Krisis Mental Anak-anak Jepang | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Krisis Mental Anak-anak Jepang

Krisis Mental Anak-anak Jepang

Foto : Istimewa
Ilustrasi. Logo Unicef.
A   A   A   Pengaturan Font
Dari penelitian Unicef ini, krisis kesehatan mental ternyata dapat menyerang siapa saja tanpa melihat kelompok sosial.

Organisasi Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Children’s Fund (Unicef) dalam laporannya berjudul Dunia yang Berpengaruh: Memahami Apa yang Membentuk Kesejahteraan Anak di Negara Kaya, menemukan fakta bahwa anak-anak Jepang mengalami krisis kesehatan mental terburuk kedua setelah Selandia Baru di antara 38 negara maju lain.

Fakta itu didasarkan atas hasil penelitian Unicef di negara anggota Uni Eropa (UE) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Mereka menemukan anak-anak di negara maju rentan mengalami stres.

Temuan Unicef itu tentu mengejutkan banyak pihak. Ternyata, kondisi lingkungan, ekonomi, dan sosial yang bagus tidak menjamin kesehatan mental anak. Faktanya, banyak anak-anak di negara maju yang mengalami depresi. Banyak dari mereka memiliki tingkat kebahagiaan rendah dan perlu mendapatkan perhatian khusus.

Menurut laporan Unicef itu, hanya 12 dari 41 negara maju yang memiliki lingkungan bagus. Sebesar 75 persen anak-anak berusia 15 tahun di negara tersebut mengaku puas, sedangkan kebanyakan anak-anak di 29 negara mengaku mengalami depresi.

Sejauh ini, tidak ada data lengkap yang dapat digunakan untuk melakukan komparasi dalam menentukan kesehatan mental anak-anak di negara maju. Namun, menurut Unicef, angka bunuh diri anak-anak berusia 15–19 tahun di negara maju masih tinggi dan itu membuktikan kesehatan mental mereka sangat rawan.

Selain itu, kesehatan fisik anak-anak di negara maju memprihatinkan. Satu dari 15 bayi di negara maju terlahir dengan berat badan buruk. Adapun di 10 negara maju, 1 dari 3 anak-anak berusia 5–19 tahun mengalami obesitas. Angka anak-anak obesitas diperkirakan naik dari 158 juta menjadi 250 juta pada 2030.

Buruknya kesehatan mental anak-anak di negara maju merupakan dampak dari buruknya hubungan anak-anak dengan orang tua. Anak-anak yang dibesarkan di keluarga harmonis memiliki kesehatan mental lebih baik bila dibandingkan dengan mereka yang ditekan, diabaikan, atau dididik melalui sikap yang buruk.

Bagi anak-anak, bermain merupakan aktivitas yang membuat mereka bahagia. Ironisnya, anak-anak yang stres akibat ketidakharmonisan keluarga dan bullying tidak dapat menikmati fasilitas bermain di lingkungan sekitar. Mereka lebih senang bermain gawai dan melarikan diri ke dunia maya.

Tuntutan hidup anak-anak di negara maju juga tinggi. Sayangnya, tidak semua anak di negara maju terlahir dari keluarga kaya raya, sedangkan tekanan terhadap mereka untuk dapat sukses sangatlah tinggi. “Sebanyak 1 dari 5 anak-anak di negara maju sebenarnya hidup dalam kemiskinan.

Penderitaan yang dialami anak-anak tidak terlepas dari sistem kerja yang mengikat orang tua. Sebagian besar orang tua di negara maju yang menjadi karyawan tidak memiliki waktu dan tenaga untuk memerhatikan anak mereka. Bahkan, mereka sendiri mengaku mengalami stres akibat pekerjaan yang menumpuk.

Berdasarkan laporan Mental Health Network, masyarakat di negara maju pada umumnya mengalami krisis kesehatan mental. Sebanyak 19 persen orang dewasa di Inggris saja didiagnosis mengalami depresi per tahun, sedangkan 1 dari 4 orang dewasa mengalami depresi hampir per bulan. Penyakit itu diyakini menular kepada anak-anak.

Meski tidak memiliki bukti, sebagian orang menganggap penyakit mental dan depresi merupakan permasalahan kelas menengah ke bawah. Namun, kenyataannya, dari penelitian Unicef ini, krisis kesehatan mental juga dapat menyerang siapa saja tanpa melihat kelompok sosial. Bahkan setiap orang memiliki permasalahan sendiri.

Depresi adalah gangguan mental yang memiliki gejala seperti kebosanan, kehilangan semangat atau kehilangan kesenangan, berkurangnya energi meski telah istirahat, perasaan bersalah atau tak lagi merasa berharga, gangguan pola tidur dan makan, rendahnya konsentrasi.

Kerap kali depresi juga disertai oleh gejala kecemasan ­yang akut. Jika ini tidak diatasi maka akan berpengaruh terhadap kemampuan manusia untuk hidup normal dan melakukan kegiatan sehari-hari. Pada tataran yang kronis, depresi bisa berujung pada bunuh diri. Itulah yang banyak dialami oleh anak-anak di negara maju sepeti Jepang. ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment