Koran Jakarta | December 15 2018
No Comments
Keuangan Global - Rupiah Terus Melemah Makin Dekati Rp15.000 Per Dollar AS

Krisis Mata Uang Bakal Menjalar ke Krisis Utang

Krisis Mata Uang Bakal Menjalar ke Krisis Utang

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

>>Saat ini sejumlah mata uang emerging market, termasuk rupiah, berada di wilayah krisis.

>>Utang negara berkembang termasuk Tiongkok mencapai 63 triliun dollar AS pada 2017.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan mengemukakan krisis mata uang yang melanda emerging markets, termasuk Indonesia, belakangan ini dikhawatirkan bakal menjalar ke krisis utang terutama utang swasta atau korporasi.

Sebab, saat ini utang korporasi di negara berkembang secara signifikan telah melebihi tingkat utang sebelum krisis keuangan global 2008.

Sementara itu, nilai tukar rupiah kembali melemah mendekati level psikologis baru di tingkat 15 ribu rupiah per dollar AS. Pada perdagangan di pasar spot, Selasa (4/9), mata uang RI itu terpangkas 120 poin atau 0,81 persen menjadi 14.935 rupiah per dollar AS.

Dengan demikian, rupiah telah melemah pada enam hari perdagangan berturut-turut dan mencapai level yang belum pernah terlihat sejak krisis 1998 silam. Sepanjang tahun ini, rupiah terdepresiasi sebesar 10,18 persen.

Ekonom Universitas Islam Indonesia, Suharto, mengatakan depresiasi rupiah akan menjadi pemicu krisis yang lebih besar jika pemerintah tidak mengambil sikap cepat terutama mengantisipasi potensi gagal bayar utang swasta.

“Dalam posisi defisit neraca perdagangan, korporasi Indonesia yang banyak menyerap utang dalam dollar tak menghasilkan dollar karena pasarnya di dalam negeri.

Dan, bisnis berorientasi ekspor, hasil dollarnya banyak yang tidak dibawa masuk ke dalam negeri,” papar dia, saat dihubungi, Selasa.

Menurut Suharto, krisis utang menjadi perhatian semua ekonom dunia, mengikuti fenomena menguatnya dollar terhadap mayoritas mata uang emerging markets.

Sebab, negara berkembang dengan devisa bebas seperti Indonesia, belum teruji memiliki mekanisme kuat untuk mengantisipasi banjir keluar (capital outflow) dana asing.

“Saat AS krisis 2008, banjir uang murah mengalir ke sini melalui program quantitative easing. Sekarang terjadi capital outflow.

Persoalannya, swasta yang menyerap utang luar negeri sekitar 176 miliar dollar AS mesti menghadapi kenyataan, utang mereka bengkak akibat pelemahan rupiah.

Ini yang berbahaya, kita menanti apa yang akan dilakukan pemerintah,” kata Suharto. Sementara itu, laman South China Morning Post (SCMP) dalam satu artikelnya, kemarin, menyebutkan saat ini sejumlah mata uang emerging market berada dalam wilayah krisis.

Tak cuma peso Argentina dan lira Turki tapi juga rupiah. Begitu pula renminbi Tiongkok dalam tekanan pelemahan. Guncangan mata uang ini terutama berkat dampak ikutan dari kebijakan perang dagang yang dikobarkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melawan Tiongkok dan negara lain.

Dampak tersebut dinilai turut mempengaruhi sentimen pasar. Selain itu, juga akibat tren kenaikan suku bunga Bank Sentral AS yang mendorong investor global memburu keuntungan bukan di emerging market tapi dalam investasi dollar.

Hal yang dikhawatirkan dari situasi ini adalah munculnya krisis mata uang baru yang juga memicu krisis utang, terutama di Asia dan emerging markets lain, khususnya pada sektor korporasi.

Beban utang dalam dollar atau valuta asing lainnya menjadi lebih tinggi nilainya dalam mata uang lokal yang mulai terpuruk. Menurut CNBC, melaporkan, pasar negara berkembang terguncang hebat oleh beban utang dan kurs dollar yang terus menguat.

Ini membuat mereka kesulitan untuk membayar utang. Data terbaru dari Institute of International Finance (IIF) menunjukkan, utang di pasar negara berkembang termasuk Tiongkok meningkat dari 9 triliun dollar AS pada 2002 menjadi 21 triliun dollar AS pada 2007, dan naik lagi menjadi 63 triliun dollar AS pada 2017.

Beban Pemerintah

Terkait utang pemerintah, Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati, mengatakan pelemahan rupiah bakal menambah beban pemerintah dalam membayar utang luar negeri.

Menurut dia, jika dalam asumsi makro APBN 2018 nilai tukar rupiah diasumsikan hanya 13.500 rupiah per dollar AS maka saat ini nilainya sudah meningkat tajam.

Otomatis pembayaran bunga dan cicilan utang dipastikan meningkat walaupun dalam nilai dollar yang sama. Meski begitu, tukas Enny, yang mengherankan pemerintah selalu mengklaim kondisinya sehat-sehat saja.

“Dan, ini hanya dibebankan ke instrumen Bank Indonesia. Bagaimana BI mau intervensi kalau cadangan devisa cuma 110 miliar dollar AS, dan itu berisiko,” tutur dia. SB/YK/ahm/WP

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment