Terkait perbaikan kualitas SDM, BPS mencatat pemba­ngunan manusia di Indonesia terus membaik dengan ditan­dai peningkatan Indeks Pem­bangunan Manusia (IPM) pada 2018 sebesar 0,58 poin dari tahun sebelumnya menjadi 71,39. “IPM 2018 mengalami kenaikan karena dari seluruh komponennya mengalami pen­ingkatan,” kata Suhariyanto.

Sebagaimana diketahui, IPM itu memperhatikan tiga aspek esensial yaitu dimensi kesehat­an umur panjang dan hidup se­hat, dimensi pengetahuan, serta dimensi standar hidup layak.

Perbaikan Status

BPS menambahkan sudah tidak ada lagi provinsi di Indo­nesia yang memiliki status IPM yang rendah, karena Papua su­dah meningkat statusnya ke se­dang. Kemajuan pembangunan manusia di Papua didorong oleh dimensi pendidikan, di Papua Barat didorong oleh dimensi standar hidup layak, sedangkan di Sulawesi Barat lebih disebab­kan perbaikan dimensi pendidi­kan dan standar hidup layak.

Sementara itu, di Jawa Barat (Jabar), IPM pada 2018 tercatat 71,30, meningkat 0,61 poin di­bandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 70,69. BPS Jabar menyatakan kenaikan IPM menunjukkan peningka­tan kualitas hidup manusia se­tiap tahunnya.

“Peningkatan IPM pada 2018 ditopang oleh mening­katnya komponen pembentuk IPM,” jelas Kepala BPS Jabar, Doddy Herlando di Bandung. tgh/Ant/E-10

Klik untuk print artikel

View Comments

rifky
Kamis 12/9/2019 | 19:42
konten yang bagus, di website kampus saya juga memberikan berita tentang Lingkungan ’Therapeutic’ dan Pengaruh Kualitas Hidup ’Post Power Syndrome’ di Magetan, saya punya tautan untuk referensi Anda atau kunjungi di bawah
http://news.unair.ac.id/2018/07/15/lingkungan-therapeutic-dan-pengaruh-kualitas-hidup-post-power-syndrome-di-magetan/

Submit a Comment