Koran Jakarta | June 24 2019
No Comments
Inklusivitas Sosial - Indeks Pembangunan Manusia pada 2018 Meningkat 0,58 Poin Jadi 71,39

Kualitas Hidup Masyarakat Membaik

Kualitas Hidup Masyarakat Membaik

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Pemerintah harus memastikan seluruh warga mendapatkan layanan kesehatan memadai dan pendidikan tinggi guna meningkatkan kualitas SDM sehingga tercipta pertumbuhan ekonomi berkualitas.

 

JAKARTA – Inklusivitas so­sial dinilai sangat penting un­tuk menciptakan pertumbu­han ekonomi nasional yang berkualitas ke depan sehingga dibutuhkan peningkatan layan­an kesehatan dan mutu pendi­dikan. Sebab, saat ini, sejumlah negara tetangga terus mem­perkuat daya saing sumber daya manusianya (SDM) melalui peningkatan kualitas mereka.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, menyatakan upaya memastikan seluruh war­ga mendapatkan layanan kese­hatan memadai dan pendidikan tinggi penting untuk mendapat­kan pertumbuhan ekonomi na­sional berkualitas.

“Pertumbuhan ekonomi berkualitas, salah satu kuncin­ya adalah memikirkan inklusi­vitas sosial,” kata Suhariyanto, di Jakarta, Senin (15/4).

Menurut dia, inklusivitas sosial adalah dengan mem­berikan kesempatan seluas-luasnya kepada berbagai ka­langan masyarakat terutama rakyat kecil di pedesaan dan daerah-daerah termarjinal­kan untuk mengecap pendi­dikan setinggi-tingginya dan mendapatkan layanan kes­ehatan yang memadai.

Secara terpisah, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (IN­DEF), Berly Martawardaya, menilai untuk menjaga kes­tabilan ekonomi dibutuhkan sektor berkelanjutan, seperti manufaktur yang menjadi motor pertumbuhan di Asia Timur. Sayangnya, Indonesia masih terkendala pada kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk bisa meningkatkan in­dustri manufaktur. Sementara Vietnam dan Filipina mulai menyusul ekonomi Indonesia dengan mengembangkan in­dustri manufaktur yang berori­entasi pada keahlian SDM.

“Kita sudah tidak bisa adu murah. Negara lain rela mem­bayar lebih mahal kalau kuali­tasnya lebih baik,” katanya.

Karena itu, Berly menekan­kan perlunya mendorong daya saing sektor manufaktur Indo­nesia yang dinilainya masih akan menjadi pendukung utama ekonomi Indonesia ke depan.

Terkait perbaikan kualitas SDM, BPS mencatat pemba­ngunan manusia di Indonesia terus membaik dengan ditan­dai peningkatan Indeks Pem­bangunan Manusia (IPM) pada 2018 sebesar 0,58 poin dari tahun sebelumnya menjadi 71,39. “IPM 2018 mengalami kenaikan karena dari seluruh komponennya mengalami pen­ingkatan,” kata Suhariyanto.

Sebagaimana diketahui, IPM itu memperhatikan tiga aspek esensial yaitu dimensi kesehat­an umur panjang dan hidup se­hat, dimensi pengetahuan, serta dimensi standar hidup layak.

Perbaikan Status

BPS menambahkan sudah tidak ada lagi provinsi di Indo­nesia yang memiliki status IPM yang rendah, karena Papua su­dah meningkat statusnya ke se­dang. Kemajuan pembangunan manusia di Papua didorong oleh dimensi pendidikan, di Papua Barat didorong oleh dimensi standar hidup layak, sedangkan di Sulawesi Barat lebih disebab­kan perbaikan dimensi pendidi­kan dan standar hidup layak.

Sementara itu, di Jawa Barat (Jabar), IPM pada 2018 tercatat 71,30, meningkat 0,61 poin di­bandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 70,69. BPS Jabar menyatakan kenaikan IPM menunjukkan peningka­tan kualitas hidup manusia se­tiap tahunnya.

“Peningkatan IPM pada 2018 ditopang oleh mening­katnya komponen pembentuk IPM,” jelas Kepala BPS Jabar, Doddy Herlando di Bandung. tgh/Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment