Koran Jakarta | August 23 2019
No Comments

Krisis Air Mengadang

Krisis Air Mengadang
A   A   A   Pengaturan Font

World Resources Institute (WRI), sebuah lembaga riset yang berkantor di Washington DC, Amerika Serikat, melaporkan penduduk di 400 wilayah dunia hidup dalam kekurangan air yang ekstrem. Kelang­kaan air ini dikhawatirkan akan membuat jutaan orang terpaksa mengungsi dan menjadi faktor penyebab konflik dan ketidakstabilan politik.

Data itu dibuat oleh WRI di platform Aqueduct 3.0 yang menganalisis beberapa model hidrologis dan menghitung air yang diambil dari sumber-sumber permukaan dan ba­wah tanah di tiap wilayah disbanding keseluruhan air yang tersedia. Ketika rasio air yang diambil mencapai 80 persen dari total, maka daerah itu digolongkan “tekanan air eks­trem”. Sedangkan kategori di bawah itu “tekanan air tinggi” dengan rasio 40–80 persen.

WRI mengukur “tekanan air” berdasarkan banyak air yang diambil dari tanah dan permukaan dari keseluruhan yang tersedia. Hasil temuan, beberapa kawasan seperti Meksiko, Cile, Afrika, Eropa selatan dan kawasan Laut Tengah, tekanan ketersediaan air mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Maka, WRI memprediksi sepertiga penduduk dunia, 2,6 miliar jiwa, hidup di negara dengan keadaan “tekanan ke­tersediaan air tinggi”. Dari jumlah itu, sebanyak 1,7 miliar orang di 17 negara hidup dalam “tekanan air ekstrem”.

Negara-negara di kawasan kering Timur Tengah paling tinggi “tekanan ketersediaan air”-nya. Sementara itu, India menghadapi keadaan kritis dalam penggunaan dan penge­lolaan air yang bisa berdampak pada kesehatan maupun pembangunan ekonomi mereka. Pakistan, Eritrea, Turk­menistan, dan Botswana juga dianggap dalam keadaan te­kanan ketersediaan air yang ekstrem.

Indonesia sendiri berada di peringkat ke-65 dalam kate­gori masalah air sedang. Tergabung bersama Indonesia di kelompok ini antara lain Thailand (peringkat ke-45 terburuk), Bulgaria (54), Tiongkok (56), Prancis (59), Jerman (62), Denmark (64), dan Venezuela (67). Semen­tara itu ada 32 negara dengan status masalah air sedang-ringan, antara lain Korea Utara (69), Amerika Serikat (71), Sri Lanka (77), Filipina (83), Argentina (92), Rusia (94), dan Somalia (100).

Namun, meski negara-ne­gara tersebut tidak memiliki masalah air yang tak terlalu parah, beberapa wilayah ma­sih mengalami krisis. Seka­lipun berada dalam kategori masalah air sedang, sejum­lah penelitian sebelumnya mengungkapkan Indonesia terancam kehabisan air. Pada­hal, Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam sumber daya air karena menyimpan 6 persen potensi air dunia.

Namun, kajian resmi memprediksi Jawa bakal kehilang­an hampir seluruh sumber air bersih tahun 2040. Ini salah satu alasan di balik wacana pemindahan ibu kota, 150 juta penduduk di pulau terpadat Indonesia akan kekurangan air, bahkan untuk sekadar makan atau minum.

Artinya, krisis air terjadi saat kebutuhan atas sumber daya ini lebih tinggi dari ketersediaannya. Persoalannya di Jawa, air selalu dipersepsikan sebagai sumber daya terbar­ukan karena Indonesia mengalami musim hujan setiap ta­hun. Padahal, curah hujan Jawa tidak pernah bertambah, bahkan cenderung menurun dalam beberapa tahun terak­hir. Ancaman krisis air di Jawa bisa semakin nyata. Alasan­nya, perubahan iklim itu diperparah faktor antropogenik, yaitu pengambilan air secara besar-besaran untuk rumah tangga dan industri maupun alih fungsi lahan.

Sekalipun pemerintah mengklaim proyek bendung­an serta revitalisasi waduk dan danau yang terus berjalan dapat mencegah krisis air, namun upaya itu belum cukup membendung bencana yang bakal datang. Mesti diakui, potensi krisis air terjadi akibat peran masyarakat dalam si­lang sengkarut keterbatasan sumber air dan distribusi air bersih yang tidak merata. Di sinilah pentingnya program pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan kebutuh­an mendasar rakyat, yakni menjaga stabilitas air.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment